
Thoms tidak bisa berkata apa-apa selain menatap wajah seseorang yang selama ini dia cari-cari, tetapi baru bertemu beberapa saat lalu. Tatapan keduanya benar-benar dipenuhi oleh keseriusan. Naya sendiri saja terkejut, gadis itu hanya takut akan ada kejadian tidak mengenakan kembali terulang.
"Ka-kakak ...." panggil Naya dengan suara lembut, semua itu Naya lakukan untuk mewanti-wanti Thoms agar tidak kembali melakukan sesuatu diluar kendalinya.
Thoms menoleh ke arah belakang menatap Naya yang langsung menggelengkan kepala. Itu berarti, Naya tidak ingin sesuatu yang sudah terjadi kembali terjadi.
Thoms kembali menatap ke arah depan melihat musuh terbesarnya datang dalam keadaan memakai kursi roda dan sebuah impusan ditangan. Siapa lagi kalau bukan Sakha, orang tua Ernest dan ayah mertua dari sang adik.
"Tu-tuan, ma-maaf jika kedatangan saya kurang tepat," ucap Sakha yang berada di kursi roda.
"Bisakah kita bicara sebentar, Tuan. Itu pun kalau Tuan memiliki waktu buat kami, jika tidak kami akan memaklumkan mungkin Tuan sibuk. Jadi, kami bisa ke sini lagi malam hari," sambung Elice menunjukkan senyuman kecilnya.
"Kami bawa sesuatu buat Kakak, di dalam sini ada bukti-bukti kuat yang akan menjadi jawaban akurat kalau memang pelakunya bukan ayah saya. Apakah Tuan bersedia meluangkan waktunya sekarang, atau kita bicarakan nanti malam?" tanya Ernest.
Thoms bingung harus menjawab apa, satu sisi dia harus segera menuntaskan semua pekerjaannya yang tertunda. Di sisi lain, Thoms juga penasaran bukti apa yang mereka bawa itu sampai satu keluarga datang berkunjung ke ruangan Naya tanpa rasa takut melihat wajah Thoms.
Mungkin kalau untuk hubungan Thoms dan Ernest sudah jauh lebih baik, tetapi untuk hubungan Thoms sama Sakha itu masih tanda tanya besar. Mereka juga bisa melihat ada dendam yang masoh besar di dalam sorotan mata Thoms ketika menatap Sakha.
Mereka terdiam dalam waktu yang cukup lama kurang lebih 3 menit. Naya benar-benar takut apabila calon suaminya itu akan melakukan hal tidak terduga ketika melihat musuhnya sudah ada di depan mata. Tanpa berpikir panjang, Naya turun dari bangkarnya sambil mendorong tiang impusan mendekati Thoms.
"Kakak, udah ya, jangan emosi. Kakak sudah janji sama aku, kalau Kakak tidak akan menghakimi mereka sebelum Kakak melihat buktinya. Mereka juga tidak akan lepas tangan jika emmang Tuan Sakha bersalah, istri dan anaknya akan mendukung Kakak. Cuma, kalau Tuan Sakha tidak bersalah Kakak yang harus meminta maaf. Jadi, sekarang aku mohon jangan ada lagi kekerasan. Oke?"
__ADS_1
Naya mengelus pelan lengan Thoms. Di mana pria itu sudah mengepas keras kedua tangannya dalam keadaan emosi sudah mulai naik. Untung saja Naya segera datang dan membuat Thoms langsung mengalihkan pandangannya.
"Astaga, kamu ngapain di sini? Udah tahu lagi sakit, kenapa sampai turun dari bangkar sih, udah ayo, kembali!" titah Thoms, segera menuntun Naya perlahan kembali ke bangkarnya.
Gadis itu menuruti apa yang Thoms katakan tanpa mebantahnya sedikit pun. Setelah Naya kembali duduk di atas bangkar, Thoms menyelimuti kaki Naya dan memperingatkan dirinya akan sesuatu.
"Lain kali jangan pernah turun dari bangkar jika dokter belum mengizinkanmu pulang. Paham? Lukamu itu masih sangat basah, jika kamu kebanyakan gerak maka luka itu akan lama keringnya. Jangan meremehkan luka akibat tembakan karena jika kamu tidak menjaganya, maka luka itu akan membuat kondisimu bukan semakin ada kemajuan untuk sembuh, tetapi malah semakin parah. Apa kamu mengerti apa yang aku katakan ini?"
"Maafkan aku, Kak. Habisnya aku takut Kakak lepas kendali lagi kaya waktu itu, aku tidak mau ada keributan karena mau bagaimanapun kalian tetap keluarga. Kakak sebagai kakak kandung Moana dan Tuan Sakha sebagai mertuanya. Aku tidak mau Kakak menyesal apabila apa yang mereka katakan itu benar adanya. Sudah cukup kejadian kemarin membuat adik serta ponakan Kakak mengalami syok, jangan sampai mereka menaruh dendam atau kebencian pada Kakak. Pahamkan, maksudku?"
Thoms mengangguk pelan. Lalu, menatap ke arah keluarga Ernest yang masih setia terdiam menunggu jawaban dari Thoms. Mereka semua sangat beruntung karena Naya bisa menjadi penengah di antara kedua pihak, sebab Moana tidak bisa menjadi seperti Naya.
"Maaf, untuk saat ini saya tidak punya banyak waktu. Urusan saya di luar jauh lebih penting, kalau kalian mau nanti malam kita akan bicarakan semuanya. Permisi," ucap Thoms langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka semua di dalam ruangan Naya.
Selepas perginya Thoms, Naya segera menyapa mereka dengan sangat ramah. Gadis itu begitu mengerti apa yang mereka rasakan, sehingga berhasil mencairkan suasanya yang sedang dingin-dinginnya.
"Sini masuk, Tuan, Nyonya. Jangan di dekat pintu saja, pamali. Sebelumnya maafkan sifatnya yang cuek itu ya, dia memang begitu. Cuma, sebisa mungkin saya akan berusaha agar semua kesalah pahaman bisa secepatnya diselesaikan."
"E,ehh ... Iya, Cantik. Terima kasih banyak kamu sudah menengahi kami. Oh, ya ... Bagaimana kabarmu, sudah jauh lebih baik? Maaf ya, kami baru bisa menjengukmu sekarang. Soalnya semalam cuma Moana yang ke sini, itu juga sembunyi-sembunyi dari Barra. Maklum aja, dia masih tidak bisa jauh dari Moana karena ada trauma atas kejadian kemarin."
Elice berjalan lebih dulu, sedangkan Ernest mendorong kursi roda Sakha untuk mendekati ke arah bangkar Naya. Kemudian, mengelus kepalanya penuh kasih sayang. Entah mengapa, sentuhan tangan Elice semuanya menjadi sebuah bentuk kasih sayang seperti ibu dan anak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nyo---"
"Panggil Bunda aja, gak usah pakai Nyonya. Lagi pula Bunda udah nganggap kamu sama kaya Moana, putri Bunda sendiri kok, jadi jangan kaku lagi."
"Ta-tapi ...."
"Ikuti saja apa yang dikatakan istriku, jika tidak dia akan ngambek 7 hari 7 malam," ucap Sakha, mendapatkan lirikan dari Elice.
"Tuh, lihat saja. Belum apa-apa dia sudah melirik sinis, bagaimana jika kamu tidak menurutinya. Hem, bisa-bisa dia merajuk setahun hihi ...."
"Ayah!"
Semua orang tertawa kecil ketika melihat Sakha berhasil menggoda sang istri hingga suasana di sana menjadi kembali santai, tidak semenegangkan seperti tadi.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1