
Kurang lebih 15 menit, sang dokter kembali. Semuanya pun segera menghampirinya untuk meminta penjelasan padanya atas informasi yang tadi belum sampai di ungkapkan olehnya.
"Dok, apa yang terjadi sama hasil anak saya? Apakah ada penyakit yang membahayakan, atau bagaimana?" tanya Sakha, wajahnya terlihat begitu datar penuh kekhawatiran.
"Tidak, Tuan. Ini bukan soal penyakit, melainkan golongan darah dari Tuan Felix dan Tuan Ernest. Saya kira golongan darah mereka tertukar, tapi nyatanya tidak. Saya sudah mengecek semuanya secara detail, di bantu oleh dokter khusus yang menangani khasus seperti ini,"
"Te-tertukar? Ma-maksudnya bagaimana, Dok?" tanya Elice, benar-benar penasaran.
"Apa yang terjadi pada golongan darah saya dan Felix, jelaskan dengan benar!" sahut Ernest, memegangi kedua kerah sang dokter sambil menatapnya tajam.
Ernest sangat bingung, dia tidak mengerti apa yang di maksud oleh dokter tersebut. Dari cara menjelaskannya sudah berbelit-belit, membuat emosi yang dari tadi coba Ernest tahan langsung meluap begitu saja.
Sakha dan Alice mencoba untuk memisahkan anaknya, di bantu oleh asisten dari sang dokter. Sementara Felix dia hanya berjalan mondar-mandir bagaikan setrikaan dalam kondisi cemas. Berbeda sama Moana yang terlihat syok, dia masih belum bisa berpikir apa pun. Fokusnya saat ini hanya pada kesembuhan anaknya.
"Cukup, Ernest! Biarkan dokter menjelaskan semuanya lebih dulu, kamu tidak boleh seperti ini!"
"Apa yang di katakan Bundamu benar, ini rumah sakit. Jadi, jangan buat kegaduhan selagi kamu ingin melihat anakmu, paham!"
Ernest menghentikan perlakuannya, tetapi matanya tetap menatap sang dokter dengan tatapan layaknya seorang musuh.
Pikiran negatif mulai muncul di isi kepala Ernest, semua itu berasal dari perkataan sang dokter yang mengarah ke golongan darah. Jika sang dokter mengatakan seperti itu, artinya Justin bukanlah anak dari Ernest. Melainkan anak dari Felix, lantas bagaimana semua itu bisa terjadi? Itulah yang ada di pikiran Ernes saat ini, ketika perlahan melirik ke arah Felix yang terlihat tidak tenang dan gelisah.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama lagi, sang dokter segera menjelaskan semuanya mulai dari pertama ketika sempat membuat semuanya menjadi tanda tanya besar.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf, karena sudah membuat kalian semua menjadi panik, bingung dan juga deg-degan. Di sini saya lihat, hasil pertama menjelaskan bahwa da*rah Tuan Felix dan pasien sangatlah cocok. Berbeda sama Tuan Ernest yang sama sekali tidak cocok, maka dari itu saya mencoba kembali mengecek semuanya. Apakah ini benar atau tidak, sebab apa bila Tuan Ernest tidak cocok dengan pasien. Lalu bagaimana bisa pasien cocoknya dengan Tuan Felix selaku Pamannya?"
"Namun\, setelah saya teliti kembali memang besar. Golongan da*rah pasien sama dengan Tuan Felix\, sementara kedua orang tua tidak ada yang sama sedikit pun. Jadi\, di sini yang bisa mendonorkan da*rahnya adalah Tuan Felix. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menjadi pendonor pasien."
Betapa terkejutnya semua orang, saat mendengar penjelasan dari sang dokter. Itu semua tidak luput dari tatapan Ernest, dia menatap istrinya dalam keadaan emosi yang sudah memuncak.
Di mana tangannya mengepal keras dengan urat-urat yang mulai keluar, terlihat bisa Ernest sang-sangat kecewa atas semua kejadian ini. Dari sini Ernest bisa menanggap, kalau seorsng anak sama sekali tidak sama dengan golongan da*rah orang tuanya. Maka, itu bisa di pertanyakan.
