Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Tertipu


__ADS_3

Kanaya sendiri sudah benar-benar pasrah kalau memang hidupnya akan berakhir hari ini juga. Meskipun, Nay tahu Moana tidak setega itu untuk membun*nuhnya tetap saja gadis tersebut merasa takut sama apa yang Moana lakukan.


Tahu sendiri Moana sama sekali tidak bisa menggunakan senjata itu dengan baik, bagaimana jika seandainya ada se*tan lewat lalu melesetkan apa yang sudah Moana rencanakan. Apakah hidup Nay benar-benar berakhirnya? Oh, tidak! Semua itu tidak terjadi karena bunyi tembakan yang besar itu berasal dari suara Moana.


Wanita itu begitu jahil sampai membuat suasana di dalam rumah semakin tegang. Apalagi ketika melihat reaksi Thoms yang berhasil tertipu, sebab Nay tanpa disengaja memejamkan mata seolah-olah terjadi sesuatu padanya.


"Apa yang kamu lakukan padanya, Dek! Kenapa kamu membun*uhnya, hahh? Kenapa!"


Baru kali ini Moana melihat amarah yang sangat besar dari sang kakak kepada dirinya, hanya karena membela Nay yang dikira Thoms sudah meninggal dunia.


"Memang kenapa? Bukannya tadi Kakak bilang sendiri kalau Kakak tidak mencintainya, bahkan Kakak tidak peduli dengannya. Jadi---"


"Kalau aku benar-benar tidak mencintainya, buat apa juga aku meminta semua anak buahku untuk mundur, hahh? Buat apa! Asal kamu tahu, itu semua aku lakukan demi melindunginya dari senjata yang ada ditanganmu. Karena aku ... A-aku sangat mencintainya!"


Degh!


Jantung Naya berdetak sangat keras ketika mendengar kata-kata yang tidak pernah dia dengar sama sekali dari mulut para pria. Hanya Thoms, satu-satunya pria yang berhasil membuat hati Nay bergetar hingga napasnya mulai tidak beraturan.


Moana tersenyum menatap sang kakak karena telah berhasi mengendalikan perasaannya agar bisa mengungkapkan pada Nay. Walaupun, cara Moana terbilang sedikit memaksa, tetapi itulah cara satu-satunya agar Naya bisa mengetahui perasaan Thoms yang penuh gengsi.


"Tu-tuan, Nona Nay ti-tidak me-mening----"


Thoms melirik sadis ke arah bodyguard yang menyadari, bahwa Naila belum meninggal. Akan tetapi, dia langsung menundukkan pandangan ketika Thoms memberikan kode maut padanya.


"Kau benar-benar sudah membunuhnya, Dek! Kakak tidak menyangka kamu bisa berubah menjadi jahat hanya kerena membela keluarga suamimu yang tidak lain adalah keluar pembu*nuh orang tuamu sendiri. Maka, dengan ini Kakak tidak akan main-main lagi!"

__ADS_1


"Hari ini, tepatnya di depan matamu sendiri. Kamu akan menyaksikan satu persatu dari mereka habis ditanganku, mulai dari anak yang saat inu berada di dalam gendonganku!"


Kali ini Thoms tidak akan main-main lagi, tatapan tajam dari matanya telah diselimuti oleh kebencian, dendam, serta amarahan yang begitu besar terhadap Moana dan keluarga dari suaminya.


Suasana tegang itu kembali berkali-kali lipat ketika melihat Thoms mengeluarkan senjata kecil yang berada di dalam saku jasnya. Senjata itu selalu dibawa ke mana pun Thoms pergi tanpa meninggalkannya demi berjaga-jaga apabila nyawanya berada di dalam ancaman.


Thoms menarik pelantuknya, kemudian ingin menekan tombol kecil menggunakan telunjuk kanan tepat dikepala Barra. Akan tetapi, semua itu tidak terjadi sebab Naya langsung membuka matanya dan berdiri tegak sambil mengambil senjata yang ada di tangan Moana.


Semua langsung terkejut karena Nay berdiri tepat di depan Thoms dengan mengarahkan senjata itu di jantungnya sendiri.


"Jika Tuan benar-benar mencintai diriku, berikan anak itu kepada ibu yang telah melahirkannya. Lalu, kumpulkan semua senjata tepat di bawah kakiku! Jika Tuan tidak mendengar apa yang aku katakan, bersiaplah. Kali ini aku akan benar-benar mengakhiri hidupku demi anak yang tidak bersalah itu!"


"Tuan tahu, bukan? Ini adalah tempat di mana jantungku berdetak. Sekali saja aku tembakan peluru yang ada disenjata ini, maka Tuan akan benar-benar kehilangan diriku untuk selamanya!"


Seorang ketua Mafia kejam yang sangat ganas untuk menghabisi musuhnya, kini berhasil dipermainkan oleh adiknya sendiri yang sama sekali tidak pernah mengetahui bagaimana cara kerja seorang Mafia.


"Ka-kalian ... Ka-kalian sudah membohongiku?" ucap Thoms, syok melihat Naya masih bisa membuka mata untuk menatapnya tanpa mengalihkan pandangan dari bola mata Thoms sendiri.


"Mungkin, adik Tuan bisa mengelabuhi Tuan karena misinya yang ingin mengungkapkan perasaan Tuan pada saya. Namun, bagi saya tidak! Buat apa saya dicintai oleh pria yang akan membu*nuh keponakannya sendiri hanya karena dendam. Padahal, anak itu tidak bersalah atas apa yang diperbuat oleh kakeknya!"


"Jika Tuan memiliki dendam masa lalu, selesaikan semua urusan itu hanya pada seseorang yang bersangkutan. Bukan menyakiti anak, istri, bahkan cucunya yang tidak tahu menahu persoalan di masa lalu. Aku tidak menyukai pria penge*cut seperti Tu---"


Perkataan Naya langsung dipotong oleh Thoms akibat emosi yang semakin meledak-ledak di dalam hatinya. Thoms tidak terima atas apa yang Naya ucapkan, lantaran gadis itu tidak merasakan apa yang Thoms rasakan.


Hati Thoms sudah sangat sakit. Dia harus menjadi saksi hidup satu-satunya ketika Sakha dan komplotannya berhasil melenyapkan kedua orang tua Thoms bagaikan seekor binatang.

__ADS_1


"Yang pantas kau katakan penge*cut itu dia, bukan diriku!" tunjuk Thoms ke arah Sakha, tatapan matanya benar-benar sangat merah akibat dendam yang begitu mendalam.


"Hanya dialah pria satu-satunya yang paling penge*cut di dunia ini yang pernah aku temui! Bertahun-tahun dia lari dari semua tanggung jawabnya demi menghilangkan jejak di masa lalu, tetapi tanpa disadari sejauh apa pun dia berlari. Sejauh itu pula aku akan terus mengejarnya!"


"Kau tidak tahu apa yang aku rasakan pada waktu itu, jika saja kita tukeran posisi aku yakin sangat yakin. Kalau kau pasti akan melakukan apa yang aku lakukan saat ini, tidak peduli apa pun rintangannya. Bagiku yang namanya nyawa tetap dibalas nyawa dan da*rah tetap dibalas da*rah, paham kau!"


Tanpa Thoms beritahu, Naya sudah bisa merasakan apa yang sebenarnya Thoms rasakan. Hanya saja, bukan ini solusi terbaik untuk mereka. Apalagi Thoms belum melihat bukti apa yang Sakha miliki agar mereka semua bisa menyelesaikan kesalah pahaman tanpa menggunakan emosi.


Naya hanya kasihan melihat Barra yang sebentar-bentar menangis akibat suara Thoms mengejutkan jantungnya. Semua orang tidak berani ikut campur, tetapi tetap terus mengawasi pergerakan keduanya.


"Aku paham, Tuan. Betapa sakitnya hatimu itu ketika Tuan menjadi saksi utama kema*tian mereka, tetapi apakah Tuan ingat? Ketika aku koma, mendiang kedua orang tua Tuan telah berpesan padaku untuk menjaga, serta menasihati Tuan agar bisa mengikhlaskan semua yang terjadi sebagai takdir Tuhan. Mendiang kedua orang tua Tuan di sana sudah merasa senang dan ikhlas atas kema*tian mereka, lantas kenapa Tuan malah membuat mereka kembali bersedih?"


"Sekarang Tuan pandanglah wajah ponakan Tuan sendiri, apakah Tuan tega melenyapkan wajah polos itu yang sama sekali belum memiliki dosa sedikit pun? Bagaimana dengan nasib adik Tuan, juga kakak dari anak yang ada digendongan Tuan? Sanggupkah Tuan melihat kebencian yang ada di dalam bola mata mereka setiap kali menatap Tuan? Tidak, bukan!"


"Maka dari itu, aku mohon Tuan. Sudahi semua dendam ini, kita mulai perbaiki kesalahan yang ada. Lupakan masa lalu karena dengan begitu orang tua Tuan akan jauh lebih tenang tanpa merasa sedih ketika masih melihat sikap Tuan yang seperti ini!"


"Sudah cukup Tuan mengotori kedua tangan itu dengan da*rah seseorang. Sekarang waktunya Tuan berubah, ingatlah! Suatu saat nanti Tuan akan memiliki keluarga sama seperti mereka, apakah Tuan tidak kasihan jika keluarga kecil Tuan sendiri akan menjadi korban berikutnya? Tidak sayangkah Tuan kalau sampai dendam yang Tuan tanam ini mengalir deras di dalam da*rah ponakan Tuan sendiri?"


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2