Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Melupakan Janji


__ADS_3

"E-edi tok pelgi? Edi tan beyum peyuk Ustin ayo Omi. A-apa Edi ndak cuka Ustin angun ya, apa Ustin halus tidur teyus? Api adi Omi biyang alo Edi yang cekalang, utan Edi yang kemalin. Edi agi anyak keljaan, asti Edi apek."


"Adi itu, Ustin engen anget di peyuk cama Edi yang ama anget. Api, Edina ndak au. Edi alah elgi inggalin Ustin, emangna Ustin calah apa cama Edi? Apa karena Ustin natal? Alo itu, Edi au dadi anak aik bial Edi bica cayang teyus cama Ustin. Ustin cayang Edi, Ustin atan beldoa cama Tuhan bial tita bica cama-cama teyus. Aamiin ...."


Justin berbicara di dalam hatinya saat melihat ke arah pintu yang sudah tertutup. Air matanya menetes tanpa isakan, membuat Justin sendiri tidak paham sama apa yang dia rasakan saat ini. Intinya, Justin hanya ingin kembali merasakan pelukan hangat dari Ernest.


Saat pintu terbuka, wajah Justin kembali ceria. Dia menyangka Ernest kembali untuk menemuinya dan akan memeluknya. Sayangnya, itu bukan Ernest. Seketika wajah cerita itu kembali murung saat apa yang dia harapkan tidak terwujud.


Seorang dokter beserta asistennya datang, saat melihat Ernest pergi begitu saja dalam keadaan berjalan cepat tanpa menegur sang dokter. Di situ sang dokter takut, jika ada sesuatu yang terjadi pada Justin.


Dan, saat melihat Justin bersedih. Sang dokter beserta asistennya segera menghibur Justin agar di tidak terlalu sedih, sebab itu tidak baik bagi pemulihan kesehatannya.


"Loh, loh, loh ... Ada apa ini, hem? Kenapa wajahnya sedih begitu setelah ketemu Daddy, pasti masih kangen ya. Udah gapapa, nanti ketemu Daddy lagi, oke? Sekarang Justin harus istirahat dulu ya, nanti sebentar lagi kamarkan akan di pindahkan biar bisa satu kamar dengan Mommy. Gimana, Justin suka? Bahagia? Hem ...."


Sang dokter berusaha membujuk Justin agar dia bisa kembali tersenyum. Di balik kesedihan yang Justin rasakan, sang dokter bisa merasakan itu semua lantaran terlihat jelas bila Justin sangat merindukan Ernest.


"Wahh, Ustin auu cekamal cama Omi, dokter. Ustin auu!" jawab Justin, antusias. Dia begitu senang ketika di persatukan dengan Mommynya.


Sang dokter pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Begitu juga asisten sang dokter yang sedang membantu untuk memeriksa semua keadaan Justin sebelum di pindahkan.


Untuk mengurangi rasa sedih di wajah Justin, sang dokter terus mengajaknya berbicara sambil bercanda, supaya Justin lebih semangat lagi untuk melewati semuanya dan kembali tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu selang beberapa menit, Justin pun di pindahkan dengan bantuan beberapa suster dan perawat yang mendorong serta mengantarkan Justin untuk menuju kamar Moana.


Sementara Justin sudah mulai kembali tersenyum, berbeda sama Ernest. Dia yang baru saja masuk ke dalam mobilnya langsung mengamuk begitu saja.


Entah karena kesal, kecewa atau sedih yang intinya Ernest sendiri pun tidak tahu apa yang dia rasakan. Sehingga, dia hanya tahu betapa kesalnya atas semua ujian yang telah dia jalani saat ini.


Kenyataan yang begitu sakit, berhasil membuat Ernest selalu bingung. Haruskah dia mengendalikan rasa kecewa di hatinya dan mencoba menerima semuanya kembali, atau dia harus tetap pada pendiriannya apa bila semua yang dia lakukan selama ini adalah kesalahan.


Mungkin, karena Ernest terlalu baik dengan semua orang. Maka dia sering kali di manfaatkan, contohnya sekarang ini. Bertahun-tahun dia hidup dengan keluarganya yang baru saja dia cintai, tapi pada akhirnya semua itu hanyalah kebohongan. Dia di tipu habis-habisan oleh Moana dan juga Felix.


Di saat Ernest berteriak untuk meluapkan rasa kesalnya, tiba-tiba dia mendengar dering ponsel yang berasal dari saku celananya. Segera mungkin Ernest mengangkatnya, meski sedikit bingung sama nomor yang tidak dia kenali.


[Hallo, siapa?] tanya Ernest, dingin.


[Hem, terus?] tanya Ernest, kembali.


[E-ee .... Sa-saya, sa-saya i-ingin memberitahu pada Tuan. Sa-saya sudah tidak bekerja lagi di sana, ini baru saja saya kembali dari tempat itu untuk mengundurkan diri. Setelah semuanya beres, saya langsung mengabarkan pada, Tuan,]


Suara Dinda terdengar terbata-bata, lantaran dia tidak enak mengatakan keadaannya saat ini. Apa daya, jika Dinda tidak berani maka dia tidak bisa kembali mendapatkan kerjaan.


Kini, harapan satu-satunya ada pada Ernest. Dikarenakan, Ernest sudah berjanji padanya untuk memberikan pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar. Apa lagi Ernest tahu, Dinda bukanlah lulusan sekolah tinggi. Dia hanya lulusan SMP, jadi untuk mencari pekerjaan sangatlah sulit.

__ADS_1


Namun, Ernest malah seakan-akan melupakan janjinya itu untuk menawari pekerjaan di saat posisinya sedang dalam emosi yang cukup tinggi.


[Terus, saya harus peduli gitu? Kau itu bukan siapa-siapa saya, jadi saya tidak peduli! Mau kau jadi gelandangan kek, kekurangan pekerjaan kek bahkan ma*ti pun. Saya tidak peduli!]


Ernet membentak Dinda begitu kencang dan langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Sedangkan Dinda, masih syok ketika mendengar suara bariton Ernest yang cukup membuat jantungnya hampir copot.


Tanpa di sadari Dinda begitu menyesal, dia menangis sejadinya akibat hidupnya benar-benar sudah sangat susah.


Jika tahu endingnya seperti ini, Dinda sangat-sangat menyesal telah keluar dari pekerjaan itu. Di mana Dinda sudah tidak bisa lagi kembali di sana, karena sudah di tolak mentah-mentah. Di tambah dia juga tidak mendapatkan gaji bulan ini.


Jadi, Dinda harus bertahan dengan hidupnya menggunakan uang sisa simpanannya yang semakin menipis. Dia harus irit mengeluarkan biaya untuk hidup sehari-hari, agar tidak terlalu boro sebelum mendapatkan pekerjaan yang baru.


Dinda begitu menyesal, karena telah berharap pada orang yang salah. Sehingga dia berada di posisi yang sangat sulit ini. Tidak lagi-lagi Dinda mempercayai orang lain, selain dirinya sendiri.


Fokusnya saat ini, Dinda hanya harus lebih semangat lagi untuk mencari pekerjaan. Apapun itu Dinda tidak akan milih-milih, selagi dia tidak sampai menjual tubuhnya sendiri.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2