Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Bermain Petak Umpet


__ADS_3

Suara tangis Justin dan Barra terus terdengar nyaring seperti sedang berlomba, membuat Moana merasa bingung harus bagaimana untuk mencoba menenangkan mereka di dalam situasi yang genting ini.


"Mom, Justin takut. Justin takut kena tembak hiks ...." Justin terus menangis tanpa henti memeluk lengan Moana cukup erat.


"Ssstt, tenang ya, Sayang. Mommy di sini, kalian jangan nangis, oke? Apapun yang terjadi Mommy akan tetap melindungi kalian, Mommy janji. Sekarang kalian berdoa ya, semoga Papah segera menolong kita," ucap Moana di dalam tangisannya yang terus berusaha kuat demi anak-anak.


Dooor ....


Aakhhhh ....


Teriak Moana dan Justin begitu nyaring ketika satu peluru menerobos masuk melalui belakang mobil mengenai lengan salah satu bodyguard yang duduk di samping kursi pengemudi.


"Tenang, Nyonya, Tuan kecil! Kalian tidak apa-apa, tidak perlu takut. Kami bersama kalian, lebih baik sekarang Nyonya dan Tuan kecil semuanya duduk di bawah demi keselamatan kalian. Sebentar lagi pertolongan akan datang!"


Bodyguar yang terkena peluru tersebut berusaha tetap bersikap tenang, walaupun tangan sebelah kanan sudah berlumuran darah. Moana tidak ingin mengambil resiko, dia langsung duduk di bawah bersama kedua anaknya sambil membawa mereka ke dalam pelukannya.


Tidak lupa Moana juga berusaha keras mungkin melindungi anak-anaknya dan menyuruh Justin menutup kedua telinganya. Sedangkan tangannya langsung menutup telinga Barra supaya tidak membuat mereka mengalami trauma yang cukup berat di masa kecilnya.


Suara ledakan itu terus bergema di telinga Moana membuat dia pun merasa takut. Jika memang harus ada yang menjadi korban, biarlah dia sendiri yang akan menerima peluru tersebut jangan sampai terkena pada kedua anak-anaknya.


Apapun akan Moana lakukan, asalkan kedua anaknya selamat dan bisa hidup bahagia. Tidak peduli dengan nasibnya sendiri, setidaknya yang ada di dalam pikiran Moana saat ini hanya nasib kedua anaknya.


Bodyguard yang di tugaskan untuk menyetir hanya fokus pada laju jalan, sesekali membantu rekannya. Tidak lupa, bodyguard yang terkena serangan masih terus berusaha mempertahankan keselamatan majikannya.


Sementara bodyguard lainnya sudah menghadang beberapa bodyguard musuh yang berada di belakan. Akan tetapi, sayangnya. Beberapa peluru berhasil mengenai ban kedua mobil secara bersamaan, membuat mobil mereka semua menjadi oleh.


"Akhhh, a-ada apa ini, Pak? Kenapa sama mobilnya?" tanya Moana panik.


"Ban mobil kita terkena tembakan, Nya. Maka dari itu, di depan banyak tempat persembunyian. Kalau bisa, setelah kami mengalihkan perhatian mereka. Nyonya beserta anak-anak harus bisa mencari peluang untuk kabur dari sini. Apa Nyonya paham?" ucap salah satu bodyguard.


"Baik, Pak. Saya paham, sebisa mungkin saya akn membawa kabur anak-anak ke tempat yang lebih aman. Sampai situasi membaik baru kami akan kembali!"

__ADS_1


Bodyguard hanya menganggukan kepalanya, meskipun Moana tidak bisa berkelahi atau memegang senjata. Dia masih bisa menggunakan otaknya untuk berpiki, bagaimana bisa selamat dalam situasi genting seperti itu.


Sesampainya di tempat tersebut, kedua bodyguard langsung turun untuk mengalihkan perhatian beberapa musuhnya. Moana langsung melihat situasi, jika sudah di pastikan aman maka dia akan segera lari bersama anak-anaknya.


"Mom, di-di mana Papah? Kenapa dia belum sampai juga? Justin takut, Mom. Justin takut hiks ...."


"Sstt, jangan berisik sayang. Justin ingat, waktu itu Justin pernah main petak umpet sama Papah di rumah? Ingat?"


"Ingat, Mom."


"Nah, sekarang anggap saja kita lagi main petak umpet, oke? Jadi, Justin tidak boleh berisik, menangis juga kita harus pergi pelan-pelan jangan sampai mereka menemukan kita atau permain ini akan games over. Justin tidak mau kalah, bukan?"


"Tidak, Justin mau menang, Mom. Justin tidak mau kita kalah, kalau kita kalah nanti terjadi sesuatu sama Mommy dan Adem Justin tidak rela. Jadi, Mommy harus ikut Justin ya, kita ngumpet sama-sama. Oke?"


Moana hanya tersenyum di balik tangis dan kekhawatirannya terhadap nasib kedua anaknya. Sebisa mungkin Moana memberanikan diri untuk melihat situasi di luar agar mereka bisa segera kabur dari dalam mobil.


"Gimana, Mom? Apa Om itu ada di sini?" tanya Justin, wajahnya di penuhi oleh rasa takut.


"Iya, Mom. Justin dengar, Justin akan ikutin aba-aba dari Mommny."


Perlahan Moana membuka pintu mobil sambil celingak-celinguk untuk tetap berjaga-jagabmelihat situasi yang ada di sana. Moana tidak ingin asal gerak, karena itu bisa membahayakan nyawa mereka semua. Apa lagi peluru meskipun dalam jarak 5 meter tetap akan bisa mengenai mereka jika bidikannya tepat sasaran. Jadi, Moana tidak ingin bermain-main dengan resiko yang sangat besar itu.


Satu kaki Moana pijakkan di tanah sambil memeluk Barra yang sudah tertidur akibat kelelahan menangis. Sementara Justin tetap berada di mobil sambil menunggu aba-aba dari mommynya.


Aku harus bisa segera menyelamatkan anak-anakku. Intinya, aku harus rela berkorban demi mereka, aku yakin. Kak Thoms pasti sudah ada di dekat sini, dia pasti akan melindungi kami apapun resikonya. Kamu ingat Moana, kakakmu itu buka orang sembarangan. Percayakan padanya, dan jangan lupa serahkan semua hidupmu pada Tuhan. Setidaknya kamu harus tetap berusaha menyelamatkan anak-anakmu menghindari bahaya tersebut!


Moana berbicara di dalam hatinya sambil terus mengawasi situasi yang ada. Setelah berhasil keluar dari mobil, Moana langsung berjongkok sambil melambaikan tangannya pada Justin.


Justin yang sudah mengerti arti kode yang Moana berikan, perlahan dia mulai keluar dari mobil sambil berjongkok di dekat Mommynya sambil menutup mulutnya agar tidak membuat tangisannya menjadi berisik.


Langkah kecil Moana lakukan sambil berjongkok yang di ikuti oleh Justin. Perlahan mereka melangkahnke depan mobil, setelah itu Moana membisikkan sesuatu pada Justin.

__ADS_1


Pegang erat tangan Mommy, dalam hitungan ketiga. Kita lari sama-sama ke semak belukar itu. Justin mengerti?


Iya, Mom. Justin akan nurut sama Mommy!


Dalam hitungan ketiga, Moana dan Justin langsung lari begitu saja menuju semak-semak yang tinggi. Menurut Moana di situ tempat persembunyian yang aman untuk sementara, sampai mereka kembali menemukan tempat yang jauh lebih baik.


Moana berhasil menyelamatkan kedua anaknya, kini mereka saling berpelukan satu sama lain sambil terus menutup mulut agar tidak sampai ketakuan. Apa lagi, beberapa kali Moana melihat masih ada salah satu musuh yang sedang mencari keberadaan mereka. Entah untuk apa, Moana sendiri pun tidak tahu. Setidaknya mereka sudah selamat.


Namun, itu tidak berlangsung lama ketika Moana sedang melihat situasi di sana. Tiba-tiba Justin melihat keberadaan Thoms yang tidak jauh dari mereka, dia langsung berlari kencang sambil berterika memanggil Thoms membuat Moana yang ada di samping langsung menoleh dan berdiri.


"Papah, Justin di sini!"


"Hentikan, Justin! Jangan mendekat ke sana!"


Moana berteriak, tanpa berpikir panjang dia langsung berlari menyusul Justin. Akan tetapi, naas. Salah satu musuh Thoms mengetahui itu, dan langsung mengarahkan bidikannya tepat ke arah punggung belakang Justin yang lagi berlari mendekati Thoms.


Daarrrr ...


"Justin!"


Moana dan Thoms berteriak sekuat tenaga ketika melihat sebuah peluru di lepaskan ke arah Justin yang tidak memiliki kesalahan apapun. Justin langsung tumbang begitu saja membuat mereka semua menjadi khawatir.


Tidak lupa, Thoms yang penuh dendam segera melepaskan anak bidiknya dan langsung mengenai kepala musuhnya yang berhasil melepaskan tembakan pada Justin.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2