Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Dokter Tulang


__ADS_3

Kode tersebut Moana berikan kepada bodyguardnya, lantaran dia tidak ingin sesuatu terjadi pada ketiga anak kecil itu ataupun keluarganya.


Tahu sendiri, bagaimana kejamnya Thoms ketika oramg-orang yang telah dia sayangi sampai ada yang terluka sedikit saja, sudah bisa dipastikan bahwa balasan yang setimpal adalah nyawa.


Tidak peduli sekecil atau sebesar apapun kesalahan mereka, kalau orang-orang yang berarti di dalam hidup Thoms tergores maka semua harus di bayar lunas oleh nyawa. Tidak bisa digantikan oleh apapun selain itu, karena bagi Thoms menyakiti orang yang dia sayangi sama seperti merenggut nyawanya.


Itulah Thoms, dia terkenal atas kekejamannya yang tidak bisa di toleransi. Akibat dendamnya yang begitu besar terhadap masa lalu, membuat Thoms tidak akan membiarkan semua orang di muka bumi ini menyentuhnya. Sehingga, mereka yang ikut berbinis oleh Thoms tidak berani untuk mengkhianati ataupun melakukan kesalahan.


Akan tetapi, beda lagi sama mereka yang meminta tolong kepada Thoms akan menganggap bahwa Thoms merupakan orang yang sangat baik, sebab kekuasaan serta kekejamannya sudah bisa mengembalikan semua harta yang telah dirampas oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.


Moana berbicara enam mata dengan kedua bodyguard tersebut, tatapan tajam membuat mereka tidak berani menatap dan memilih untuk menunduk. Bagi mereka, jika mereka menatap mata majikannya sama saja seperti mereka sedang menantangi Moana. Kecuali, apa bila mereka diminta untuk membalas tatapan itu, barulah mereka menatapnya sesuai perintah.


Kesetiaan dan pengabdian mereka memang tidak kaleng-kaleng, seakan mereka telah dilatih sekuat mungkin agar mental juga fisiknya tidak lemah untuk menghadapi luka apapun.


Moan menyampaikan kalimat yang berisikan pesan terhadap sang kakak. Mereka boleh menghukum atau memberikan pelajaran kepada keluarga ketiga anak itu, tetapi tidak dengan cara menyakitinya.


"Sampaikan pada kakakku, jangan sampai melukai salah satu dari mereka atau keluarganya. Berikan pelajaran yang berkesan tanpa harus melakukan kekerasan. Jika aku tahu salah satu dari mereka semua ada yang terluka, maka aku tidak akan pernah memaafkan kakakku. Kalian paham?" ucap Moana penuh tekanan disetiap kalimatnya dengan suara yang sangat kecil.


"Siap, Nyonya. Kami akan sampaikan semua pesan Nyonya pada Tuan. Kami pamit, membawa mereka. Permisi!"


Moana menganggukan kepalanya, lalu kedua bodyguard tersebut langsung memberikan penghormatan, kemudian pergi begitu saja membawa ketiga anak tersebut secara bersamaan.


Melihat ketiga anak itu sedikit diseret, lalu memberontak ingin di lepaskan sambil menangis membuat hati Moana tersentuh. Teriakan meminta tolong selalu mereka lakukan sampai suara mereka terdengar serak. Akan tetapi, kembali lagi. Biarlah semua itu urusan Thoms selagi dia tidak akan melukai mereka, maka Moana tidak akan mengkhawatirkannya.

__ADS_1


Perlahan tubuh ketiga anak itu sudah mulai menjauh dari Moana, lalu menghilang ketika mereka semua memasuki mobil yang sudah dipersiapkan di ujung jalan. Mobil itu bergegas pergi meninggalkan tempat kejadian, tanpa sedikit pun ada orang yang ingin menolongnya.


Tanpa berlama-lama lagi , Moana segera berbalik kemudian berlari saat melihat anaknya terus mengeluh kesakitan. Di mana sudah ada 4 bodyguard yang setia berdiri di dekat Ernest juga Justin, itu artinya sudah ada penambahan 4 bodyguard lain yang di tugaskan untuk menjaga serta mengawal mereka semua.


"Apa yang sakit, Sayang? Katakan sama Mommy!" Moana terlihat khawatir saat Justin selalu memegangi tangan kanannya.


"Mom, ta-tangan Justin sakit hiks ...." Justin menangis di dalam pelukan Ernest.


"Kita harus segera membawa Justin ke rumah sakit. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan anakku. Apa lagi tangannya tidak bisa di gerakkan, aku takut sampai sesuatu terjadi pada tulangnya yang masih sangat muda!" titah Ernest langsung diangguki oleh Moana.


Moana segera menatap ke arah para bodyguard memberikan aba-aba terhadapnya, "Cepat kalian bantu dorongkan suami saya, biar saya membawa Barra. Siapkan mobil karena kita akan ke rumah sakit!"


Perintah Moana secepat mungkin dilaksanakan. Salah satu bodyguard mendorong kursi roda Ernest, dan satunya lagi membawa makanan yang ada di tempat duduk taman. Sisanya mereka berjaga-jaga untuk mengangkat Justin dan Ernest ke dalam mobil, lalu mobil yang mereka tumpangi segera pergi ke rumah sakit.


Melihat Justin menangis dalam konsisi yang sangat kesakitan malah semakin membuat isi kepala Moana serta Ernest menjadi pecah. Mereka sangat-sangat mengkhawatirkan tentang kondisi tangan anaknya, melihat cara Justin memegang tangan yang susah untuk digerakkan ditakutkan kalau Justin akan mengalami patah tulang.


Ketakutan Moana juga Ernest membuat jantung mereka berdetak tidak menentu. Apa lagi Justin terus menangis menahan rasa sakit yang luar biasa di lengannya. Lagi-lagi membuat Barra yang ada di dalam gendongan Moana menangis. Suara bising kedua anak mereka semakin memecahkan isi kepala hingga menjadi berantakan.


Ernest tidak ingin berjauhan dari Justin, dia terus memangku Justin walaupun tidak bisa menggerakan kedua kaki, setidaknya kedua tangan Ernest mampu untuk tetap memeluk Justin untuk mengurangi rasa sakitnya.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Sesampainya di rumah sakit, Justin segera di bawa ke dokter khusus tulang agar bisa segera di tangani. Tidak lupa, salah satu bodyguard langsung mengurus semua administrasi agar tidak membuat mereka semua menunggu lebih lama. Intinya semua itu sudah diperintahkan sesuai arahan Thoms, agar mereka melaksanakan tugasnya masing-masing tanpa melakukan kesalahan.

__ADS_1


Kali ini Moana yang menggendong Barra juga Ernest yang selalu ada di dekat Justin, bisa ikut masuk ke dalam ruangan melihat semua yang akan dokter lakukan.


Tangan kiri Justin tidak pernah melepaskan tangan Ernest. Dia menggenggamnya begit erat membuat Ernest juga bisa merasakan kesakitan yang Justin rasakan. Air mata Moana tidak berhenti walaupun dia harus sambil menenangkan Barra di dalam pelukannya.


"Sabar ya, Sayang. Dokter periksa dulu ya tangannya, boleh?" tanya sang dokter perlahan melihat tangan kanan Justin yang sedikit tidak berdaya.


"Akhhh, sa-sakit, Dok. Sakit hiks ...." Justin menangis ketika tangan dokter baru sedikit menyentuhnya. Melihat respon Justin naluri seorang ayah langsung bangkit dari dalam diri Ernest.


"Dokter macam apa ini, hahh? Udah tahu anak saya kesakitan malah di pegang, dasar bo*doh!" pekik Ernest, menatap tajam ke arah dokter.


"Maaf, Tuan. Hanya baru memegangnya sedikit, supaya saya bisa mengetahui di bagian mana yang cedera. Melihat dari kondisi pasien, dia seperti mengalami patah tulang. Justru itu saya ingin mengeceknya sebelum kita melakukan pengecekan instan," jawab sang dokter dengan sedikit ketakutan karena dia begitu mengenai siapa orang-orang yang ada di balik Moana juga Ernest.


"Tenanglah, Ernest. Biarkan dikter melakukan tugasnya, dia yang lebih tahu tentang kondisi Justin. Jadi, jangan menganggunya!" titah Moana membuas Ernest menatap kesal dan kembali fokus pada Justin.


Sementara itu, sang dokter melanjutkan tugasnya sambil meminta asistennya untuk membersihkan luka-luka kecil yang ada di tubuh Justin lainnya.


Setelah praduga sang dokter tetap mengarah ke arah patah tulang, Justin langsung dibawa ke ruangan ronsen untuk di ambil tindakan lebih lanjut. Moana dan Ernest hanya bisa mengikuti prosedur yang dokter berikan demi kesembuhan sang anak, walaupun hatinya terus bergetar ketika mereka mendengar dugaan dari dokter. Akan tetapi, mereka hanya bisa berdoa semoga dugaan itu salah dan kondisi Justin bisa kembali membaik.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2