Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Mangga Muda


__ADS_3

"Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin memarahimu karena kamu telah membohongiku, ternyata kisah pernikahan kalian tidak seindah yang kamu ucapkan beberapa menit lalu."


"Semua itu bisa aku lihat ketika menyampaikan pesanmu pada suamimu, dia terlihat marah. Bahkan yang lebih parahnya lagi, dia memintaku untuk mengurus semua urusan keperluanmu sampai kamu melahirkan."


"Di situlah aku bisa menilai, bila dia tidak peduli pada dirimu, dia hanya peduli sama bayi yang ada di dalam perutmu itu. Hati Kakak mana yang tidak sakit, ketika adiknya di perlakukan seperti ini? Jujur, hatiku hancur melihat kamu seperti ini."


"Hanya saja aku tidak bisa melakukan apapun untuk menolongmu, tapi aku janji aku akan menuruti semua keinginanmu demi anak itu. Aku tidak akan merasa lelah, ketika harus di repotkan oleh rasa ngidammu. Anggap saja aku ini sedang belajar menjadi suami siaga untuk pasanganku ke depannya."


Moana yang tadinya teringat atas kejadian menyakitkan itu, seketika langsung menatap serta mendengarkan perkataan Felix.


Moana tidak menyangka, Felix jauh lebih perhatian dari suaminya sendiri. Padahal anak yang ada di kandungannya adalah anak Ernest, tetapi yang lebih peka untuk menuruti semua keinginan anaknya hanyalah Felix.


"Te-terima kasih, Kak. Kakak selalu ada di saat aku membutuhkanmu, maaf bila aku sudah membohongimu. Aku cuman tidak ingin, nasibku ini di kasihani oleh orang lain. Cukup alur hidupku yang menyedihkan, tetapi tidak dengan nasibku yang bisa aku ubah." ucap Moana sesegukan.


"Sudah lupakan itu, hapuslaj air matamu ini." sahut Feliz mengusap air mata Moana.


"Ohya, rujak yang kamu inginkan pedas atau--"


"Pedas banget, level 10 hehe ...."


Mata Felix langsung membola besar, bahkan hampir saja copot. Level 10 bukanlah level sembarangan, itu sudah melebihi rujak yang terkenal rasanya manis, pedas dan juga menyegarkan.


"Hahh? Le-level 10? I-tu rujak buah, atau cabai yang di buat rujak?" tanya Felix melongo tidak percaya.


"Ishhh, pokonya aku mau level 10. Titik! Atau aku nambah jadi level---"


"Yakk, tidak! Itu sudah sangat lebih dari cukup, ngerti!"


"Aku tidak mau sampai ponakanku tubuhnya gosong, akibat terbakar oleh cabai yang kau makan!"

__ADS_1


Moana terkekeh melihat kecemasan di wajah Felix. Sementara Felix benar-benar frustasi menghadapi Bumil yang ngidamnya tidak karuan.


Sebelum Moana merubah pikirannya, Felix segera pergi untuk membelikan apa yang Moana minta kepada suaminya. Felix harus berjuang demi anak atasannya yang sudah dia anggap sebagai ponakannya sendiri.


Felix melakukan semua ini bukan berarti Felix ingin mencari muka pada atasannya atau sebagai tuntutan kerja. Melainkan semua ini Felix lakukan tulus demi nasib anak yang ada di kandungan Moana.


Jikalau pun anak itu tidak merasakan kasih sayang seorang Ayah, tetapi dia bisa merasakan kasih sayang seorang Paman yang akan menyayanginya.


Moana melihat kepergia Felix membuat dia sangat bersyukur telah di pertemukan dengan sosok Felix yang sudah menjadi keluarga satu-satunya untuknya. Senyuman itu mulai terukir bersamaan perginya Felix.


Rasa kesal memang ada di dalam hati Moana saat mendengar bila suaminya lepas tangan atas ke inginan anaknya.


Namun, bagaimana lagi. Dari awal memang Ernest tidak mengakui anaknya, bukan? Jadi, seharusnya Moana tidak perlu peduli. Selagi dia masih bisa melakukannya sendiri, dia akan melakukannya atau minta tolong kepada Felix yang siaga untuk selalu menolongnya.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Moana terlihat begitu senang, saat rujak yang dia inginkan telah tiba. Bahkan semua ini sesuai permintaan Moana kepada Felix yang dia tulis di pesan.




Padahal Felix sudah ketar-ketir menahan air liurnya saat penjualnya memotong mangga tersebut. Akan tetapi, entah mengapa saat melihat cara makan Moana yang begitu lahap membuat Felix mulai tergoda.


"Ba-bagaimana rasanya? E-enak? Ma-manis? A-asem?" tanya Felix, menahan air liurnya yang hampir menetes.


Moana makan di meja kerjanya tanpa henti, apa lagi keringat yang berada di dahinya membuat Felix mengelapnya menggunakan tisu.


"Hem, enak banget. Kakak mau coba, nih? Rasanya manis banget, seriusan. Kalau enggak mau nyobain yang muda, Kakak yang ini aja." jawab Moana sambil menyodorkan mangga yang masih setengah matang.

__ADS_1


Felix mengambil satu potong mangga tersebut lalu mencolekkan ke dalam sambalnya, kemudian perlahan memasukan ke mulutnya tanpa rasa ragu.


Masih awal-awal Felix bisa menikmatinya, tetapi lama kelamaan Felix langsung mengambil tisu dan memuntahkan isi di dalam mulutnya.


"Grrrr .. gila!"


"Ini mangga apa ketek kingkong sih, sumpah rasanya asem banget!"


"Stop, stop, stop! Jangan kau makan lagi, kasihan ponakanku. Bisa-bisa dia sakit perut, saat tahu apa yang Mamahnya makan!"


Felix segera menutup semua rujak di tas meja Moana, membuat Moana langsung mengerutkan bibirnya dan menangis layaknya anak kecil.


"Huaaa ... Kakak jahat, aku lagi enak-enak makan di suruh udahan. Bagaimana nanti bila ponakanmu ngiler, apakah Kakak mau tanggung jawab?"


"Ta-tapi ...."


Tangis Moana semakin kencang, hingga Felix segera kembali membuka semua rujak itu dan menyodorkan kepada Moana. Kini, tangisan telah berubah menjadi tawa yang sangat menggemaskan.


Rasa ngilu dan asam yang menular ke Felix berhasil membuat tubuhnya seketika merinding tidak karuan.


Felix benar-benar tidak kuat untuk menahannya lagi, segera pergi ke Pantry untuk mengambil air dingin supaya bisa membasahi tenggorokannya.


Namun, saat kembali ke meja Moana, Felix melihat Ernest berdiri tegak melihat Moana. Begitu juga Moana yang menghentikan makannya, lalu menatap suaminya.


Apakah yang akan terjadi sama mereka? Apa Ernest akan membuang makanan yang menurutnya tidak sehat itu? Atau, Ernest hanya sekedar memarahinya menggunakan kata-kata yang cukup kasar?


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2