
Moana yang sudah selesai memandikan Justin, lalu menyusuinya. Kini, saatnya dia untuk mandi. Setelah itu akan mempersiapkan apa saja yang akan dia masak untuk makan Ernest sebelum minum obat.
Tepat pukul 9 pagi menjelang siang, Moana pergi ke dapur tidak menemukan siapapun. Kemudian dia menanyakan keberadaan Elice sama asisten pembantu, di situ Moana tahu bila Elice belum pulang dari belanjanya.
Moana kembali ke kamarnya sampai menunggu Elice pulang belanja, karena nanti asisten pembantunya yang akan memanggilnya.
Setelah 20 menit Moana kembali ke kamarnya, tiba-tiba pembantunya mengabari jikA Elice sudah kembali pulang. Dan Moana di minta untuk segera menemuinya, untuk di ajarkan bagaimana caranya membuat sop kesukaan suaminya.
Moana tersenyum, lalu segera bergegas turun ke arah dapur untuk menemui Elice. Di sana Moana membantu Elice untuk menyiapkan bahan-bahan membuat sop.
"Ini kok ada tulang, Bun. Emangnya kita mau buat sop apa?" tanya Moana, bingung.
"Itu buntut, Sayang. Ernest dari kecil kalau lagi sakit paling suka di buatkan sop buntut, terus di makan menggunakan nasi hangat. Uhh ... Makannya pasti lahap, mau sepahit apapun mulutnya dia tetap bisa menghabiskan satu mangkok sop ini hingga hanya tersisa tulangnya saja hihi ...." jawab Elice, terkekeh sendiri ketika mengingat pertama kali Ernest memakan sop buatannya.
"Oh gitu, kalau memang dia suka sop buntut. Kenapa Bunda tidak pernah membuatnya?" tanya Moana kembali. Dia masih sangat penasaran tentang suaminya.
"Entahlah, Bunda juga bingung. Ketika sakit, dia begitu semangat untuk menghabisin sop itu. Namun, bila sehat dia tidak mau. Karena dia tidak percaya sop yang Bunda buat ketika dia sakit adalah sop buntut, kalau dia tahu pasti langsung muntah." sahut Elice, sambil menyiapkan bumbu-bumbunya.
"Kok aneh ya? Memangnya dia tidak tahu, Bun?" ucap Moana.
__ADS_1
"Tahu, kok. Hanya saja ketika sakit, dia tidak peduli itu semua. Cuman saat sehat, barulah dia mengetahui itu malah jadi jijik sendiri. Itulah suamimu, dia memang aneh. Makannya Bunda hanya membuatkan ini ketika dia sakit, kalau sehat Bunda tidak pernah membuatkannya."
Moana menganggukan kepalanya, sebab dia sudah mengerti apa yang di ucapan oleh mertuanya. Di bilang aneh, ya memang aneh banget. Akan tetapi, itulah Ernest. Moana hanya bisa terkekeh bersama Elice saat mendengarkan kisah Ernest.
Apa lagi Moana kembali mengetahui, bila Ernest bisa manja hanya karena dia sakit. Jadi, kalau Ernest dalam mode manja Moana tidak akan terkejut. Lantaran semua itu sudah di jelaskan oleh Elice, selaku Ibu dari Ernest sendiri.
Satu persatu telah di siapkan, Moana hanya sekedar melihat sambil sedikit memperhatikan Elice. Bahkan semua bumbu yang di gunakan, Moana ingat satu persatu agar suatu saat nanti dia bisa belajar membuatnya sendiri.
Tidak lupa Elice pun mengajarkan Moana, supaya dia yang memasaknya sedangkan Elice menjadi pemandu supaya Moana tidak salah memasukan resepnya.
30 menit kurang lebih, mereka sudah selesai membuatkan hidangan sop buntut yang sangat harum. Moana saja sampai tergiur hanya karena menghirup aroma dari sop yang sudah matang.
Sop buntut memang sudah menjadi makanan favorit Ernest ketika dia sakit. Selebihnya, bila sehat Ernest malah tidak menyukainya sama sekali.
Baru mendengar sop buntut saja, Ernest langsung merasa mual. Sehingga, Elice tidak pernah membuatnya saat Ernest sehat.
"Wah, Bun. Ini sih cocok buat buka Restoran, kenapa Bunda tidak buka Restoran aja. Menu sop buntut, pasti aku jamin bisa viral sampai masuk makanan favorit." ucap Moana sambil mengunyah bahkan nambah 2 kali.
__ADS_1
"Astaga, kalau sopnya kamu habisin. Bagaimana suamimu makan, Moana!" ucap Elice, sedikit kesal.
Moana yang menyadari akan hal itu hanya bisa tertawa, dan menyudahi aksinya. Apa lagi saat melihat reaksi Elice, semakin membuat Moana tertawa.
Setelah itu, Moana pun langsung menyiapkan semuanya untuk dia bawa ke kamar. Agar suaminya bisa segera minum obat, supaya bisa pulih dengan cepat.
"Semangat, Sayang. Jangan marah-marah ya, dan kaget saat melihat suamimu berubah anggap saja kamu sedang mengurus bayi gede. Oke?" ucap Elice, memberikan semangat sebelum Moana pergi ke kamarnya.
Moana hanya bisa menganggukan kepalanya, lalu Moana pun berjalan perlahan membawa nampan tersebut menuju kamarnya. Rasanya ingin sekali Moana memakan itu semua, hanya saja dia ingat bila suaminya sudah menunggu dalam keadaan perut keroncongan.
Dengan segenap rasa, Moana menahan semua itu. Walaupun air liurnya hampir saja menetes saking tergiurnya ingin menghabiskan semua yang saat ini berada di hadapannya.
Jika tidak ingat dengan Ernest, mungkin satu panci Moana bisa habisin tanpa memperdulilakan siapapun. Semua itu karena rasa sop buatan Elice memang tiada duanya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung