
Pria menyebalkan ini benar-benar membuatku tidak bisa berkutik! Lagian juga kenapa sih, Nay. Semalam gak bisa jaga keseimbangan sampai-sampai bisa cium tuh, cowo! Akhhela ... Jadi, panjang 'kan, urusannya!
Mana ini jantung dag-dig-duh mulu lagi, berasa kek punya penyakit jantung, sumpah! Aarrghhh ... Ibu tolong, Nay. Kenapa anakmu yang cantik, imut, baik, pengertian, dan menggemaskan ini bisa terjebak sama pria model ikan kakap kek dia, huaa ...."
Nay berteriak di dalam hatinya berharap bisa mengendalikan emosi sesaat, lalu segera menjauhkan diri dari Thoms. Akan tetapi, Nay malah semakin tidak berkutik ketika melihat senyuman Thoms yang sangat menawan hingga membuat hatinya berdebar-debar. Baru ini Nay terpanah akan ketempanan seorang pria selain idolanya sendiri.
Ingin rasanya Thoms tertawa lepas ketika wajah Nay terlihat sangat lucu jika lagi ketakutan seperti ini. Sebenarnya, itu bukan efek dari rasa takut yang Nay berikan saat melihat Thoms semakin mendekatkan ke arah bibir, melainkan rasa berbeda yang tidak bisa Nay ceritakan.
Saat melihat Thoms yang berbeda dengan senyuman kecil itu persis seperti pertama kali Nay jatuh cinta terhadap idolanya, tetapi kali ini lebih dari sekedar itu.
Mam*pus kau, Nay. Bagaimana ini, akhhh ... Kenapa tubuh ini diam aja sih, kenapa bukan tampol, tendang, atau dorong kek. Ini malah diam kek patung, dasar Nay bo*doh!
Nay hanya bisa mengumpati dirinya sendiri atas sikap lemahnya yang tidak berdaya. Jelas-jelas Nay tahu hanya tinggal satu sensi saja bibir mereka bersentuhan, Nay malah spontans menutup kedua mata ketika wajah Thoms berubah menjadi Oppa Jungkook sang idola di hati kecilnya.
Thoms benar-benar tidak kuat lagi untuk menahan tawa yang terus menerus menggelitiki perutnya. Sehingga, pecahlah tawa Thoms membuat Nay kembali membuka kedua mata menatap bingung ke arahnya.
"Buahah ... Dia benar-benar sangat bo*doh! Bisa-bisanya memejamkan mata ketika seseorang tidak dikenal ingin menciumnya, semurah itukah harga dirimu, Nona? Haha ...."
Kali ini Thoms benar-benar sudah membuat gadis itu mulai emosi, hingga tawa yang seakan menghina langsung terhenti ketika tangan kecil tersebut melayangkan sebuah tato ke arah pipi sebelah kiri.
__ADS_1
Plak!
Thoms menoleh ke arah kanan dengan wajah yang sangat datar menatap ke arah lantai. Untuk pertama kali seorang King Mafia mendapatkan penghinaan lebih kejam dari semua kata-kata yang Nay ucapkan sebelum ini.
"Tawamu yang receh tidak sama sekali terdengar menyenangkan, Tuan! Jika harga diriku semurah apa yang kau katakan barusan. Lantas, kenapa kau rela datang tengah malam hanya demi menyelamatkan harga diri gadis rendahan ini? Kenapa, Tuan. Kenapa!"
"Jika memang aku serendah itu dimata Tuan, bagaimana dengan harga diri Tuan sendiri, hahh? Tuan hampir mele*cehkan seorang wanita dengan semua permainan taktik yang Tuan miliki, lalu dengan mudahnya Tuan langsung berpikir seperti itu? Hahh, benar-benar pria tidak tahu malu!"
"Jangan-jangan kau terlalu sering memakai taktik licikmu itu, hanya sekedar memburu mahkota para wanita di luaran sana. Iya? Lalu, setelah kau puas mengambilnya kau tinggalkan mereka begitu saja karena bagimu mereka wanita rendahan. Padahal, kaulah yang baj*ingan!"
Nay bertariak sekuat tenaga tepat di depan wajah Thoms yang sudah menatapnya tanpa sedikit ekspresi sedikit pun. Da*rah Thoms mulai mendidih ketika mendengar cacian itu yang sangat menyakitkan, meskipun apa yang Nay katakan itu sangatlah benar.
Namun, hati Thoms tidak menerima semua hinaan, serta cacian yang Nay lontarkan hanya demi membalas kata-kata Thoms yang bermaksud bercanda.
Kedua tangan Thoms mengepal kuat dengan tatapan mata yang mulai memerah membuat Nay sedikit takut. Nay paham, jika kata-katanya barusan itu sangatlah meyakitkan. Hanya saja, dia tidak peduli akan semua itu. Bagi Nay saat ini, jika ada seseorang yang ingin menyakitinya orang tersebut juga pasti akan merasakan sakit yang Nay rasakan.
Nay tidak ingin menjadi wanita lemah seperti sebelumnya. Direndahkan, dihina bahkan hampir dile*cehkan membuat karakter Nay perlahan berubah. Nay tidak bisa lagi menerima semua itu, baginya sakit dibalas dengan sakit, da*rah di balas dengan da*rah barulah dia akan merasa lega.
Masa lalu yang Nay rasain sangatlah pahit, semakin dia terdiam menerima semua perkataan itu. Maka, akan semakin membut harga diri Nay terinjak-injak, sehingga Nay sudah tidak mau lagi berada diposiai tersebut.
__ADS_1
Menurut Nay, kalau bukan dia yang membela diri sendiri. Lalu, siapa lagi? Nay sudah tidak punya keluarga bahkan ibunya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Sementara ayah tirinya, tidak pernah sedikit saja menghargai pengorbanan Nay sampai hampir ingin menumpahkan hasrat terpendam.
Untung, Tuhan masih baik pada gadis malang tersebut. Sampai banyak pertolongan tidak diduga yang rasakan oleh Nay, sehingga di detik ini saja dia masih tetap menjaga mahkota masa depannya dengan baik.
"Kau benar-benar sudah melewati batasanmu, Nona!" ucap Thoms matanya sudah dipenuhi oleh aura negatif yang sangat menyeramkan.
"Terus? Bagaimana denganmu, Tuan? Apakah kau tidak melewati batasanmu, hahh!" jawab Nay tidak terima.
"Kauuu!" Thoms melayangkan tangan kanannya setinggi mungkin untuk memberikan tamparan keras pada gadis yang sudah berani melawannya.
Sayangnya, Thoms masih menahan tangan tersebut agar tidak menyakiti Nay. Tidak tahu kenapa, hatinya seakan- akan telah menghentikan semua perbuatan salah itu yang membuat mata Nay terpejam akibat terkejut. Dalam hitungan beberapa detik, gadis itu tidak merasakan apa-apa kembali membuka mata dan melihat tangan Thoms masih setia berada di atas kepalanya sendiri.
"Kenapa berhenti, Tuan? Ayo, tampar aku, tampar!" Nay memukuli pipi kirinya seperti menantang Thoms habis-habisan tanpa rasa takut sedikit pun. "Silakan, Tuan. Biar kita impas! Tadi aku sudah menamparmu dan sekarang giliranmu. Cepatlah, tampar, tampar!"
Plak!
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...