
Justin sudah mendapatkan perawatan di kamar tersendiri sambil menunghu dokter mempersiapkan semua tes yang akan dilakukan. Ketika semua suap siap, barulah Justin dinawa ke sebua ruangan khusus untuk melakukan pengobatan. Sementara Ernest dan Moana haya bisa menunggu di luar ruangan.
Setelah beberapa menit, akhirnya Justin sudah selesai melakukan beberapa tes untuk kondisi tangannya. Dokter bersama beberapa perawat keluar dari ruangan itu untuk membawa Justin kembali ke kamarnya sambil menunggu hasil tes keluar.
Sekembalinya Justin ke ruangan, sang dokter menjelaskan bahwa hasil tes akan diberitahukan setelah 30 menit sesudah tes dilakukan. Dikarenakan semua hasil tersebut akan di cek terlebih dahulu oleh ahlinya agar tidak ada tindakan kesalahan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit.
Moana sama Ernest hanya bisa menganggukan kepalanya untuk menunggu kembalinya sang dokter yang akan membawa tes tersebut. Tidak lupa, di kamar Justin sudah ada 2 bangkar yang ukuran besar untuk kedua anaknya. Di mana Barra tertidur di bangkar satunya yang sudah disediakan bersama Ernest, sementara Justin di bangkar miliknya sambil di suapkan makanan oleh Moana.
"Bagaimana tangannya, apa masih sakit?" tanya Moana di sela-sela menyuapin Justin.
"Sedikit, Mom. Cuman, sekarang udah lebih baik, kok. Apa lagi pas dokter udah kasih kain ini." Justin tersenyum setelah hampir seharian menangis.
Rasanya sudah sedikit lega saat mereka bisa kembali melihat Justin ceria, walaupun tangan kirinya harus memakai gips. Sedih ya, memang sedih. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mempercayakan kesembuhan anaknya pada Tuhan juga dokter yang akan terus memantau kondisi Justin.
"Syukurlah, oh, ya. Mommy mau nanya, sebenarnya apa yang terjadi sama Justin dan daddy di taman, kenapa kalian bisa terjatuh? Terus, mereka itu siapa? Boleh Justin jelasin sama Mommy pelan-pelan?"
Moana menanyakan semua sedetail itu, karena dia belum menemukan jawaban apapun tentang kejadian yang menimpa putranya. Justin menoleh ke arah samping, melihat Ernest berada di atas bangkar bersama Barra yang sedang tidur.
__ADS_1
Ernest hanya bisa menganggukan kepalanya, dia juga tidak tahu secara detail bagaimana asal mula kejadian yang menimpa anaknya. Setahu Ernest, Justin tidak jadi bermain karena tidak diperbolehkan oleh Edo beserta teman-temannya, selebihnya Ernest tidak tahu lagi apa yang mereka bicarakan ketima pertama kali berkenalan.
Perlahan Justin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka sambil makan. Meskipun, Justin berbicara tidak sedetail sama apa yang terjadi di taman. Tetap saja intinya sama, hanya kata-katanya yang tidak sama persis seperti apa yang Justin bicaran pada Edo dan teman-temannya.
Meskipun Moana serta Ernest bisa mengerti maksud dari penjelasan anaknya, mereka tidak menyangka seorang anak kecil seumuran Justin sangat berani melawan Edo dan kedua temannya yang usianya jauh diatas dia. Inilah yang Moana banggakan pada anaknya, dia bisa membela harga diri orang tuanya walaupun usianya terbilang masih sangat kecil.
Perasaan Ernest sudah campur aduk, dia tidak tahu harus senang atau sedih saat mendengar semua penjelasan anaknya sendiri. Jika dibilang Ernest senang, itu sudah pasti. Dikarenakan Justin seberani itu membela daddynya yang memang tidak memiliki kekuatan apapun untuk melindunginya dalam kondisi kedua kaki yang lumpuh.
Akan tetapi, dibalik semua kebahagiaan Ernest terhadap pembelaan anaknya, tersirat sebuah rasa bersalah juga kesedihan yang cukup tidak nyaman di dalam hatinya. Bagi Ernest semua yang terjadi pada Justin, penyebab satu-satunya karena dirinya.
Moana hanya bisa tersenyum menatap anaknya sambil terus menyuapini makanan kedalam mulutnya sampai habis tidak tersisa. Rasa kagum terhadap anak sulungnya membuat Moana tidak bisa berkata-kata selain menjadi pendengar yang baik.
Mereka sangat beruntung memiliki anak sebaik Justin, padahal dulunya Justin sangat ketakutan sama Ernest akibat sikapnya yang cukup menyakiti hati Justin. Hanya saja semua itu sudah berlalu, kekecewaan juga luka di dalam hati mereka perlahan sudah menghilang bersama munculnya cinta kasih terhadap mereka satu sama lain.
"Sesayang itu Justin sama daddy?" tanya Moana terseyum sambil mengusap pipi anaknya yang sudah selesai makan.
"Iya, dong. Justin sayang banget sama mommy, daddy juga Barra. Pokoknya Justin akan terus menyayangi kalian sama kaya apa yang mommy katakan. 'Kan mommy pernah bilang, hati kita boleh sakit, tapi tidak boleh jadi orang yang pendendam karena itu perbuatan buruk dan Tuhan akan membencinya."
__ADS_1
"Terus juga kita ini keluarga jadi harus saling menyayangi, kalau ada yang salah harus dikasih tahu baik-baik biar enggak selalu melakukan kesalahan bukannya malah diomelin. Satu lagi, mommy bilang keluarga itu kalau berantem sudah biasa asalkan kita tidak boleh sampai membenci saudara sendiri. Jadi, Justin akan selalu menyayangi kalian seperti apa yang mommy ajarkan."
"Justin tidak peduli kalau daddy lumpuh atau daddy tidak punya kaki juga Justin tidak akan malu. Mommy bilang fisik itu titipan Tuhan, kalau di ambil 'kan masih ada hati sebagai sumber kebaikan. Jadi, Justin lebih baik kehilangan kedua kaki daddy dari pada Justin harus kehilangan kebaikan daddy atau nyawa daddy."
"Mereka boleh menjelekan Justin, tapi Justin tidak suka kalau mereka menjelekan daddy. Bagi Justin daddy itu orang yang baik, dia rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Justin seperti apa yang mommy katakan waktu itu. Jadi, kalau mereka harus menyalahkan daddy Justin tidak terima. Daddy begini karena Justin, jadi Justin harus membela daddy sampai kapan pun."
"Mommy juga bilang sama Justin, mommy marah sama daddy, mommy kesal sama daddy makannya mommy ninggalin daddy agar daddy tahu kalau daddy itu salah. Mommy bilang mommy sayang sama daddy, tapi kalau daddy salah mommy tidak boleh selalu membelanya itu tidak dibenarkan. Jadi, kita harus main petak umpet agar kita tahu kalau daddy mencari kita berarti daddy masih sayang sama kita. Kalau tidak, artinya daddy udah enggak sayang sama kita. Ehh, tahunya daddy bisa ketemu kita, berarti daddy menang. Jadi, daddy pasti dapat maaf dari mommy juga Justin dan kita bisa kumpul lagi deh kaya gini,"
Moana melirik Ernest yang sudah berkaca-kaca mendengar cerita dari anaknya. Anak yang selama ini tidak dia harapkan, ternyata memiliki cinta kasih yang sangat besar terhadapnya. Jarang sekali anak seusia Justin sudah bisa membela orang tuanya, sedangkan yang lain ketika menghadapi hinaan seperti itu malah akan memilih menangis atau ngamuk hingga menimpulkan pertengkaran satu sama lain.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1