
Setelah Justin sudah berada dipelukan Ernest, Moana kembali menantangkan sang kakak yang sudah mulai berjalan mendekatinya dalam keadaan tersenyum.
"Maafkan aku, Kak. Aku harus melakukan ini untuk keselamatan anakku. Sekali lagi maafkan aku," bisik Moana dengan suara yang sangat kecil ditelinga kanan Nay.
"Tak apa, lakukanlah. Aku tidak masalah, selagi anak-anakmu selamat. Aku akan ikuti caramu, jangan pernah takut dan ragu untuk mengambil keputusan yang besar demi kebenaran!" balas Nay dengan suara kecil tanpa membuka bibir agar tidak ketahuan oleh Thoms ataupun anak buahnya.
Setelah mendapatkan kondirmasi dari Nay, di situlah Moana kembali bersemangat untuk berpura-pura menjadikan Nay sebagai tahanannya demi bisa menyelamatkan Barra.
"Ternyata adikku sudah dewasa, ya. Kamu bukan lagi adik kecilku yang sangat manja, tetapi kamu telah berubah menjadi seorang ibu. Kamu rela berkorban sampai menjadi orang jahat untuk bisa menyelamatkan anak, suami, bahkan keluarga mertuamumu yang sudah jelas-jelas mereka telah memisahkanmu dari kakakmu sendiri, serta menghabisi kedua orang tua kandungmu."
Thoms berbicara dengan nada lembut penuh penekanan sambil terus melangkahkan kakinya mendekati Moana tanpa mengalihkan pandangan satu sama lain.
"Inilah keberanian seorang ibu ketika anak-anaknya telah kau sakiti. Ingatlah, Kak! Seorang ibu bisa berubah menjadi apa pun yang dia inginkan demi menyelamatkan anak-anaknya. Kau pasti pernah melihat seekor ayam betina yang selalu dikelilingi anak-anaknya, bukan? Seperti itulah aku!"
"Sekali kau goreskan luka ditubuh anakku, maka aku akan membalasnya berkali-kali lipat. Seorang ayah tidak akan bisa berkorban sedemikian rupa demi menyelamatkan keluarganya, tetapi seorang ibu bisa mengorbankan hidupnya untuk membela keluarganya!"
"Jika kau tidak percaya, buktikan saja sekarang! Aku rela melenyapkanmu sebagai kakakku, hanya untuk menyelamatkan anak-anakku. Dan aku rela ma*ti demi menyelamatkan mereka dari penjahat sepertimu!"
Sungguh, kata-kata yang Moana ucapkan sangat terdengar indah ditelinga semua orang. Apa yang Moana katakan memang benar adanya, pengorbanan seorang ibu jauh lebih besar dari pda seorang ayah.
Ernest juga mengakui semua itu karena dia sendiri tidak bisa senekat yang Moana lakukan. Ernest malah merendahkan harga dirinya demi mengemis sebuah kata maaf yang dia sendiri ketahui, kalau itu sama sekali tidak akan mempan untuk Thoms. Sampai akhirnya, Moana bertindak 3 langkah tepat di depan sang suami ataupun yang lain.
Thoms sendiri benar-benar salut atas keberanian sang adik yang rela menantang sang kakak, padahal Moana sangat tahu siapa orang yang saat ini ditantangnya. Thoms paham, serapuh apa hati Moana ketika melihat kejadian tadi yang pasti akan sangat melekat jelas di dalam memori daya ingatnya.
Mata Thoms bisa melihat adanya kemarahan yang sangat besar melekat jelas dibalik bola mata ketika sedang menatap sang adik. Kini, Thoms sudah berada tepat di depan Moana, juga Nay sambil menggendong Barra yang sudah mulai terdiam dari tangisnya.
__ADS_1
"Kakak suka dengan caramu itu, sungguh kamu memang ibu terbaik yang Kakak pernah temui." Thoms tersenyum menatap samg adik sambil mencari celah untuk membebaskan Nay.
Thoms pikir mudah untuk mengelabuhi Moana, tetapi tidak. Sebelumnya, Moana sudah diwanti-wanti oleh Nay agar tidak lengah ketika Thoms melakukan manipulasi supaya tidak terlena akan pujian yang sewaktu-waktu bisa membuat wanita itu mempercayai kakaknya.
"Maaf, aku tidak haus akan pujian! Sekarang cepatlah, berikan anakku pada suamiku, setelah itu aku akan membebaskan wanita ini!"
Thoms kembali terkejut lantaran Moana cepat sekali membaca taktik yang digunakan untuk mencari celah, ternyata memang benar. Adiknya sudah mulai pintar mengenal siapa kakaknya tanpa harus diberi tahu.
"Apakah tipu dayaku terlalu terlihat, sampai kamu mudah membaca setiap pergerakan kakakmu ini, hem?" tanya Thoms, disertai senyuman licik.
"Aku tidak punya banyak waktu, kembalikan anakku pada suamiku atau aku---"
"Silakkan, jika kau berani membu*nuhnya. Maka, bu*nuhlah dia. Aku tidak akan takut karena aku sangat mengenal baik siapa adikku ini!"
"Ohh ... Jadi, Kakak menantangku, iya? Baiklah, aku akan membuktikannya kalau aku tidak takut dengan semua ini!"
Moana benar-benar tidak takut akan ancaman yang diberikan sang kakak. Dia langsung menarik pelantuk yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya sesuai nasihat dari Nay. Semua yang dilakukan Moana adalah taktik yang diberikan oleh Nay sebelum Thoms berada di depan mereka.
Kali ini Thoms langsung terlihat panik, ketika adiknya bisa mengetahui bagaimana cara menggunakan senjata seperti itu. Jangankan Thoms, semua orang yang ada di sana juga merasa kaget melihat aksi Moana saat ini.
Tidak ada satu orang yang mengetahui kalau Moana dan Nay saling bekerja sama untuk menipu Thoms agar kembali menyerahkan Barra pada keluarganya.
"Apa bukti ini masih belum cukup, Kak? Jika belum, aku masih bisa mwmberikannya lagi. Hanya dengan sekali menekan tombol kecil dijari telinjukku, maka dengan senang hati peluru itu menembus isi kepala wanita yang sangat kau cintai!"
Lagi-lagi Thoms terkejut, dari mana bisa Moana mengetahui tentang perasaannya pada Nay. Sementara, Nay sendiri belum mengetahui jika Thoms sudah memiliki perasaan pada gadis yang baru dikenal.
__ADS_1
Mungkin, sesekali Nay memang pernah melihat perubahan sikap Thoms padanya. Hanya saja, Nay tidak meyakinkan 90 persen kalau itu sebagai bukti tentang perasaan Thoms pada dirinya.
"O-oke, ba-baiklah! Kakak akan kembali menyerahkan anakmu pada suamimu, tapi lepaskan dia, dan jauhkan senjata itu dari kepalanya!" pinta Thoms, wajahnya seketika berubah 180 derajat.
Perubahan ini berhasil membuat Nay sedikit salah tingkah. Gadis itu merasa bingung, apakah dia harus senang dicintai seorang pria untuk pertama kali? Atau, Nay harus sedih, sebab Tuhan memberikan jodoh yang tidak sesuai sama diharapnya?
"Kenapa, Kak? Kau takut wanita ini lenyap ditangan adikmu sendiri, iya? Kenapa? Apa jangan-jangan apa yang aku ucapkan tadi benar adanya, kalau Kakak sudah memiliki perasaan padanya?"
"Ti-tidak! A-aku tidak ada perasaan apa pun padanya, a-aku begini karena dia asisten pribadiku. Ja-jadi, kamu jangan salah paham. Aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya, paham!"
Thoms tetap bersikeras untuk mempertahankan perasaan di dalam hati tanpa mereka semua harus tahu, jika apa yang Moana sampaikan memang benar. Akan tetapi, Thoms selalu berusaha bersikap seolah-olah tidak mencintai Nay. Pria itu sangat gengsi untuk mengungkapkan isi hatinya yang nantinya akan membuat Nay menjadi besar kepala.
Namun, tidak berhenti di situ saja. Moana benar-benar yakin 100 persen kalau memng sang kakak telah menaruh perasaan mendalam untuk Nay. Semua itu bisa Moana lihat dari cara Thoms menatap Nay, begitu juga sebaliknya.
Tidak mungkin jika mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain, seba Moana bisa melihat perubahan dari sang kakak yang tidak menginginkan Nay terluka. Bahkan, Nay sempat berhasil mengendalikan emosi Thoms, meskipun hanya sekilas.
"Baiklah, kalau memang Kakak tidak memiliki perasaan padanya. Dengan senang hati, aku akan menyakitinya untuk membalaskan rasa sakit di dalam hatiku karena Kakak hampir melenyapkan anakku!"
"Bersiaplah, Kak. Kau akan kehilangan gadis ini untuk selamanya!"
Daaarrrrr ....
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...