
"Sudah berani kau membentak istriku, hahh? Siapa yang mengajarkanmu seperti ini? Katakan!" tegas Sakha yang ikut berdiri menatap tajam Ernest.
"Sayang, sudahlah. Lagian pula Bunda begitu hanya sekedar antusias saja, kamu tahu sendiri Bunda 'kan sangat mengingingkan cucu perempuan. Jadi, lebih baik kamu sekarang minta maaf sama mereka. Aku yakin, perlahan tapi pasti. Suatu saat kamu akan mencintaiku, melebihi rasa cintaku padamu." ucap Moana, tersenyum.
Dia mencoba untuk menenangkan suaminya sambil memintanya untuk duduk, agar emosi di dalam dirinya tidak semakin membesar.
Setelah semuanya emosi mereda, mereka kembali duduk. Tidak lupa Ernest pun meminta maaf pada Elice karena sudah kelepaskan.
Elice hanya bisa tersenyum, dia paham. Bahwa sebenarnya anaknya sangat tersiksa akan egonya sendiri. Apa boleh buat, Ernest sendiri masih terjebak di dalam zona yang seharusnya sudah lama keluar bersama Moana.
Mereka pun makan bersama dalam keadaan tenang, di iringi oleh suara dentingan alat makan yang saling beradu satu sama lain. Begitu juga Moana yang tersenyum sambil makan dan menggendong Justin.
Beberapa menit kemudian, setelah selesai makan. Ernest dan Sakha pun segera bersiap-siap, lalu mereka berangkat bersama menggunakan mobilnya masing-masing menuju Perusahaan tersendiri.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
1 bulan telah berlalu, dimana Moana sudah tidak selelah biasanya untuk mengurus Justin. Akan tetapi, tanpa di sadari beberapa kali Ernest masih melancarkan aksinya untuk mencuri semangka secara diam-diam. Meskipun tidak setiap hari Ernest melakukannya, tetapi aksinya tetap selalu berhasil.
Semakin hari, Ernest semakin mulai terbiasa tanpa sedikitpun merasakan gemetar. Tidak seperti pertama kali yang masih was-was akan ketahuan oleh istrinya.
__ADS_1
Tepat di malam jum'at pukul 2 malam, Ernest yang sudah selesai dalam menyelesaikan tugas kantornya. Kini, telah bersiap-siap mengecek istrinya agar memastikan bila Moana sudah benar-benar tertidur pulas.
Lambaian tangan Ernest tidak berhasil membuat Moana terbangun, bahkan dia sedikit menoel pipi dan juga hidungnya. Akan tetapi semua itu tidak berhasil membuat Moana terbangun, yang artinya dia sudah tertidur pulas.
"Uhh, akhirnya dia tidur juga. Rasanya aku benar-benar kangen banget, udah 4 hari ini aku tidak menyentuh mainanku. Apakah masih aman? Sepertinya sih, semoga saja aku masih kebagian." ucap Ernest di dalam hatinya.
Perlahan tapi pasti, Ernest mulai gencar untuk mencari mainannya. Akan tetapi, dia lupa bila hari ini Moana menggunakan kaos tidur tanpa kancing di atasnya. Sehingga Ernest langsung terdiam dalam keadaan bingung.
"Astaga, gimana aku bisa nenen kalau begini caranya. Lagian juga kenapa sih dia harus memakai baju seperti ini. Semakin ke sini bukannya semakin mempermudah jalanku, ini malah semakin mempersulit*!"
"Terus bagaimana denganku? Masa iya Justin dengan mudahnya mendapatkan nenen. Sedangkan aku? Harus mencolongnya terlebih dulu, bagaikan maling. Baru bisa mendapatkan semua itu. Benar-benar menyebalkan*!"
Ernest berbicara di dalam hatinya dengan perasaan kesal melihat istrinya menggunakan kaos tanpa memberikan celah sedikitpun untuknya.
Dari sini Ernest perlahan mulai menarik kaos Moana sedikit ke atas, tetapi itu tidak semudah yang dia perkirakan. Moana refleks mengganti posisi tidurnya membelakangi suaminya. Sementara Ernest pun terkejut dan berpura-pura tertidur.
Setelah itu kembali bangun dalam keadaan menatap punggung Moana. Rasa kesal itu semakin bertambah, jalan satu-satunya Ernest hanya bisa memasukan tangannya ke dalam baju seperti sedang memeluk Moana dari arah belakang.
Tidak ada mulut, tangan pun jadi. Begitulah pikiran Ernest, setidaknya dia bisa tertidur pulas karena rasa kangennya sedikit terobati dengan cara memaikan benda keramat menggunakan tangan. Sehingga benda keramat itu telah berubah menjadi benda kesayangannya.
__ADS_1
Akan tetapi, saat Ernest sedang asyik memainkan mainannya begitu gemas. Tanpa dia sadari kedua mata Moana mulai terbuka saat dia merasakan sesuatu di tubuhnya.
Moana melihat ke arah tubuhnya, dimana matanya membola saat menyaksikan bajunya bergerak sendiri. Pertanda bila benar adanya, kalau di dalam bajunya ada sebuah tangan kekar yang sedang mengobrak-abrik isi **********.
Tidak hanya itu, jari Ernest pun ikut menari ria sampai membuat pucuk gunungnya menjadi keras. Artinya, saat ini Moana lagi di hadapi oleh perasaan yang cukup menegangkan.
"Ta-tangan? Ja-jangan bilang jika ini tangan adalah Ernest? Ji-jika benar begitu, be-berarti tanda-tanda yang ada di dadaku itu bu-bukan dari Justin? Me-melainkan dari Daddynya?"
"Astaga, Ernest! Kau benar-benar berhasil membuatku menuduh anakku sendiri. Aku kira tanda merah yang ada, sampai membiru itu karena ulah Justin. Ternyata tidak, jadi biang keroknya adalah kamu, iya?"
"Sungguh, di luar dugaanku. Ternyata diam-diam dia sudah mulai berani menyentuhku, hanya saja masih secara diam-diam? Hihh, dasar gengsi!"
"Lihat saja, akan aku balas semua perbuatanmu ini, Sayang. Tidak akan aku biarkan kamu tertidur dengan nyenyak mulai malam ini dan selanjutnya!"
Moana tersenyum miring dengan tatapan lurus ke arah depan, dimana pikiran hingga ide jahilnya mulai terlintas di dalam pikiran. Sementara Ernest masih asyik saja menjelajahi mainan kembarnya tanpa mengetahui, bila sesuatu sebentar lagi akan menimpanya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung