Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kekhawatiran Moana


__ADS_3

"Hentikan semua ini, Ernest! Apa kau sudah gila, hahh? Aku tidak mau ma*ti konyol, ya!"


"Aku ini mau pulang ke rumah untuk menemui anakku, bukan pulang ke rumah sakit ataupun kub- aarrghhh ...."


Moana berteriak sekeras mungkin saat dia melihat ada sebuah mobil yang tiba-tiba keluar dari sebuah gang, tetapi Ernest masih bisa menyeimbangkan laju mobilnya dan mereka pun selamat.


Ernest langsung menghentikan mobilnya, saat melihat reaksi istrinya yang benar-benar ketakutan sambil menangis.


"Sa-sayang, ma-maafkan aku. A-aku tidak bermaksud membuatmu ketakutan seperti ini, a-aku hanya khawatir dengan kondisi Justin di rumah. Sekali lagi ma-maafkan aku, ma-maaf ...."


Moana yang masih dalam keadaan syok, ketakutan dan juga marah langsung saja menatap suaminya sangat tajam. Ernest cukup menyadari akan kesalahannya, kemudian langsung membekap Moana menggunakan pelukan di saat dia kembali memarahinya tanpa henti.


"Kalaun kamu marah sama aku, bukan gini caranya, Ernest. Bukan gini! Aku juga tidak ingin malam kita seperti ini, tapi apa dayaku. Anakku benar-benar membutuhkan aku, jikazku boleh egois pun aku bisa. Namun, aku tidak mau. Lebih baik aku di marahi olehmu dari pada aku harus mendiami anakku yang kondisinya tidak baik-baik saja di rumah," sahut Moana tepat di pelukan suaminya yang begitu erat.


"Aku tahu, Sayang. Maka dari itu maafkan aku, jika rasa kesalku yang khawatir ini malah membuatmu menjadi ketakutan. Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Maaf," cicit Ernest, terus menenangkan istrinya yang masih di landa ketakutan cukup luar biasa.


Untuk beberapa menit, ketika Moana sudah membaik. Ernets kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, agar Moana tidak lagi merasakan ketakutan akan kejadian yang beberapa menit lalu hampir menimpa mereka.


Kurang lebih sekitar 25 sampai 30 menit. Akhirnya mereka sampai di rumah, Moana bergegas turun dan sedikit berjalan cepat ke arah kamar anaknya, walaupun sedikit susah karena gaunnya yang cukup panjang dan juga ribet.

__ADS_1


Di sana Moana melihat Justin masih menangis sesegukan dalam pelukan Elice, tanpa berkata apa pun Moana segera mengambil alih Justin dan memeluknya cukup erat.


"Omi ahat, hiks ... Omi ingali Ustin cama Edi, Omi ahat ndak ajak-ajak Ustin. Ustin ndak cuka!" seru Justin yang sudah berada di pelukan Moana.


"Maafkan Mommy sayang, karena Mommy Justin jadi sakit seperti ini. Lain kali kalau Mommy pergi, Mommy ajak Justin ya. Sekarang, Justin tidak boleh nangis lagi, Mommy udah ada di sini di samping Justin. Jadi, udah ya, Sayang. Badanmu udah panas ini, Mommy takut demammu makin tinggi," ucap Moana, tanpa henti terus memeluk serta menciumi anaknya dalam keadaan wajah yang sangat mengkhawatirkan.


Ernest yang baru datang pun melihat kondisi anaknya yang lemas, langsung mengusulkan untuk membawanya ke rumah sakit. Sehingga mereka hanya bisa memanggutkan kepalanya, mungkin itu yang terbaik dari pada keadaan Justin semakin memburuk.


Saat Justin berada di gendongan Ernest, Moana meminta waktu beberapa menit untuk mengganti pakaian agar tidak meribetkan dirinya sendiri. Ernest hanya mengangguk dan duluan membawa Justin ke dalam mobil.


Sementara Sakha serta Elice tetap berada di rumah dan menunggu kabar mereka selanjutnya. Dengan harapan semoga Justin hanya mengalami rasa kangen yang berlebihan, tanpa membahayakan dirinya sendiri.


"Edi ahat, Edi uman cayang Omi ndak cayang Ustin agi. Ustin ndak cuka itu, Ustin mayah cama Edi!" seru Justin, merengek di dalam pelukan Ernest.


Tidak membutuhkan waktu lama, Moana masuk ke dalam mobil dan mengambil alih Justin di pangkuannya. Setelah itu, Ernest melajukan mobilnya kembali menerpa malam yang sangat sunyi.


Mereka sampai di rumah sakit tepat pukul 3 pagi. Untungnya rumah sakit itu adalah rumah sakit yang memang banyak mendapatkan galangan dana dari keluarga Ernest, sehingga Justin bisa di tangani oleh dokter khusus anak-anak tanpa harus melewati prosedur yang sangat rumit.


Entes dan Moana menunggu di luar kamar dalam keadaan wajah yang masih panik, begitu pun Ernest yang memeluk istrinya untuk mencoba menenangkannya.

__ADS_1


Hanya beberapa menit, sang dokter keluar dari kamar Justin dalam keadaan tersenyum. Moana serta Ernest segera menanyakan keadaan anaknya, setelah di jelaskan Justin hanya mengalami demam biasa akibat kelelahan. Perasaan Moana dan Ernest perlahan mulai tenang, lalu segera menemani anaknya yang ada di dalam ruangan.


Moana duduk di sebelah bangkar anaknya yang terbaring lemah, sedangkan Ernest berdiri di samping Moana menatap kasihan kepada sang anak.


"Maafkan, Mommy, Sayang. Akibat Mommy meninggalkanmu terlalu lama, kamu sampai jatuh sakit seperti ini. Mommy janji, Mommy akan selalu di samping Justin asalkan Justin baik-baik saja," ucap Moana menciumi tangan anaknya sambil mengelus kepalanya


"Sebesar itukah rasa sayang Justin sama Moana? Sampai-sampai dia tidak bisa lepas dari Moana sedikit pun, tetapi sementara padaku? Dia terlihat seperti tidak menyayangiku," gumam batin Ernest, merasa sedikit cemburu.


Perlahan Justin sadar, dia menangis kembali yang membuat Moana segera memeluknya dan perlahan naik ke arah ranjang sambil menidukan anaknya yang memang membutuhkan pelukan.


Ernest hanya bisa menatap istri dan anaknya yang sangat romantis itu dengan sedikit kesal, lalu dia berjalan ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya karena besok dia harus berangkat pagi-pagi sekali.


Suasana menjadi sepi, Moana pun menoleh menatap suaminya yang sudah tertidur, sedikit kasihan. Disebabkan, malam ini mereka tidak bisa melakukan sesuatu yang sudah tertahan cukup lama. Perlahan Moana memejamkan matanya sambil terus memeluk anaknya agar tidak sampai membuatnya kembali menangis.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2