
Tepat pukul 5 pagi, Moana bangun lebih dulu dari pada Ernest. Kemudian dia duduk sambil merenggangkan semua otot badannya yang terasa kaku.
"Errghh ...."
"Perasaan semalam aku enggak ngapa-ngapain, tapi kenapa badanku rasanya pegal banget? Apa karena aku belum terbiasa kali ya menjadi seorang Ibu, jadi tubuhku masih sangat kaget. Tapi, gapapa. Setidaknya di balik rasa yang aku rasakan ini, semoga saja anakku kelak bisa tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat dan juga cerdas. Aamin ...."
Moana berbicara kecil pada dirinya sendiri sambil tersenyum saat melihat Baby Justin masih tertidur pulas di box bayinya. Lalu, matanya mulai beralih menatap ke arah Ernest yang masih tertidur.
"Apakah pekerjaan di kantor sangat melelahkan, sehingga dia tidur sambil berdengkur. Tumben? Tapi, ya sudahlah biarkan saja. Kasihan juga, mungkin dia kecapean harus mengurus semuanya di kantor. Lagi pula masih jam segini, nanti sajalah jam 7 mungkin baru aku bangunkan. Mendingan sekarang aku cuci muka, gosok gigi, habis itu buatkan sarapan deh."
Perlahan Moana bangkit dari tempat tidurnya, lalu dia berjalan ke arah meja rias untuk merapikan rambutnya sambil menguncirnya.
Namun, saat berada di depan cermin. Mata Moana membelalak ketika melihat 3 kancing baju piyamanya terbuka bebas. Semua itu bisa di lihat ketika Moana mengangkat tangannya untuk menguncir rambut, di situ dia langsung refleks menutupinya dan menoleh ke arah Ernest.
"Astaga, pasti semalam a-aku lupa untuk mengancingi kembali bajuku setelah menyusui Baby Justin. Terus gimana ini, apa semalam dia melihatnya? Jika benar, kenapa dia tidak menerkamku? Apakah dia tidak normal?"
"Aishh, pikiran apa ini. Jika benar suamimu tidak normal. Terus Baby Justin anak siapa, hahh? Astaga, jangan Ngadi-ngadi kalau ngomong ya, dasar otak!"
__ADS_1
"Huhh, harap di maklumin aja. Namanya juga enggak pernah di senggol. Jadi, beginilah otak jadi konslet hihi ..."
Mulut Moana mengoceh sendiri saat dia memikirkan hal yang aneh-aneh tentang suaminya. Padahal tanpa di sadari, semalam Ernest ingin sekali menerkamnya sampai tidak bisa berkata apa-apa selain menikmati.
Akan tetapi, Ernest kembali mengingat bila Moana masih dalam proses iatrirahat saat melahirkan. Jadi, susah payah dia menahan panas-dingin suhu tubuhnya, yang terpenting dia sudah mencicipi bagaimana rasa sumber makanan Baby Justin.
Tidak lupa tangannya mulai mengancingi baju piyamanya sampai tertutup rapat. Di sela-sela itu, Moana merasakan rasa ngilu yang cukup luar biasa di arena pucuk gunung kembarnya.
"Sstt ... Tu-tumben banget pucukku terasa perih dan linu, biasanya tidak seperih ini. Apa karena aku menyusui Baby Justin terlalu lama? Akh, tidak mungkin. Baby Justin menyusu tidak pernah lebih dari 15 menit paling mentok juga 20 menit sudah tidur, lantas kenapa rasanya seperih ini?"
"Sudahlah, harusnya aku bersyukur bisa menyusui Baby Justin tanpa merasa kekurangan ASI. Namanya juga masih tahap belajar menjadi seorang Ibu, jadi terima saja apa yang lagi di jalani sekarang. Setidaknya anakku bisa tumbuh besar menjadi orang yang sukses, sama seperti Daddynya."
"Bunda lagi ngapain?" tanya Moana tepat ada di samping kanannya.
Elice terkejut, segera menoleh ke arah kanannya. Dimana matanya menatap keberadaan menantunya yang terdiam, wajahnya yang polosnya berhasil membuatnya bingung.
"Loh, Sayang. Kenapa kamu di sini? Udah sana kembali ke kamar, kamu tidur lagi istirahat. Pasti semalam kamu habis begadang 'kan nyusui Baby Justin, jadi mending kamu istirahat gih. Ini masih pagi banget, kasihan nanti kamu ngantuk kurang tidur yang ada nanti sakit lagi."
__ADS_1
Elice berusaha menasihati Moana sambil sesekali tangannya berjalan untuk melanjutkan masak nasi gorengnya.
"Enggak, akhh. Moana mau di sini bantu Mommy aja, lagian juga Baby Justin masih tidur jadi Moana sedikit tenang." ucap Moana, tersenyum
"Tidak usah, ini juga sudah mau jadi kok. Mendingan kamu--"
"Ya sudah, kalau begitu Moana buatkan susu sama potong buah aja. Etts, Bunda enggak boleh nolak. Kalau Bunda nolak, Moana marah nih ...."
Moana menunjukkan wajah gemasnya ketika sedang ngambek, sehingga Elice hanya bisa terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Elice sudah hapal dengan sikap Moana. Jadi, ya gimana lagi, ingin menolak pun tidak bisa. Suka tidak suka, Elice hanya bisa membiarkan Moana melakukan sesuka hatinya yang penting tidak sampai membuatnya kelelahan.
Setelah semuanya tersusun rapi di atas meja makan, Elice langsung menyuruh Moana untuk membangunkan suaminya. Begitu juga dengan dirinya yang akan membangunkan suaminya dan mereka akan bertemu lagi di meja makan.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung