
Keesokan paginya, Moana yang baru saja bangun tidur merasa sedikit haus. Kemudian dia pergi ke arah dapur dengan penampilan yang khas baru bangun tidur.
Namun, tanpa di sengaja Moana malah di kejutkan oleh kemunculan mertuanya yang baru saja selesai memasak sarapan pagi.
"Loh, Bunda? Kapan Bunda pulang? Kok tidak bilang sama Moana?" ucap Moana berdiri di belakang Elice.
"Hehe, maaf ya. Bunda sengaja, tadinya ingin mengejutkan kalian. Ehh, malah Bunda yang di kejutkan kalau kamu lagi pergi jalan-jalan. Jadi gagal deh hehe ...." sahut Elice tersenyum.
"Aaa, Bunda. Maafin Moana ya, coba aja kalau Bunda ngomong, Moana tidak akan pergi. Moana akan langsung pulang, nemuin Bunda di rumah." ucap Moana, merasa tidak enak.
"Gapapa, Sayang. Selagi kamu dan anakmu senang, Bunda juga ikut senang. Sini peluk dulu, Bunda kangen tahu sama kalian."
Moana langsung berhambur memeluk Elice begitu erat, sampai-sampai Elice pun mencium pipi menantu kesayangannya berulang kali bagaikan anaknya sendiri.
Hati Moana benar-benar tersentuh saat menerima kasih sayang dari mertuanya. Dia begitu beruntung bisa memiliki mertua sebaik ini, hanya saja pernikahannya yang tidak beruntung ketika harus mendapatkan suami seperti Ernest.
"Ohya, gimana kabar cucuku? Apa dia baik-baik aja? Terus ada perkembangan apa selama 1 bulan ini? Ayo kasih tahu Bunda, Bunda penasaran." tanya Elice antusias sambil mengusap perut buncit menantunya.
"Si Bunda ini, kaya tidak pernah hamil saja. Kasihan menantumu, dia pasti tertekan sama pertanyaan yang dia sendiri bingung, harus mulai menjawab dari mana." sahut Sakha yang baru saja datang.
"Ishh, Ayah ini kenapa sih sukanya ganggu Bunda mulu." ucap Elice cemberut.
"Ya, karena Ayah sayang sama Bunda." jawab Sakha. Dia berhasil membuat kedua pipi istrinya mulai merona.
__ADS_1
Moana tersenyum melihat kedua mertuanya yang semakin tua semakin terlihat mesra, pernikahan harmonis yang bertahun-tahun mereka jalani terasa begitu menyentuh hatinya. Berbeda dengan pernikahannya, yang semakin hari malah semakin menyedihkan.
"Bunda tenang aja, cucu Bunda ini sehat-sehat aja kok. Bahkan dia sudah mulai aktif loh, dia juga sudah bisa merespon apa yang kita bicarakan dengan memberikan tendangan kecil gitu hihi ...."
Wajah Elice dan juga Sakha seketika langsung berubah. Mereka benar-benar tidak menyangka bila cucunya telah menunjukkan jati dirinya.
Ya, walaupun belum tahu tentang jenis kela*minnya. Mereka tetap merasa senang, apa bila mendengar cucunya yang semakin hari semakin aktif. Itu artinya dia tumbuh sehat di dalam perut Moana.
"Se-seriuskah? Di-dia sudah bisa memberikan tendangan?" tanya Elice, tidak percaya.
"Apa itu pertanda, kalau cucuku laki-laki? Yess, akhirnya aku mendapatkan cucu pertama laki-laki. Haha .... " sahut Sakha yang begitu heboh. Akan tetapi, langsung berhenti saat perutnya mendapatkan cubitan maut dari istrinya.
"Awwsshh, sa-sakit, Bun. Sakit, aduh ...." keluh Sakha, memegangi perutnya.
"Biarin aja, rasakan ini. Berapa kali Bunda bilang, mau cucu kita perempuan ataupun laki-laki. Mereka tetap akan menjadi cucu kita, paham?" ujar Elice sambil melototkan matanya kepada suamunya.
"Terus, ya. Terus! Sekali lagi ngomong begitu, Bunda lakban itu mulut!"
"Ya-yaa, ma-maaf. Ja-janji enggak lagi-lagi deh. Mau cucu kita perempuan atau laki-laki, Ayah akan tetap menyayangi mereka secara adil."
Setelah mendengar suaminya mengatakan kata-kata yang sedikit menenangkan, akhirnha Elice pun melepaskan tangannya sambil terus melirik suaminya.
Semua itu bukan karena Elice ingin menyakiti suaminya, akan tetapi di sangat menjaga perasaan menantunya.
__ADS_1
Moana sendiri bisa merasakan, bila Sakha memang sangat menginginkan cucu pertamanya adalah seorang laki-laki.
Semua itu wajar, karena di dalam dunia perbisnisan. Anak laki-laki bisa di percaya sebagai satu-satunya pewaris, yang kelak akan meneruskan bisnis keluarga secara turun-temurun. Berbeda dengan perempuan yang hanya akan menjadi cucu kesayangan.
"Udah-udah, dari pada suasana menjadi tidak enak. Mending kita makan aja. Ohya, dimana suamimu?" tanya Elice mengalihkan suasana yang sedikit menegangkan.
"Tadi sih sudah bangun, Bun. Mungkin sebentar lagi dia turun." jawab Moana tersenyum kecil.
Sakha yang melihat wajah menantunya sedikit berubah langsung meminta maaf kepadanya. Sakha sadar, kalau perkataannya tanpa di sengaja telah membuat menantunya menjadi salah paham.
Moana hanya bisa menganggukkan kepalanya, meski perkataan Sakha itu di dasarkan dengan tidak kesengajaan. Akan tetapi, perkataan itu sedikit membekas di dalam hatinya.
Bagaimana bila suatu saat nanti anak yang Moana lahirkan adalah perempuan? Apakah Sakha akan merasa bahagia, sama seperti dia melahirkan anak laki-laki? Entahlah, semua masih menjadi rahasia sebelum Moana melahirkan.
Pikiran seperti itu perlahan menyelimuti isi kepala Moana. Masalah suaminya yang sepenuhnya belum bisa, menerimanya saja belum kelar. Kini, sudah ada lagi masalah baru. Dimana Sakha memang terlihat begitu antusias menginginkan cucu pertamanya merupakan cucu laki-laki.
Elice yang bisa merasakan apa yang di rasakan Moana, beberapa kali berusaha untuk tetap mengalihkan pikirannya agar tidak membuatnya setres.
Namun, saat Moana ingin duduk tiba-tiba saja dia malah di kejutkan oleh sesuatu yang juga mengejutkan kedua orang tua Ernest.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung