
"Bunda apa-apaan sih, Ernest itu tidak pernah melakukan apa pun kepada Moana. Bahkan untuk menyentuhnya saja Erenst tidak pernah, kecuali pasca kejadian itu. Itu pun Ernest dalam keadan tidak sadar!"
Moana membolakan matanya, bersamaan dengan kedua orang tua Ernest. Mereka benar-benar terkejut atas jawaban yang Ernest katakan sendiri.
"A-apa yang tadi kamu katakan? Ka-kamu tidak pernah menyentuh Moana setelah pernikahan?" tanya Elice, benar-benar syok.
Ernest yang baru menyadari perkataannya langsung bungkam seribu bahasa. Tatapan Sakha seketika langsung berubah menjadi tajam saat menatap anaknya.
"Apa alasanmu tidak menyentuh istrimu selama 5 bulan ini? Apa karena kalian belum saling mencintai? Atau kalian menikah hanya karena anak itu?"
Degh!
Lagi-lagi kecurigaan Sakha sama Elice benar-benar langsung menusuk jantung Ernest dan juga Moana. Mereka terlihat sangat bingung untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang seharusnya mudah di jawab, tetapi sulit untuk di ungkapkan.
"Jawab pertanyaan Ayah, Ernest!"
Suasana semakin menegang saat suara bariton Sakha mulai terdengar. Artinya, Sakha memang sedang berada di ambang kekecewaan setelah mendengar apa yang anaknya katakan.
"Jangan kalian kira, Bunda dan Ayah tidak tahu. Apa saja yang kamu lakukan kepada anak dan juga istrimu selama kami tidak ada!"
"Dan kamu Moana, kenapa kamu diam saja saat suamimu tidak memberikan nafkah lahir batin kepadamu? Apa kamu takut dengannya, iya?"
"Bunda tahu, kok. Meskipun kalian sudah menikah, tetapi kalian masih sangat berjaga jarak. Bahkan kalian belum bisa membuka diri satu sama lain untuk menerima kenyataan semua ini. Benar 'kan?"
__ADS_1
"Terus mau sampai kapan kalian seperti ini, hahh? Mau sampai kapan? Jawab Bunda, Ernest? Moana?"
Keduanya terdiam bagaikan sebuah patung. Dimana Moana tidak tahu harus menjawab apa lagi, karena dia takut perkataannya malah akan semakin menyakiti kedua hati mertuanya.
Beberapa kali Ernest mengerutuki kecerobohannya sendiri di dalam hatinya. Padahal dia telah berusaha menutupi semuanya dari kedua orang tuanya, akan tetapi mulutnya sendiri yang malah membongkar apa yang telah dia lakukan pada istrinya.
"Arrghhh, dasar Ernest bobodoh! Kenapa bisa sampai keceplosan sih, kalau udah begini aku harus menjelaskan apa lagi sama Ayah dan Bunda. Pikir Ernest, pikir*!"
Suasana semakin menegangkan, ketika Sakha hanya terdiam menatap mereka. Sementara Elice terus membuka satu persatu perlakuan Ernest kepada Moana.
Tanpa mereka sadari ternyata Elice sudah menaruh orang suruhannya untuk memata-matai anak dan juga menantunya selama mereka pergi.
Di tambah lagi, penjelasan dari asisten pembantunya, semakin menguatkan Elice bila ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumah tangga anaknya.
"Bunda sudah tidak mau lagi mendengar alasan dari kalian. Sudah cukup kalian membohongi Bunda dan Ayah!"
"Sekarang kalian tinggal jawab aja dengan jujur, apakah tujuan kalian menikah hanya demi status anak itu? Atau, kalian memang sama-sama ingin belajar menerima satu sama lain?"
Moana dan Ernest saling menatap satu sama lain, mereka benar-benar bingung harus menjawab jujur atau kembali mencari alasan, dengan tujuan supaya kedua orang tuanya bisa kembali mempercayainya.
Akan tetapi, Elice malah langsung menyimpulkan semuanya dan berhasil membuat Ernest dan Moana terkejut.
"Baiklah, jika kalian diam. Itu artinya kalian menikah memang demi anak itu. Jadi, sekarang juga Bunda minta kalian berjanji. Setelah anak itu lahir, kamu dan juga Moana harus berpisah!"
__ADS_1
"Urusan anak kalian, biar kami yang merawatnya. Kami juga akan tinggal di luar negeri untuk merawat anak itu, sampai suatu saat nanti dia bisa tumbuh menjadi anak yang sukses, tanpa harus mengenal siapa kedua orang tuanya!"
"Buat apa dia hidup bersama kalian, kalau pada kenyataannya kedua orang tuanya hanya mementingkan egonya sendiri. Lebih baik Bunda hilangan kalian berdua, dari pada harus melihat mental cucu Bunda sendiri terguncang!"
Mata Moana langsung berkaca-kaca saat melihat tatapan Elice yang penuh dengan keseriusan. Sebenarnya ini bukan keinginan Moana, dia bisa saja menurunkan egonya hanya sekedar membuka hati untuk suaminya.
Namun, sikap Ernest yang selalu membuat Moana ragu membuka sedikit pintu hatinya. Terlepas dari sikapnya yang dingin, perkataan Ernest pun terlalu membekas di dalam benaknya.
Moana harus berpikir seribu kali untuk berusaha memberikan kepercayaan kepada suaminya, bila dia bisa berubah menjadi suami yang jauh lebih baik.
Dilema yang Moana rasakan terpacu pada rumah tangganya. Apakah dia harus tetap mempertahankannya, atau memilih hidup seorang diri bersama anaknya?
Inilah pilihan tersulit bagi mereka berdua. Di satu sisi, ini merupakan kesempatan emas bagi Ernest agar dia bisa terlepas dari Moana. Akan tetapi, di sisi lainnya Ernest juga tidak ingin kehilangan anaknya. Sama halnya seperti Moana.
Bagaimana pun Ernest, seegois apa pun dia tetap masih memiliki sisi baik untuk bertanggung jawab dan mencoba menerima semua kenyataan. Mungkin saja, caranya yang di gunakan Ernest kurang tepat, sehingga apa yang dia lakukan selalu terlihat salah dimata semua orang.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1