
"Nga-ngapain ka-kamu ada di sini, hahh? Bu-bukannya kamu sudah punya kamar sendiri!" pekik Ernest, menatap tajam ke arah Justin yang masih dalam keadaan bingung.
"E-emangna Ustin ndak boyeh ke cini agi? Tan biacana kita bobo baleng, teyus enapa Edi mayah-mayah?" tanya Justin.
"Lebih baik, sekarang juga kamu keluar dari kamar saya!" titah Ernest, sedikit menekankan kata-katanya.
"Ndak, au. Ustin ndak au kelual! Ustin au di cini cama Edi, cambil unggu Omi celecai andi," jawab Justin, mengembungkan kedua pipinya sambil melipat tangan di dada.
"Kau itu belum sehat, jadi enggak usah cari perkara! Lebih baik, sekarang kau keluar dari sini, atau aku yang akan menyeretmu keluar!" seru Ernest, memberikan sebuah ancaman agar Justin bisa segera keluar dari kamarnya.
Justin yang tadinya ingin berpura-pura marah pada Ernest, kini tidak jadi lantaran mendengar kata-kata Ernest yang sangat menakutkan.
"E-edi agi mayah cama Ustin, ya? Ustin asti calah, aapin Ustin ya Edi. Ustin celalu bikin Edi mayah-mayah, api Ustin anji. Ustin atan jadi anak Edi yang aling aik cedunia!"
Justin berbicara sambil memperagakan kedua tangannya saat mengatakan, bahwa dia akan menjadi anak Ernest yang paling terbaik.
Namun, nyatanya. Tanpa di sangka-sangka Ernest malah menangkis semua perkataan Justin dalam keadaan membentaknya.
"Sampai kapanpun kau itu tidak akan pernah menjadi anakku! Dan yang pantas kau panggil Daddy itu bukan aku, melainkan Felix! Ya, dialah Ayah kandungmu yang sebenarnya. Bukan aku!"
Teriakan suara Ernest bergema di dalam kamarnya, membuat Moana yang baru saja selesai memakai bajunya langsung terkejut bukan main.
Sama halnya dengan Justin. Dia terdiam mematung, karena tidak mengerti sama apa yang di katakan oleh Ernest. Yang Justin ketahui, Ayahnya itu Ernest bukanlah Felix, seperti apa yang di katakannya.
"Ndak! Edi Ustin, Edi Enes. Utan Aman Eli!" sahut Justin, menatap tajam ke arah Ernest.
"Kau bukan da*rah dagingku! Jadi, jangan pernah mengaku-ngaku kalau kau adalah anakku. Karena, sampai kapan pun kau adalah anak Fe---"
__ADS_1
"Ernest, hentikan semua ucapanmu! Anakku masih sangat kecil dan belum tahu apa-apa. Jadi, jangan kau berikan anakku kenyataan yang tidak seharusnya dia ketahui saat ini!"
Teriakan Ernest langsung terhenti ketika di balas oleh Moana yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut masih terlilit handuk kecil.
Tatapan tajam dari Moana membuat Ernest pun ikut menatapnya. Mereka saling beradu pandang satu sama lain, dengan arti tertentu.
"Kenapa, hahh? Kenapa dia tidak boleh tahu sekarang?Toh, itu demi kebaikan anakmu supaya tahu siapa Ayah kandungnya yang sebenarnya!"
"Cukup, Ernest! Sekali lagi kau mengatakan itu pada anakku, maka jagan salahkan aku apa bila kau melilat sisi lain dari diriku!"
Ancaman Moana kali ini benar-benar tidak main-main. Tatapannya penuh dengan keseriusan, ini yang pertama kali bagi Ernest bisa melihat Moana memberikan reaksi tidak seperti biasanya.
Mata Justin terus melirik ke arah kedua orang tuanya secara bergantian. Dia masih tidak mengerti apa yang sedang mereka debatkan, tetapi melihat orang tuanya bertengkar seperti ini malah membuatnya sangat takut.
Justin menangis sesegukan, lantaran dia tidak tahu bagaimana cara membuat kedua orang tuanya kembali akur seperti sediakala.
