
"Ohya, apa kalian sudah menyiapkan nama? Coba Bunda mau dengar siapa namanya, jika tidak bagus. Bunda sama Ayah udah menyiapkan satu nama untuk cucu kami."
"Punyalah, enak aja. Lagi pula ini anak Ernest, bukan anak Bunda sama Ayah. Ngerti!"
"Baguslah, kalau kamu sudah sadar. Jadi cepat katakan sama Bunda dan Ayah. Siapa nama cucu pertama kita?"
"Justin!"
"Johanes!"
2 nama yang terdengar berbeda keluar dari mulut Ernest dan juga Moana. Terlihat bila mereka tidak kompak saat memberikan nama kepada anak pertamanya.
Ya, jelas tidak kompak. Karena mereka memilih nama sesuai dengan kesenangan sendiri. Bukan dari mereka menyatukan satu pendapat yang sempurna.
Elice dan Sakha menjadi bingung. Nama mana yang harus mereka terima, lantaran 2 nama itu mengalami perselisihan diatara suami-istri yang terbilang cukup aneh.
"Kenapa kamu ngikut-ngikut kasih nama? Harusnya aku yang memberikan nama, dia itu anakku!"
"Loh, dia juga anakku. Jadi, aku pun berhak atas dirinya. Apa lagi di sini aku yang mengandung dia selama 9 bulan, dan aku juga yang baru saja melahirkannya. Sehingga aku punya peran banyak atas kehidupannya!"
"Enggk bisa begitu, pokoknya aku mau namanya Justin. Titik!"
"Aku mau Johanes, enggak ada tawar-menawar. Itu udah harga ma*ti!"
"Justin!"
"Johanes!"
"Justin Raymoond!"
"Johanes Raymoond!"
"Kauu!!"
"Apa, hahh? Ini anakku!"
"Dia anakku!"
__ADS_1
"Di--"
"Astaga, Moana, Ernest! Sudah cukup kalian berdebat masalah nama. Dia itu anak kalian berdua, bukan sendiri. Jadi tidak ada namanya anakku, anakku dan anakku. Adanya anak kita, paham!"
Suara menggelegar berhasil menyudahi berdebatan Moana dan Ernest. Padahal mereka baru saja merasakan kebahagiaan atas kelahiran putra pertamanya. Akan tetapi, sudah kembali bertengkar hanya karena masalaah nama yang tidak sinkron satu sama lain.
"Aku tahu kami memang orang tuanya, tetapi aku yang berhak untuk memberikan nama padanya. Bukan kau!"
"Apa? Enak saja, tidak bisa! Selama ini kamu itu sudah menjadi seorang Daddy yang sangat menyebalkan, jadi mana bisa kamu memiliki hak atas namanya."
"Kau---"
"Stop! Sekali lagi kalian bersuara, jangan salahkan aku bila aku akan membawa pergi anak kalian. Dari pada kalian bertengkar tidak ada habisnya, lebih baik aku selaku Opa dari cucu pertamaku akan memutuskan kalau namanya sekarang adalah Justin Johanes Raymoond!"
Sakha benar-benar sudah jengah atas keributan yang tidak jelas, langsung saja memutuskan secara adil tanpa ada yang berani membantah keputusannya.
Hanya karena soal nama, mereka malah menjadi sangat egois untuk berkuasa memilikinya. Elice yang mendengar itu segera menyutujuinya, dengan begini tidak lagi akan ada yang bertengkar.
2 nama yang berbeda bisa di satukan, menjadi sebuah nama yang sangat indah. Tujuan penggabungan nama itu sudah Sakha berikan penjelasan, agar Moana dan Ernest bisa menjadi kesatuan yang saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.
Justin Johanes Raymoond, anak serta cucu pertama dari keluarga Raymoond yang baru saja lahir dengan berat 3,6 kg dan tinggi badan 40 cm.
Namun, Justin ini lebih mengarah ke Moana. Wajahnya benar-benar bisa di katakan hampir Moana 90 persen. Hanya tersisa 10 persen bagian Ernest, itu pun tidak banyak.
Untungnya Ernest tidak marah, karena dia tidak menyadarinya. Baginya, dia lahir saja itu sudah membuatnya bahagia.
Berbeda soal nama, mereka memang seperti sangat ingin menguasai nama untuk anaknya. Bersyukurnya ada Sakha yang langsung memutuskan keputusan adik untuk keduanya.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Selang beberapa hari, Moana sudah di perbolehkan untuk kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Sama halnua Justin, dia pun semakin terlihat pintar dan menggemaskan.
Moana pulang bersama Ernest dan juga anaknya. Sementara Elice dan Sakha menunggu di rumah untuk menyambut anggota baru yang akan hadir memasuki kediaman rumah keluarga Raymoond.
Di dalam mobil, Moana duduk di depan sambil memangku putra kesayangannya yang masih tertidur. Akan tetapi, jalanan yang macat membuat mereka harus terjebak di tengah jalan dalam keadaan yang cukup panas.
__ADS_1
Ernest melihat ke arah samping, dimana matahari sangat menyorot ke arah Justin. Meski Moana berusaha menutupinya, tetapi Ernest merasa kasihan terhadap istrinya yang harus kepanasan hanya demi melindungi anaknya.
Perlahan Ernest membuka sabuk pengamannya yang refleks langsung mendapat pertanyaan dari Moana. "Mau kemana? Ini lagi macet ya, jadi jangan aneh-aneh!"
Ernest tidak menggubris perkataan istrinya, dia malah turun dari mobil dan menutup pintu depan membuat Moana bertanda-tanya. Dia mengetahui Ernest kembali masuk ke dalam mobil melalui pintu belakang.
"Kamu itu mau ngapain sih? Jangan bikin orang panik deh, apa kamu tidak lihat itu ma--"
"Sstt, diamlah jangan berisik! Suara nyaringmu itu bisa membangunkan anakku. Jadi diamlah, cukup perhatikan saja apa yang mau aku lakukan. Paham 'kan?"
Moana yang bingung melihat Ernest membuka tas milik anaknya, membuat otaknya berpikir keras. Sebensrnya apa yang sedang dia cari di tengah kemacetan seperti ini.
Namun, Ernest menemukan satu kain yang di gunakan untuk membedong anaknya. Setelah mendapatkannya, dia pun kembali menutup tas dan juga pintunya. Lalu, Ernest berjalan memutari belakang mobil menuju pintu Moana.
Perlahan dia membukanya sedikit, kemudian menempelkan serta menjempit kain itu di kaca mobil. Layaknya sebuah hordeng kecil yang menutupi kaca.
Di pastikan semuanya sudah aman, Ernest kembali menutup pintu dengan hati-hati dan berlari kecil memasuki mobilnya.
Sedikit demi sedikit mobil Ernest jalankan mengikuti mobil di depannya. Entah mengapa, di balik kecuekan ataupun kedinginan sikap suaminya. Ternyata semakin ke sini, perhatiannya Ernest semakin menonjol.
"Bagaimana, masih panas?" tanya Ernest, sedikit melirik ke arah Moana dan juga anaknya.
"Sudah mendingan, kok. Terimakasih, kamu sudah perhatian terhadapku dan juga anak kita. Ya, meski kamu itu menyebalkan, tapi kamu perhatian. Maka dari itu, aku sudah yakin kalau kamu sudah sayang sama aku. Iya 'kan?"
Wajah Moana terlihat begitu bahagi, tatapan yang biasanya terkesan sinis. Kali ini berbeda, Erenst bisa melihat adanya harapan besar yang Moana ingin dapatkan.
Namun, sayangnya. Moana malah mendapatkan perlakuan yang sedikit sakit, tetapi Moana tidak sepenuhnya percaya.
"Percaya diri terlalu tinggi! Jelas-jelas aku begini hanya demi melindungi anakku dari sinar matahari. Kasihan juga kulitnya yang putih bisa terbakar, jadi bukan berarti aku memiliki perasaan terhadapmu. Jangan mimpi!"
Senyuman terukir di bibir Moana, saat melihat ekspresi wajah Ernest mulai berubah. Mungkin Moana memang tidak mengenal bagaimana Ernest, tetapi dia bisa merasakan adanya getaran yang memang Ernest sendiri pun pasti sudah merasakannya.
Saat ini gengsinya masih menang. Pada akhirnya obrolan itu berhenti, Moana hanya fokus untuk menatap wajah anaknya. Sementara Ernest kembali melajukan mobilnya, ketika jalanan sudah kembali normal.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung