Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menyadarkan Thoms


__ADS_3

"Kak, bangun, Kak. Bangun! Ini aku Moana, adik kesayangan Kakak!"


Kepanikan di wajah Moana terlihat begitu jelas ketika melihat kondisi Thoms yang kurang baik. Kedua mata Thom tertutup rapat, wajah serta tubuhnya sudah basah kuyun akibat keringat yang terus mengucur deras, bagaikan di guyur oleh satu ember air ke atas tubuhnya.


Tubuh Thoms yang bergetar hebat seperti orang kesetrum, benar-benar semakin membuat Moana menjadi ketakutan. Tidak terasa bulir-bulir air mata mulai menetes di pipi Moana saat dia berusaha terus mencoba menyadarkan sang Kakak.


"Kak Thoms, hei ... Bangun, Kak. Bangun!"


"Aku mohon buka matamu, Kak. Aku di sini, lihat aku, Kak. Lihat!"


"Kakak cuman mimpi, sedangka kenyataannya Kakak sudah berhasil menemukan aku. Jadi, aku mohon bangun, Kak!"


Tubuh Thoms bergoyang kencang saat kedua tangan Moana berusaha untuk membangunkannya. Berbagai cara Moana lakukan agar sang Kakak membuka matanya, tetapi Thoms tetap terus menangis, meraung dan juga ketakutakan.


Melihat kejadian ini Moana bisa merasakan betapa traumanya sang Kakak ketika mimpi buruk itu hadir di dalam tidurnya. Entah mimpi apa, Moana masih belum bisa menebaknya lantaran Thoms belum menceritakan semua kejadian keji itu.


Tidak ada reaksi, Moana mencoba menampar keras pipi Thoms untuk mengakhiri semua mimpinya. Hanya hitungan detik, Moana berhasil menyadarkan Thoms. Tanpa berkata apa-apa, Thoms bangkit langsung memeluk tubuh Moana begitu erat.


Terdengar suara tangisan yang sangat nyaring di telinga Moana. Di mana sang Kakak yang selama kurang lebih 1 tahun ini terlihat kuat tanpa sedikit pun meneteskan air mata, tapi malam ini semua kekuatan di dalam dirinya runtuh hanya karena mimpi.


"Jangan tinggalin Kakak lagi, Dek. Kakak mohon, Kakak janji Kakk akan membahagiakanmu. Asalkan kamu tidak meninggalkan Kakak, seperti Mamih dan Papih. Kakak mohon, please!"

__ADS_1


"Kakak tidak mau hidup sendirian, Kakak mau hidup bareng kamu, jadi Kakak minta jangan pernah tinggalin Kakak. Kakak akan berusaha menuruti semua permintaanmu yang penting kamu selalu ada di samping Kakak. Kakak tidak mau kita pisah lagi, Kakak tidak mau!"


Suara Thoms mulai serak akibat air matanya yang tidak berhenti, entah mengapa semua itu berhasil menyentuh hati Moana. Apa yang Thoms rasakan saat ini menular begitu saja pada Moana. Enggak tahu apa yang membuat Moana sesedih ini, tapi bisa Moana pastikan jika mimpi itu bukan hanya sekedar mimpi, melainkan sebuah ketakutan yang sangat besar dari dalam diri Thoms.


"Kak, Kakak gapapa 'kan? Ada apa sama mimpi Kakak? Katakan sama Moana, Kak. Moana mau tahu semua yang terjadi sama Kakak di masa lalu!"


"Moana tahu, kok. Ini itu, bukan sekedar mimpi 'kan? Tapi, semacam ketakutan tersendiri atas sebuah trauma besar yang menimpa Kakak di masa lalu tentang kema*tian Mamih dan Papih. Benar 'kan? Jawab, Kak. Jawab!"


"Selama 1 tahun ini, aku hidup bersama Kakak demi meninggalkan suamiku. Tapi, apa yang aku dapatkan? Kakak malah masih merahasiakan kema*tian Mamih dan Papih dariku, kenapa, Kak? Kenapa!"


"Apa Kakak udah enggak sayang lagi sama aku, iya? Sampai-sampai apa yang terjadi sama Kakak dan kedua orang tua kita di masa lalu, harus Kakak sembunyikan dariku! Buat apa ada aku, Kak. Buat apa! Kalau sampai detik ini Kakak belum cerita penyebab Mamih dan Papih meninggal, lalu kenapa Kakak bisa sampai terjun di dunia gelap seperti itu!"


Moana berbicara penuh penekanan di setiap perkataannya. Selama ini mereka bersama, tidak sedikit pun Thoms menceritakan tentang kema*tian kedua orang tuanya secara rinci. Apa lagi, alasan di balik pekerjaan Thoms.


Sering kali mereka bertengkar karena bagi Moana pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat tidak baik juga membahayakan. Akan tetapi, Thoms bisa melakukan semua ini karena dia memiliki tujuan yang sama sekali Moana belum mengetahuinya.


Kata-kata Moana yang hanya bermaksud menekan Thoms, membuat pelukan Thoms semakin erat, "Ti-tidak! Kamu dan anak-anak tidak boleh pergi dariku, aku tidak mau kehilangan kalian. Aku tidak mau!"


Thoms menangis sesegukan tanpa rasa malu, itu tandanya ada sesuatu yang memang Thoms sembunyikan. Maka dari itu, Moana terus menekan semua itu agar Thoms bisa membagi kejadian yang dia hadapi selama mereka berpisah.


"Lepaskan aku, Kak. Lepaskan! Aku tidak bisa tinggal dengan orang yang banyak menyimpan rahasia, apa lagi Kakak adalah Kakak kandungku. Jadi, kalau Kakak masih seperti ini, jangan salahkan aku jika tiba-tiba aku menghilang dari kehidupan Kakak!"

__ADS_1


"Kakak mohon, Dek. Jangan ngomong kaya gitu, Kakak tidak bisa kehilanganmu. Hanya kamu satu-satunya orang yang Kakak punya saat ini, kalau kamu pergi lebih baik Kakak mengakhiri hidup dari pada harus merasakan kehilangan keluarga untuk kesekian kalinya!"


"Sampai aku dengar Kakak melakukan hal itu, maka akan aku pastikan. Seumur hidup, aku akan membenci Kakak!"


Thoms melepaskan pelukan Moana, lalu kedua tangannya langsung meraup kedua rahang Moana dengan kedua mata mereka yang saling menatap satu sama lain.


"Kakak enggak mau, Dek. Kakak enggak mau kehinganmu! Pokoknya kamu harus ada di samping Kakak, titik! Kakak mohon, bantu Kakak untuk melewati semua ini. Ada satu janji Kakak sama Papih, Mamih yang belum tuntas!"


"Janji? Janji apa?"


Thoms melepaskan tangannya, lalu dia menghadap ke arah lain. Tatapannya menyorot tajam ke arah dinding tanpa mengedip sedikit pun. Mata merah penuh dendam membuat kobaran api di dalam hati Thoms kembali menyala.


Perlahan Thoms menjelaskan janjinya kepada kedua orang tua mereka sesuai sama apa yang Papihnya inginkan. Semua ini bukan semata-mata hanya untuk membalaskan dendam, melainkan mengambil hak seseorang dan mengembalikan semuanya pada pemilik aslinya yang pernah meminta tolong.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2