Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Mengetahui Rahasia Ernest


__ADS_3

Di dalam kamar. Moana langsung duduk di sofa panjang sambil memakan permen kapasnya, dalam keadaan wajah yang sangat datar.


Di atas meja penuh dengan popcorn, permen kapas, lolipop dan sebagainya. Sementara Ernest yang baru saja masuk ke dalam kamarnya segera duduk di samping Moana.


"Sudah berani ya, kamu berkata seperti itu pada suamimu sendiri di depan orang lain?" ucap Ernest penuh penekanan.


"Coba, tolong ulangin lagi. Saya tidak dengar!" ucap Moana melirik Ernest sangat sinis.


"Sudah berani ya, kamu berkata seperti itu pada su--"


"Su, apa?"


"Suamimu se---"


"Lebih keras!"


"Suamimu sendiri!"


Ernest berbicara penuh penekanan di setiap kata-katanya, suaranya pun terdengar lantang. Terlihat sekali betapa kesalnya Ernest, saat Moana selalu meminta untuk mengulanginya tepat di kata (suamiku).


"Suamiku? Sejak kapan Tuan mengakui, bila Tuan ini adalah suamiku. Hem?"


"Bukannya Tuan pernah bilang, kalau kita ini menikah hanya karena anak? Ohya, satu lagi. Jangan Tuan kira saya tidak tahu tentang rencana picik yang sedang Tuan jalani saat ini!"

__ADS_1


Jantung Ernest langsung berdebar tidak karuan. Dia benar-benar terkejut atas perkataan istrinya yang ternyata mengetahui sesuatu tentangnya.


Hanya saja, Ernest langsung berpura-pura untuk menutupi semua perasaan gugup dan juga paniknya. Ernest mencoba menepis semua pikiran itu, karena tidak mungkin Moana bisa membaca taktik Ernest yang sangat di rahasiakan.


"Ma-maksudmu a-apa? Sa-saya tidak mengerti." ucap Ernest gugup, tetapi berusaha tetap terlihat cool.


"Alaahh, enggak usah bersandiwara, Tuan. Saya bukan anak kecil yang bisa Tuan bohongi, meski saya bukan istri Tuan seutuhnya. Akan tetapi, saya sangat paham lebih dari Tuan memahami diri Tuan sendiri." jawab Moana sambil menikmati popcorn.


"Sa-sandiwara apaan sih, jangan ngaco deh! La-lagian juga saya merencanakan apa, hahh? Dasar wanita aneh! Udahlah jangan ngada-ngada, ini udah mal---"


"Sifat Tuan yang terlihat baik malam ini, hanyalah sebuah drama demi menarik simpati Ayah dan Bunda agar kembali berpihak padamu. Dengan begitu Tuan bisa kembali mengambil hati mereka dan membuktikan bila Tuan ini adalah suami yang baik untukku dan Ayah yang hebat untuk anakku. Bukan begitu Tuan Ernest Keizaro Raymoon?"


Kalimat yang Moana sampaikan padanya, benar-benar di luar dugaan Ernest. Kenapa Moana bisa membaca semua pikirannya dengan mudah? Bahkan kedua orang tuanya saja yang sudah mengenalnya dari dalam kandungan pun, tidak bisa menebak apa yang sedang Ernest rencankan.


Namun, sayangnya Ernest langsung menyangkal semua perkataan Moana. Dia tidak terima di tuduh seperti itu oleh istrinya sendiri.


"A-apa-apaan ini, hahh? Ka-kau menuduh suamimu sendiri melakukan hal konyol itu? A-apa untungnya buat saya melakukan semua itu? Bukannya itu malah akan membuat Ayah dan Bunda semakin menjauh?"


"Secuek apapun saya denganmu, tetapi saya tidak ada niatan seperti itu pada kalian. Anak itu anak saya, jadi apa salahnya bila saya bersikap baik padanya? Ha-harusnya kamu itu senang, kalau suamimu sudah bersikap romantis. Bukan malah menuduhnya yang tidak-tidak!"


Ernest menatap Moana yang sedang makan, rasanya dia memang kesal dengannya karena rahasianya sudah bisa di ketahui. Akan tetapi, entah mengapa. Melihat wajah teduh Moana membuat hatinya yang terasa panas malah mereda dengan sendirinya.


"Sudalah, Tuan. Tidak perlu berbelit-belit, Tuan ini tidak pantas menjadi pembohong atau pun penjahat. Jadi, jujurlah. Saya tidak masalah, karena saya masih ingat batasan kita. Atau, kalau perlu setelah anak ini lahir kita berpisah saja. Biar--"

__ADS_1


"Hentikan ucapanmu, sekarang! Cepat, pergi ke kamar mandi terus gosok gigimu dengan bersih. Lalu minum air putih yang banyak, saya tidak mau sampai anak yang ada di dalam perutmu terkena penyakit gula. Ngerti kamu!"


"Dan satu lagi, jangan pernah berpikir untuk berpisah. Sebab, pernikahan bukanlah ajang permainan yang bisa kamu mainkan sesuka hatimu sendiri. Ngerti!"


Ernest terlihat begitu marah saat Moana mengutaran kalau dia ingin berpisah setelah anaknya lahir. Moana yang benar-benar syok, hanya bisa menatap Ernest yang saat ini langsung merampas semua makanan dari tangannya.


Lalu menggendengnya sedikit menarik ke arah kamar mandi, setelah Ernest membaw Moana ke dalam kamar mandi. Dia langsung menutup keras pintu tersebut sambil berkata cukup lantang dari luar.


"Saya tunggu 10 menit, bila tidak keluar ataupun selesai melakukan apa yang saya perintahkan. Maka saya akan turun tangan untuk menggosokan gigimu. Dengar tidak!"


Saat suara itu terdengar cukup keras di telinganya. Moana langsung bergegas membersihkan mulut dan berkumur. Terlihat sekali tangannya tremor ketika jantungnya masih berdebar akibat terkejut atas sikap suaminya.


Bisa di bilng Ernest sudah mulai perhatian kepadanya, tetapi semua itu selalu di atas namakan dengan anaknya. Jadi, Moana selalu salah paham dan menganggap kalau Ernest hanya mementingkan anaknya sendiri.


Sementara Ernest yang masih belum menyadari perbuatannya hanya bisa menarik napas dalam-dalam, ketika emosinya mulai muncul saat mendengar kata perpisahan.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2