Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Meminta Pengampunan (Mental Tempe)


__ADS_3

Jangankan, Thom. Orang tua ketiga anak itu saja tidak ada yang tahu, kalau anak mereka ternyata di luar memiliki sifat buruk seperti itu. Dikarenakan, ketika berada di lingkungan rumah mereka terlihat baik-baik saja. Sehingga kedua orang tua mereka tidak terlalu mengkhawatirkan anak-anaknya saat di tinggal bekerja.


Bagaikan sebuah mimpi buruk, mereka bisa bertemu langsung dengan King Mafia yang sangat ditakuti. Sebisa mungkin mereka menghindari semua masalah yang membawa mereka kepada Thoms. Akan tetapi, anak-anak merekalah yang malah menghancurkan semua usaha kedua orang tuanya.


Ketiga keluarga tersebut saling merangkut serta memeluk anaknya satu sama lain. Terlihat sekali getaran badan yang cukup jelas, membuat Thoms hanya bisa tersenyum.


Sebuah kursi tunggal baru saja diambilkan oleh salah satu bodyguard untuk Thoms. Kemudian, perlahan dia mulai duduk di kursi dalam keadaan kaki kanan berada diatas kaki kirinya. Lalu, tangan kanan Thoms menyandar di bagian kursi sambil menggigiti ujung kaca mata.


"Dari kalian semua, siapa yang namanya Edo? Tunjukkan pada saya!"


Suara bariton Thoms mulai bergema, dia berbicara dengan penuh penekanan bukan bentakan. Kedua teman Edo yang berada di kanan juga kirinya, langsung mununjuk ke arah tengah. Sehingga Edo terkejut, dia terlihat sangat-sangat ketakutan.


Mata Thoms mulai melirik ke arah Edo, senyuman yang terlihat manis itu merupakan pertanda buruk bagi Edo. Mungkin jika seseorang yang tidak tahu tentang Thoms, dia akan menganggap itu adalah senyum sapaan dan sebagainya.


Namun, jika seseorang mengenalnya. Itu merupakan senyuman malaikat pencabut nyawa yang tidak bisa mereka hindarkan. Bahkan, malaikat pun tidak akan bisa menghentikan aksi Thoms sudah berubah dalam mode se*tan.


"Oh, ini yang namanya Edo? Tampan, sayangnya apakah esok dia masih bisa melihat indahnya dunia? Atau masa depannya cukup sampai di sini?" ucap Thoms, semakin membuat Edo dan keluarganya ketakutan.


Isak tangis semuanya sudah tidak bisa lagi di hentikan. Sampai mata mereka sembab juga Thoms tidak akan peduli, jikalaupun air mata itu berubah menjadi da*rah malah akan membuat Thoms semakin bersemangat untuk memberikan pelajaran berharga bagi mereka.


"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak tahu kalau Justin adalah keponakan Tuan, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya janji, saya tidak akan mengulanginya lagi. Kalau saya harus mencium.kaki Justin, saya mau, Tuan. Saya mau, asalkan Tuan tidak mengambil nyawa saya ataupun kedua orang tua saya. Saya mohon!"


Dalam keadaan nyawa sudah di unung tanduk, barulah preman kecil ini memohon sambil menunjukkan kelemahannya. Sebelumnya, dia merasa orang yang paling hebat karena sudah membalaskan dendamnya pada Justin atas perkataannya yang tidak enak di dengar.

__ADS_1


Inilah ciri-ciri manusia yang hanya berani pada orang lemah, tetapi saat di pertemukan sama orang yang jauh lebih kuat seketika semua mentalnya jatuh begitu saja.


"Maaf kau bilang? Apa hanya dengan kata maaf bisa merubah semua yang sudah terjadi? Tidak! Sekarang kau lihat, ini lihat! Bukan matamu lebar-lebar, dan lihatlah!"


Thoms menunjukkan layar ponselnya yang terdapat foto Justin di rumah sakit, dia duduk di atas bangkar dalam kondisi tangan di gips. Wajah Justin terlihat bahagia ketika lagi bercanda dengan keluarganya.


Edo serta kedua temannya juga para orang tua, semua melihat ke arah layar ponsel Thoms sebelum dia kembali memasukan kedalam saku jasnya.


"Gimana? Senang, kalau semua rencana yang sudah di rancang telah berhasil melumpuhkan musuh kalian, hem? Ingatlah, walaupun ponakan saya terluka, dia tidak pernah menunjukkan kelemahannya seperti kalian semua!"


"Di mana sifat sok jagoan kalian yang tadi? Kok, sekarang jadi ciut nangis-nangis gini? Apa lagi sampai rela-rela mengemis kata maaf, sementara keponakan saya hanya meminta untuk bergabung main bersama kalian malah kalian hina. Di mana hati nurani kalian, hem? Hanya karena salah satu orang tuanya tidak sempurna, kalian bisa menghinanya seburuk itu? Lantas, bagaimana kalau sekarang saya yang membuat salah satu dari orang tua kalian merasakan hal yang sama?"


"Kalian pasti senang, karena saya tidak akan mengambil nyawa kalian. Melainkan saya akan mengambil salah satu anggota tubuh kalian, sebagai gantinya supaya kalian bisa merasakan apa yang ponakan saya rasakan. Bagaimana? Setuju?"


"Maaf, Tuan. Maaf, jangan lakukan itu. Saya mohon, saya mohon!"


Semuanya berlomba-lomba untuk meminta maaf agar kesalahan fatalnya bisa diberikan kesempatan pengampunan dari Thoms.


"Loh, kok pada sujud? Bukannya tadi anak-anak kalian bertingkah sok kuat layaknya jagoan yang sangat ditakuti. Terus, sekarang kenapa lemah?" tanya Thoms, tersenyum penuh menjijikan melihat drama yang mereka lakukan.


Saking kesalnya, kedua orang tua Edo langsung memarahi anaknya. Mereka memukuli Edo sebagai pelampiasan yang tidak bisa dijelaskan. Tidak hanya Edo, kedua temannya juga mendapatkan hukuman dari kedua orang tua mereka.


Thoms hanya menatap remeh kepada mereka, rasanya dia seperti sedang menonton sinetron yang sangat membosankan. Apa lagi, anak-anak mereka selalu berteriak meminta ampunan yang tidak digubris oleh orang tuanya.

__ADS_1


Mereka rela memukuli anaknya demi membuat Thomas percaya, kalau mereka akan lebih baik lagi mendidik anak-anaknya agar tidak melakukan kesalahan berulang kali. Akan tetapi, Thoms tidak percaya akan kebohongan semua sikap mereka. Mungkin mata bisa saja tertipu, lain dengan hati.


"Sudah cukup, kalian melakukan drama di sini! Mau kalian membunuh anak kalian sendiri, saya tetap tidak akan percaya! Apa yang anak kalian lakukan merupakan sikap yang sangat keji, bahkan sekejam-kejamnya saya menjadi penguasa tidak pernah sedikit saja menghina siapapun meski mereka mencari kesalahan. Namun, bagaimana dengan anak kalian?"


"Dibalik rasa sakit yang ponakan saya rasakan, dia masih bisa tersenyum lebar seolah-olah tidak terjadi apa-apa padanya. Padahal, nyatanya tangan kanannya tidak sedang baik-baik saja. Dia harus melewati pengobatan berbulan-bulan demi mengembalikan tulang yang tergeser dari tempatnya!"


"Apa kalian tidak malu? Usia kalian jauh di atas usia ponakan saya, tapi kalian bertingkah layaknya bukan anak pada usianya yang hanya tahu belajar, makan, juga tidur!"


"Untuk itu, saya harus memberikan hukuman pada kalian semua supaya tidak lagi melakukan hal buruk pada orang lain. Anggap saja, saya lakukan ini


untuk mewakilkan anak-anak lainnya yang pernaj kalian bully, bukan hanya ponakan saya saja!"


"Dengan adanya hukuman yang akan saya berikan ini, sebagai bukti pelajaran bagi kedua orang tua lainnya supaya bisa lebih baik lagi dalam hal mendidik anak-anaknya. Jika pembullyan ini dibiarkan tanpa di basmi, pasti akan ada korban berikutnya. Untung ponakan saya mentalnya sudah dilatih, jadi tidak mudah terpancing oleh kalian yang mental tempe!"


"Awalnya saya ingin sekali memenggal kepala anak kalian satu persatu dengan menjadikannya gantungan pintu, supaya kalian tahu bagaimana rasa sakit yang dialami ponakan saya. Sayangnya, adik saya telah memberikan pesan agar tidak melukai kalian. Jadi, dengan begitu saya akan memberikan pelajaran hidup yang tidak akan pernah kalian lupakan!"


"Saya akan ...."


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2