"Ustin ndak au dadi anak Aman Eli, potokna Ustin au dadi analak Edi, itik!" teriak Justin, dia langsun turun dari ranjang dan berlari kencang ke arah kamarnya sendiri.
*Jika terjadi sesuatu dengan Justin, aku tidak akan pernahn memaafkanmu sampai kapan pun. Ingat, itu!" ancam Moana lalu dia pergi berlari menyusul anaknya.
Sesampainya di dalam kamar, Justin menangis dalam keadaan sesegukkan di atas kasurnya sambil memegangi kepalanya.
"Ndak! Ustin utan anak Aman Eli, api Ustin anak Edi! Otokna anak Edi Enest, itik! Arrrghhh ...."
Justin berteriak di sela tangisnya, tangan Justin terus mencekram kuat kepalanya yang terasa menyakitkan dan juga menyiksanya. Perban putih yang melilit di kepalanya pun tiba-tiba saja merembes cairan merah. Artinya luka jahitan pasca operasi belum sepenuhnya kering, tetapi jeritan Justin berhasil terdengar ke penjuru rumah.
Elis yang sedang menyiapkan makan pagi pun menjadi terkejut, dia langsung berlari ke arah kamar cucunya dan tidak lupa. Sakha pun yang baru selesai mandi segera berlari mendekatin cucunya.
__ADS_1
Saat Elice dan Sakha sampai di dalam kamar Justin, mereka melihat Moana sedang memeluk anaknya yang mencoba untuk memberontak untuk melepaskan diri.
"Tenang, Sayang. Tenang! Sampai kapan pun Justin tetap akan jadi anak Mommy selamanya! Jadi, jangan dengarkan perkataan Daddymu. Otaknya lagi benar-benar sakit, sehingga perkataannya menjadi tidak benar!"
"Ustin utan anak Aman Eli! Ustin anak Edi, api tenapa Edi mayah biyang begitu? Apa Edi udah ndak au unya anak aya Ustin yang akal ini?" ucap Justin, menerka-nerka di saat pikirannya mulai tidak karuan.
Moana tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya memeluk Justin untuk mencoba menenangkannya dan menahan tangan Justin agar tidak menyakiti kepalanya sendiri.
Elice melihat keadaan Justin, langsung berlari dan mencoba untuk mendekati cucunya yang terus menangis.
Justin melihat Omanya datang segera melepaskan pelukan Moana dan beralih ke pelukan Elice. Dia langsung menceritakan semuanya ketika Elice terus menanyakan ada apa dengan dirinya.
Setelah mendengar semua cerita itu, Sakha yang berdiri di dekat merekan tanpa dia sadari tangannya mulai mengepal kuat ketika anaknya bisa mengatakan hal seperti itu dalam posisi Justin masih belum bisa mengerti semuanya.
"Cupcupcup, cucu Oma jangan nangis lagi ya. Biarin aja Daddymu mau berbicara apa, anggap saja Daddymu itu sedang gila. Maklum, dia itu baru bangun tidur jadi otaknya masih ketinggalan di mimpinya. Jadi, Justin tidak boleh sedih lagi ya. Sampai kapanpun Justin tetap akan menjadi cucu kesayangan, Oma. Ingat itu!"
"Api, Oma. Edi biyang itu teyus-teyusan. Edi uga belantem cama Omi gala-gala Ustin. Emangna anak andung itu apa Oma? Tenapa Edi biyang Ustin ini anak Aman Eli? Ustin tan anak Edi, Oma. Anak Edi, hiks ...."
"Ustin ndak au dadi anak Aman Eli, Ustin auna dadi anak Edi aja cama Omi. Otokna, Aman Eli itu Aman Ustin, utan Edi Ustin. Ustin ndak au unya Edi aya Aman Eli, ndak au, ndak au, ndak au!"
Teriakan Justin bergema di telinga semuanya yang ada di sana, mereka tidak menyangka kalau Ernest bisa melakukan ini pada anaknya.
Ya, walaupun Justin bukan anak kandungnya. Akan tetapi, jika Ernest memiliki pikiran dia akan menahan semua itu sampai waktunya tiba. Bukan, malah memberitahu Justin yang masih belum mengerti semuanya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung