
"Mo-moana? Ka-kamu kenapa turun dari bangkar, Sayang? Kesehatanmu masih belum pulih loh, Bunda takut---"
Belum selesai Elice mengatakan apa yang ingin dia sampaikan, Moana sudah langsung memotongnya dan menatap ke arah Sakha yang masih terbaring di atas bangkarnya.
"Gimana keadaan Ayah?" tanya Moana, datar. Tidak sedikitpun matanya melirik ke arah suaminya yang ada di samping mertuanya.
"Ayah baik-baik aja, kamu ada apa ke sini? Bukannya dokter belum mengizinkanmu turun dari bangkar? Terus kenapa suster itu memperbolehkanmu datang ke sini?" tanya balik, Sakha.
Perlahan Sakha bangun dari tidurnya untuk berusaha duduk yang di bantu oleh Ernest. Kemudian, matanya segera menatap menantunya yang ada di kursi roda.
Moana datang ke ruangan Sakha tidak sendiri, dia bersama seorang suster yang hanya sekedar untuk mengantarnya dan kembali pergi lantaran banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Melihat adanya perubahan di dalam diri Moana, Ernest sedikit terkejut. Moana yang biasanya terlihat cengeng, manja bahkan ceria seketika telah tergantikan oleh Moana yang baru.
"Ada apa sama dia? Kenapa berubah menjadi cuek? Apa ini taktik barunya untuk membuktikan pada semuanya, kalau dia tidak ikut masuk dalam rencana Felix? Jadi, seolah-olah hanya Felix satu-satunya yang bersalah? Hehh, benar-benar licik!" gumam batin Ernest, tatapannya begitu tajam menatap istrinya.
Elice langsung sigap mendorong kursi roda menantunya untuk lebih mendekat ke arah Sakha, tetapi Moana tetap tidak melirik sedikitpun pada suaminya.
"Berat rasanya untukku membiasakan diri tanpa harus tergantung denganmu. Sikap ini, bukanlah sikap yang aku inginkan. Aku terpaksa melakukan semua ini agar tidak membuat mentalku semakin sakit, sebab aku memiliki tanggung jawab besar untuk merawat dan membesarkan anakku. Ada atau tidak adanya dirimu nanti, aku serahkan semuanya pada Tuhan. Biarlah Dia yang mengatur takdirku, dan aku akan fokus sama apa yang harus aku jalani saat ini!"
"Bukan berarti, semua yang terjadi ini merupakan kesalahanku. Melainkan aku tidak ingin mengemis cintamu lagi, karena sudah cukup selama ini aku memperjuangkan cinta kita seorang diri dalam waktu yang tidak sedikit. Dan jika aku harus kembali berjuang, maaf. Aku tidak bisa! Fokusku saat ini hanya untuk kesehatan anakku!"
__ADS_1
Moana berbicara di dalam hatinya, berusaha keras untuk menahan semua kepedihan, kehancuran dan juga kekecewaannya terhadap suaminya sendiri.
Suami yang seharusnya ada di sampingnya, kini telah membencinya. Sehingga, Moana tidak akan kembali mengemis cintanya. Setidaknya, Moana sudah menjelaskan apa bila semua yang terjadi ini tidak sedikitpun ada kaitannya dengan dia. Semua ini murni kesalahan Felix yang berusaha kabur dari tanggung jawabnya.
Elice dan Sakha saling melirik satu sama lain, ketika mereka melihat Ernest yang terus menatap istrinya dengan tatapan yang cukup aneh. Di mana Ernest seakan-akan kasihan terhadap Moana, tetapi egonya yang tinggi membuatnya terus merasa gengsi.
Sementara Moana, dia terdiam membisu tatapannya menyorot ke arah depan dengan pandangan cukup kosong. Akibat masalah yang terjadi padanya, membuat dia sangat-sangat merasa terpukul. Orang yang begitu dia percayai, ternyata adalah seorang peng*ecut yang berusaha lari dari kenyataan.
"Sayang, kenapa diam? Tadi Ayah nanya loh, ada apa kamu ke sini? Memangnya kamu sudah sehat, hem?"
Elice memegang kedua pundak menantunya itu secara perlahan, sambil menanyakan pada menantunya menggunakan suara lembut.
"Ahya, kenapa? Oh, a-aku ke sini hanya ingin memberitahu sama Bunda dan Ayah, kalau Justin sudah sadar. Aku baru dari ruangannya," jawab Moana sedikit gugup, tapi tetap terlihat cuek tanpa melihat ke arah suaminya.
"Apaan sih, kenapa kedua orang tuaku malah terlihat bahagia saat tahu anak itu sudah sadar? Sebenarnya, Bunda sama Ayah berpihak sama anaknya sendiri apa menantunya sih. Kenapa kesannya, Moana itu adalah orang yang paling benar, sedangkan aku? Aku adalah orang yang paling buruk di mata mereka! Ckk ... Menyebalkan!"
Batin Ernest merasa sangat kesal, lantaran kedua orang tuanya yang selama ini berusaha dia bahagiakan malah tidak sedikitpun melihat kebaikannya. Akan tetapi, berbeda jika sama Moana. Orang yang hanya sekedar menantunya untuk beberapa tahun ini malah terlihat mereka lebih mempercayainya.
"A-apa? Cucuku sudah sadar? I-itu artinya dia sudah bangun?" tanya Elice, antusias.
"Ya, dia sudah bangun dan nama pertama yang dia sebutkan adalah Daddy," jawab Moana, tanpa melihat suaminya.
__ADS_1
Ernest yang mendengar itu, hatinya sedikit tersentuh. Untuk pertama kalinya Justin bangun dari tidurnya dengan menyebut namanya, karena selama ini mereka bersama orang yang pertama di carinya adalah Moana.
Namun, Ernest tetap pada pendiriannya. Dia menyangka bahwa ini adalah akal-akalan Moana saja agar semua orang bisa mempercayainya, kalau istrinya tidak ikut serta dalam rencana Felix.
"Aku mau melihat cucuku!" seru Elice, tegas. Wajahnya terlihat bahagia, dengan kedua mata yang sudah mulai berlinang air mata.
"Aku juga ikut, aku mau lihat Justin," sahut Sakha. Meski hatinya belum bisa sepenuhnya menerima Justin, tetapi kembali lagi. Apapun yang terjadi, Justin tetap cucu yang selama ini dia sayangi dari pertama kali lahir ke dunia.
"Nanti sore saja, saat ini Justin masih dalam proses pemeriksaan karena dia belum sepenuhnya sadar akibat efek obat yang belum habis. Hanya saja, Justin sudah ada kemajuan. Dia akan segera di pindahkan ke kamarku, jika kalian ingin menengoknya silakkan. Saya tidak melarangnya, kecuali 1 orang!"
"Cuman itu yang Moana sampaikan, sekarang Moana mau kembali ke kamar. Cepat sehat, Ayah. Maaf kalau Moana belum bisa menjadi menantu yang baik buat kalian. Permisi!"
Di saat Moana ingin berusaha untuk menjalankan kursi rodanya, Elice langsung sigap membantunya. Awalnya Moana menolak, tapi setelah Sakha yang mengatakan biar istrinya yang membantu. Akhirnya, Moana pun terdiam.
Selepas perginya Moana dan Elice, Sakha langsung menatap anaknya yang menatap ke arah pintu dalam keadaan terdiam membisu tanpa bersuara sedikitpun.
Sakha menggelengkan kepalanya, akibat anaknya masih belum bisa menurunkan egonya. Padahal dia sudah melihat bagaimana cara Moana bersikap saat ini yang lebih cuek, demi menutupi luka besar di dalam hatinya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung