Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Meninggalnya Orang Tua Thoms


__ADS_3

10 menit sudah, tidak ada tanda-tanda penembakan yang nyaring seperti tadi. Di situ Mamih Thoms mulai tambah panik, dia takut suaminya kenapa-kenapa. Sampai akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar saat sudah berkomunikasi sama Thoms kalau dia akan ke kamarnya.


Apa daya, di rasa situasi sudah aman perlahan Mamih Thoms keluar tanpa melepaskan Tasya dari pelukannya. Lalu, terkejut ketika melihat suaminya dan juga musuhnya berdiri saling menatap dalam jarak begitu dekat. Di mana kedua pistol mereka berada tepat di dahi masing-masing.


Tatapan suami serta musuhnya terlihat begitu mendalam. Kebencian satu sama lain tersirat di dalam bola matanya. Entah kesalahan apa yang di lakukan oleh suaminya, sehingga membuat seseorang merasa iri atas kesuksesannya di usaha bawah tanah.


Padahal, nyatanya harta yang mereka simpan merupakan harta sebagian orang yang harus mereka kembalikan ke pemiliknya. Hanya saja, keluarga Thoms masih mencari asal-usul harta yang dia dapatkan dari Mafia serakah.


"Tu-tuan, letakkan senjatamu! Ja-jangan bu-bu*nuh suamiku, Tuan! Jangan bu*nuh dia, saya mohon!"


"Saya rela melakukan apa pun termasuk mencium kaki Tuan, asalkan bebaskan suamiku dari senjatamu itu. Saya tidak ingin kehilangannya dan juga anak-anak, kalau Tuan hanya perlu harga. Ambillah, semua harta itu silakkan. Tapi, lepaskan dulu suamiku dan jangan sekali-kali menyakitinya, atau aku akan nembakmu dari sini!"


Suara Mamihnya terdengar kencang di dalam sambungan ponsel Thoms. Dia bisa membayangkan situasi yang sekarang ada di hadapkan kedua orang tuanya.


Kini, tangis Thoms langsung pecah, sepecah-pecahnya. Dia tidak ingin kehilangan kedua orang tuanya dan juga adiknya. Maka dari itu Thoms berusaha untuk menyingkirkan meja dari belakang pintu. Dan ketika pintu terbuka secara perlahan, Thoms melihat seseorang tumbang tepat di hadapannya.


Doooorrr!


Satu tembakan lolos mengenai kepalanya, hingga membuatnya terjatuh dan tewas begitu saja. Bibir Thoms sangat kaku, ketika tidak bisa berteriak memanggil nama seseorang yang sudah tiada.


"Sayang!" teriak sang suami, Papihnya Thoms. Itu artinya, orang yang terkena tembakan adalah istrinya.


Papih Thoms berbalik menatap ke arah atas tangga bersamaan runtuhnya istri kesayangannya sambil memeluk anaknya yang masih sangat kecil.

__ADS_1


"Fiuuhh ...."


Suara tiupan terdengar jelas di dalam telinga Jhorgie, perlahan berbalik menatap musuhnya dengan tatapan mema*tikan. Di mana musuhnya sedang meniup ujung pistol kesayangannya sambil membersihkannya.


"Kau memang sangat pintar. Bidikmu selalu tepat pada sasaran, hingga dia tewas dalam keadaan menyedihkan."


"Aduh, kasihan. Turut berdua cita, Tuan Jhorgie. Semoga kau tidak akan menyusul istrimu. Hahah ...."


Musuhnya tersebut tertawa sangat puas, ketika dia sudah melumpuhkan satu persatu tiang Jhorgie. Selama ini kekuatan keluarga yang menjadi salah satu tiang Jhorgie untuk susah di taklukkan.


Dan sekarang, satu tiang sudah di lumpuhkan tinggal satu tiang lagi. Yaitu, anak-anaknya. Jika keturunannya semua tiada, sudah di pastikan Jhorgie tidak akan bisa bangkit kembali untuk menempati podium peringkat ke-1 Mafia yang sangat di segani.


Di saat melihat kelemahan musuhnya tangan Jhorgie mulai memegang pistolnya sangat keras. Urat besar di tangannya mulai muncul, pertanda saat ini puncak kemarahan Jhorgie sudah tidak bisa lagi di bendung.


Akhirnya ketika Jhorgie ingin melantukkan satu peluru ke arah jantung musuhnya secara perlahan. Akan tetapi, peluru belum selesai di lepas Jhorgie tumbang dengan sendirinya yang membuat musuhnya refleks menoleh ke arah belakang.


"Ma-maaf, Tuan. Saya lihat Tuan Jhorgie ingin melepaskan peluru tepat di dada Tuan, sehingga saya harus mengambil resiko dan langsung melumpuhkannya," jawabnya tegas, menundukkan kepalanya.


Atasannya itu kembali melihat mayat Jhorgie dan beberapa mayat lainnya. Tasya menangis karena dia merasakan keluarganya berada di dalam bahaya. Kedua orang tuanya tewas di depan mata Thoms dan juga Tasya.


"Ma-mamih? Pa-papih? Ke-kenapa kalian meninggalkan kita, kenapa Mih, Pih. Kenapa, hiks ...."


"Dek, tenanglah. Kakak ada di sini bersamamu, Kakak akan segera mengamankanmu dan membawamu pergi dari sini. Jadi, Kakak mohon jangan nangis. Suaramu itu bisa membuat perhatian mereka teralihkan!"

__ADS_1


Thoms berbicara di dalam hatinya dalam keadaan tubuh bergetar hebat, saat menyaksikan keluarganya tewas tepat di matanya. Jadi, rekaman kejadian ini tidak akan pernah Thoms lupakan seumur hidupnya.


Dan, di saat Thoms ingin mengambil adiknya. Seseorang naik ke atas membuat Thoms segera menutup pintu dan kembali mengganjal belakang pintu.


"Cepat ambil semua barang-barang berharga, termasuk surat yang ada. Jangan lupa sertakan sidik jari kedua orang itu agar mudah bisa memnuatku membalikan semua hartanya menjadi milikku. Hahah!"


"Ta-tapi, Tuan. Bagaimana dengan kedua anaknya?"


"Terserah, mau kau urus kek, buang kek bukan urusanku. Kalau perlu lempar ke laut agar dia menjadi santapan ikan Hiu di sana. Jangan lupa, bakar rumah ini agar anak pertamanya yang menjadi saksi mata ikut hangus bersama kedua orang taunya. Paham?"


"Pa-paham, Tuan!" tegas semuanya. Beberapa anak buahnya langsung mengamankan benda berharga, surat-surat penting, sidik jari dan sebagainya. Sementara tangan kanannya mengamankan Tasya dan membawanya pergi bersamaan dengan Tuannya.


Beberapa menit kemudian, bunyi suara ledakan cukup terdengar sangat indah di telinga musuh Jhorgie ketika menyaksikan rumah terbakar hangus. Mereka kira Thoms sudah ikut terbakar hidup-hidup, tapi nyatanya tidak.


Thoms berhasil berlari dari jendela kamarnya demi menyelamatkan dirinya demi melindungi adiknya. Ya, meskipun hatinya sangat hancur saat melihat kedua orang tuanya tewas di depannya.


"Aku akan membalaskan semua yang terjadi dengan keluargaku. Ingat, da*rah harus di balas dengan da*rah, dan akan akubpastikan semua keturunNmu ma*ti di tanganku!" ancam Thoms di dalam hatinya.


Saat ini Thoms bersembunyi di semak-semak dekat rumahnya, sambil memantau musuh Papihnya serta tangan kanannya yang menggendong adiknya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2