"Bagaimana mungkin cucu saya memiliki golongan da*rah yang sama dengan Felix? Dia bukan Daddynya\, jadi dari mana mereka bisa seda*rah!" ucap Sakha\, wajahnya sangat datar.
"Itu dia, Tuan. Saya juga bingung, kenapa bisa? Apakah hasil tesnya tertukas? Tetapi, tidak sama sekali. Ini benar-benar murni. Jika memang Tuan dan Nyonya tidak percaya, maka tes bisa di lakukan sekali lagi untuk meyakinkan apakah benar atau tidak," jawab sang dokter, tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia pun
"Ji-jika cucu saya dengan Felix memiliki da*rah yang sama, ar-artinya me-mereka anak dan Ayah kandung? Be-begitu, Dok?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Elice mewakili semuanya, termasuk Moana dan Ernest. Dia berdua terlihat terdiam mematung dalam keadaan wajah yang berbeda. Moana terdiam, karena dia tidak percaya akan hal itu, sedangkan Ernest merasa telah di bohongi oleh istri dan juga asisten yang sudah di anggap sebagai sahabat sekaligus saudaranya sendiri.
"Di sini tertulis jika Tuan Ernest 99 persen da*rahnya sangat cocok dengan pasien, tapi untuk lebih jelasnya lagi kita bisa lakukan tes DNA. Jika yang bersangkutan berkenan untuk melakukannya," jawab sang dokter.
"Ti-tidak! Sampai kapan pun Justin adalah anakku dan Ernest, bukan anak kak Felix!" teriak Moana, dia tidak terima bila anaknya di permainkan seperti ini.
__ADS_1
Felix mulai gugup wajahnya berkeringat layaknya seperti orang ketakutan akan sesuatu hal, dia tidak menyangka semua ini bisa terbongkar dengan cara kebetulan. Inilah yang selama ini dia takutkan, akan tetapi dia tidak bisa menghindari takdir yang sudah di tentukan.
"Apa maksud semua ini, Moana? Jadi benar, bukan. Kamu sudah berhasil menipu saya dan juga keluarga saya? Pantas, Justin dari kecil selalu mengutamakan Felix dari pada diriku. Ternyata ini, jawaban sebenarnya? Menajukkan!"
"Sandiwara kalian sungguh sangatlah bagus, kalian telah menipu sekaligus menjebak saya sampai saya sendiri tidak menyadari akan semua hal itu! Jelas-jelas bukti sudah ada, tetapi saya tidak menyadarinya. Saya kira ini hanya soal kebetulan saja, nyatanya? Kalian bersekongkol untuk mengelabuhiku, dan memanfaatkan kebo*dohanku!"
"Jadi, bagaimana rasanya ketika anak kalian mendapatkan gelar keluarga yang sangat terhormat ini? Senang? Bahagia? Atau kalian berharap dengan menjebakku, kalian bisa mendapatkan sebagian dari hartaku? Waw, rencana yang bagus, Sayang!"
Tatapan Ernest menyorot tajam ke arah Moana, perlahan dia mendekati istrinya. Lalu, bertepuk tangan sambil memutarinya berulang kalo. Terlihat bahwa Ernest begitu kecewa dengan istrinya, dia telah berhasil membohonginya selama bertahun-tahun pernikahannya.
Namun, tanpa Ernest ketahui Moana sendiri pun tidak tahu menahu apa yang sudah terjadi pada saat ini. Suara Ernest yang awalnya masih lembut, kini telah berubah menjadi penuh penekanan serta datar. Aryinya, Ernest sudah benar-benar berada di atas kekecewaan yang sangat tinggi terhadap istri dan asistennya.
Sakha dan Elice masih terkejut, semua ini di luar nalar oemikiran orang sehat. Kenapa bisa, bertahun-tahun mereka tidak menyadari akan hal itu. Bukti kuat sebenarnya sudah terlalu sering mereka temukan, akan tetapi mereka tidak menyadari.
Mereka hanya menganggap, bahwa kedekatan Felix dengan Justin dari kecil memang tercipta atas sikap Ernest yang terlalu cuek. Sehingga, Felix seperti menjadi pengganti Ernest agar Justin tidak sampai merasakan rasanya kesepian tanpa perhatian seorang Ayah.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung