Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menyalahkan Diri Sendiri


__ADS_3

"Hiks ... O-oma, E-edi mayah ya cama Ustin? A-apa Ustin udah uat calah cama Edi, matana Edi mayah-mayah cama Omi? Elalti, cemua ini gala-gala Ustin ya Oma?"


Suara Justin yang terdengar serak akibat menangis terlalu lama, membuat hati Elice entah mengapa menjadi terpukul.


Anak sekecil itu dengan polosnya bisa menyalahkan dirinya sendiri, sementara Ernest yang salah selalu beranggapan bahwa dia adalah orang yang paling benar di antara mereka semua.


Elice menggelengkan kepalanya sambil terus memeluk cucunya, "Tidak, Sayang. Justin tidak salah kok, sebenarnya yang salah itu Daddymu karena dia sudah salah paham sama Mommymu. Jadi, Justin enggak boleh sedih lagi ya. Biarkan saja, Daddymu seperti itu. Nanti kalau Daddy sudah menyadari kesalahannya pasti dia baik lagi, kita tunggu saja ya!"


"Ndak, Oma. Ini cemua asti gala-gala Ustin, api napa Edi mayahnya ke Omi. Omi tan ndak calah, yang calah Ustin. Dadi, Edi mayahnya cama Ustin aja angan cama Omi, kacian Omi, Oma. Hiks ...."


"Ustin ndak apa-apa tok, ndak di cayang agi cama Edi. Api, Ustin ndak au iyat Edi ndak cayang agi cama Omi. Anti iap alem Omi angis teyus aya duyu cambil boboin Ustin. Ustin ndak au Omi cedih agi, bial Ustin aja yang ndak di cayang Edi angan Omi. Alo Edi ndak cayang cama Ustin oang, tan Omi bica antuin Ustin cali cala uat ikin Edi cayang agi. Uman, alo Edi ndak cayang Omi cama Ustin teyus imana uat Edi cayang agi, Oma. Ustin ingung hiks ...."


Tangisan anak kecil itu tidak kunjung berhenti, dia masih memikirkan tentang kemarahan Ernest yang secara tiba-tiba. Di balik kepolosan Justin, terdapat sifat yang cukup dewasa di banding Daddynya sendiri.


"Ssstt ... Sayangnya Oma, jangan nangis terus ya. Kasihan nanti kepalanya pusing loh, 'kan Justin abis sakit. Sekarang, stop memikirkan perkataan Daddymu itu, anggap saja Daddymu lagi capek, sehingga berbicaranya jadi ngawur," ucap Elice mencium pucuk kepala cucunya.


"Asti gala-gala Justin macuk ke kamar Edi ndak biyang-biyang, teyus Ustin angunin Edi pas Edi macih bobo dadina Edi mayah-mayah. Ustin au inta aap cama Edi, Ustin ndak au Edi ndak cayang agi cama Ustin. Ustin udah cayang anget cama Edi, Ustin ndak au auh-auh dali Edi, Oma. Ustin au di peyuk agi cama Edi hiks ...."

__ADS_1


Entahlah, Elice benar-benar bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi perkataan cucunya, karena mendengar kalimatnya saja Elice sudah ikut menangis. Sepertinya hati Elice bisa merasakan apa yang Justin rasakan saat ini.


Sampai akhirnya Moana yang dari tadi hanya sekedar menyimak di dekat pintu bersama Sakha, kemudian masuk sambil mengukir senyuman di balik air matanya yang sedikit lagi terjatuh.


"Uluhh, uluhh ... Anak Mommy kenapa nangis terus, hem? Sini-sini sama Mommy, sekalian Mommy obatin lukanya ya."


Justin berpindah memeluk Moana, di mana air mata Moana runtuh dan langsung di hapus secara cepat serta menggantinya dengan senyuman lebar.


Elice tidak tega melihat menantunya harus menahan rasa sakit di hatinya, demi anaknya. Sesedih apa pun, Moana harus tetap berusaha terlihat kuat di depan Justin.


Kini, air mata Elice kembali tumpah sambil menutup mulutnya. Sakha yang mengerti kepedihan istrinya, segera meminta Elice untuk menjauhi Moana dan Justin. Anggap saja mereka pergi dengan memberikan ruang agar Moana bisa mengurusi anaknya dengan baik.


"Omi, aapin Ustin ya. Gala-gala Ustin angunin Edi agi bobo, Omi dadi kena mayah Edi," ucap Justin di dalam pelukan Moana.


"Gapapa, Sayang. Namanya juga seorang Ibu, pasti akan membela anaknya selama anaknya itu benar. Kalau pun anaknya salah, pasti seorang Ibu akan menasihatinya dengan cara baik. Jadi, lain kali Justin tidak boleh begitu lagi ya," sahut Moana.


"Iya, Omi. Ustin anji, Ustin ndak atan itu agi cama Edi. Api, imana cala inta aapna cama Edi? Ustin atut Edi macih mayah cama Ustin, ental alo ambah mayah agi imana?" tanya Justin, di sela tangisannya.

__ADS_1


"Sudah ya, jangan di pikirin lagi. Nanti kita cari cara bagaimana Daddy bisa maafin Justin, oke? Sekarang Justin enggak nangis lagi ya, kasihan kepalanya nanti pusing loh. Emangnya Justin mau bobo di rumah sakit? Terus kalau nanti setiap pagi, siang, sore, malam selalu di suntik lagi. Justin berani, hem?"


"Ndak, Ustin ndak au bayik agi ke lumah atit. Ustin au di lumah aja cama Omi. Di lumah cakit ndak enyak Omi, Ustin ndak bica akan enyak-enyak. Akanan di cono ndak ada lasana cemua, alo di lumah Ustin bica akan aget cepuasna yang enting Ustin rajin imun obat ya tan, Omi?"


"Pinter, makannya jangan nangis lagi ya. Sekarang harus senyum, oke? Mommy ganti perbannya dulu ya, sakit cumN kaya di gigit semut kok. Justin harus tahan ya, karena anak laki-laki tidak boleh cengeng, setuju?"


"Cetuju, Omi. Ustin ndak angis agi, api elan-elan ya. Coalna epala Ustin ucing anget,"


"Tuhkan, makannya jangan nangis lagi, habis selesai di ganti perbannya, Justin makan abis itu minum obat, terus istirahat bobo ya,"


Justin hanya menganggukan kepalanya. Dia berusaha tersenyum meskipun masih terisak sisa tangisannya. Moana perlahan mulai mengganti perban yang sudah merembes cairan merah itu, meski berulang kali Justin mengeluh sakit. Moana tetap berusaha menenangkannya.


Setelah selesai, Moana segera memberikan Justin makan hanya dengan naget, kecap dan juga nasi. Sehabis itu, barulah dia minum obat dan beristirahat sambil di temani oleh Moana yang selalu berusaha tersenyum.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2