
"Astaga, Ernest! Apa yang sedang kamu lakuin?" tanya Moana dalam wajah tertutup.
"Ada juga aku yang harus menanyakan hal itu padamu, bukan kamu!" sahut Ernest, wajahnya sudah sangat merah. Semua itu karena dia sedang menahan rasa malu, marah dan juga sesuatu yang terasa sangat nanggung.
"A-aku 'kan udah bilang kalau aku ini udah kebelet, tapi kamu tidak dengar ya udah aku masuklah. Dari pada aku ngompol, di kata aku anak kecil!" jawab Moana masih menutupi wajahnya.
"Bodo amat, dahlah sana pergi. Sebelum aku menerkammu di sini!" pekik Ernest, kesal.
Moana terkejut sama apa yang suaminya katakan, lebih baik dia segera pergi ke luar kamar mandi dalam keadaan malu yang sangat mendalam. Bagaimana tidak, sebenarnya tanpa di sadari Moana telah sedikit melihat si Gatot. Hanya saja tidak semuanya terlihat, karena tertutup oleh tangan kekar suaminya.
Begitu juga Ernest, dia langsung menyudahi aksinya lalu membersihkan area terlarang dan kembali memakai celananya. Dimana saat Ernest baru keluar kamar mandi melihat Moana sedang menyusui Justin dalam keadaan membelakanginya.
Tanpa ingin berkata apapun lagi, Ernest langsung tertidur dengan membelakanginya. Rasa malu di antara mereka membuat keduanya menjadi salah tingkah. Sesekali Moana menoleh ke arah punggung suaminya dan kembali menatap anaknya.
Justin merasa begitu tenang saat mendapatkan sumber makanannya, berbeda dengan Ernest yang susah payah menahan rasa gelisah, pusing, emosi dan juga cenat-cenut yang sangat menyiksa tubuhnya.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, Moana sudah selesai menyusui anaknya. Kemudian menaruh Justin di box tidurnya, lalu Moana pergi ke kamar mandi terlebih dulu. Sesudah itu perlahan mulai menaiki ranjangnya.
Saat Moana ingin menarik selimut, tiba-tiba suaminya membalikan badan langsung miring menghadap ke arah Moana. Awalnya dia terkejut, akan tetapi saat melihat suaminya berkeringat lalu sedikit menggigil membuatnya refleks memegang keningnya.
__ADS_1
Matanya membola saat mendapati suhu tubuh suaminya yang panas. Wajah panik Moana tidak bisa di bohongi, dia segera pergi ke dapur untuk mengambil minum dan juga mencari stock obat penurun panas.
Sesudah mendapatkan semua itu, Moana kembali ke kamarnya dan bergegas untuk duduk di samping Ernest.
"Sayang, hei ... Bangun dulu yuk, minum obat!" ucap Moana sambil menepuk pelan pipi suaminya.
"A-aku ma-mau ga-ganti oli, bu-bukan obat!" ucap Ernest lirih, tanpa membuka matanya.
"Ga-ganti oli? Ma-maksudnya?" tanya Moana. Wajahnya begitu bingung ketika tidak mengerti kode yang suaminya berikan.
Ernest yang tidak tahu harus menjelaskan seperti apa lagi, hanya bisa memegang tangan Moana dan mengarahkannya ke Gatot.
Dari situ barulah Moana mengerti, bahkan bisa merasakan pergerakan dari Gatot yang berkedut-kedut. Artinya ada sesuatu yang sedang Ernest tahan dari tadi. Hanya saja, Moana masih terkejut dan juga bingung.
"Udahlah jangan banyak mengigau, pikiranmu lagi tidak sinkron. Lebih baik buk mulutmu dan minumlah!"
Moana langsung mencoba sedikit menahan kepala suaminya untuk di bangunkan perlahan, agar bisa menelan obat yang dia berikan.
Setelah itu, Moana kembali menidurkan Ernest sambil menyelimuti sebatas dadanya. Sementara Moana yang masih syok, langsung merebahkan diri dan ikut tertidur bersama suaminya.
__ADS_1
Akan tetapi, semua itu tidak bertahan lama. Lantaran Moana tidak bisa tidur ketika mendengar celotehan Ernest yang merengek bagaikan seorang balita. Persis seperti balita yang sedang menginginkan sesuatu.
Moana yang sedikit penasaran, lagi-lagi mencoba untuk memegang kening Ernest. Dan betapa terkejutnya, ketika mendapati suhu panas Ernest yang malah semakin meninggi.
"Astaga, apa aku salah memberikan obat? Kenapa panasnya malah makin tinggi, terus gimana ini. Adehh!"
Wajah panik, gelisah dan juga khawatir membuat Moana bolak-balik mengecek obat yang dia berikan apakah benar atau tidak. Ketika obatnya benar, di situlah kebingungan semakin membuat Moana pusing.
Pada akhirnya perkataan Ernest kembali teringat, kalau dia menginginkan sesuatu dari Moana untuk si Gatot. Moana yang tidak percaya langsung mengambil ponselnya dan membuka google, untuk mencari kebenarannya.
Ternyata memang benar, banyak resiko yang di timbulkan oleh penundaan ketika seorang pria sudah merasakan sesuatu yang di tahan ketika ingin keluarkan oleh tubuhnya. Mungkin tidak semua orang mengalami efek yang sama dengan Ernest, hanya saja dia terlalu memikirkan hingga terbawa suasana.
Dari situ Moana mulai berpikir keras untuk memikirkan bagaimana caranya bisa membantu suaminya, agar semua itu tidak sampai berlarut-larut.
Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan, Moana pun mulai mencari sesuatu melalui ponsel genggamnya. Dia berharap ada sesuatu yang akan di temukan untuk sekedar membantu suaminya supaya tidak merasa tersiksa seperti ini.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung