
Namun, semua itu hanya berselang beberapa detik lantaran Ernest segera menyadari semuanya. Jika Moana itu hanyalah seorang sekretaris, sekaligus wanita yang sudah menjebaknya. Maka, selama akan tetap seperti itu.
“Ayo, cium dong! Cium, cium, cium!"
Teriakan semua orang yang sangat geregetan melihat sikap malu-malu dari kedua pengantin.
Sorakan heboh para tamu undangan berhasil membuat wajah Moana dan Ernest mulai merah merona, ditambah tubuh mereka pun terasa begitu kaku.
Sampai akhirnya ada perkataan yang dilontarkan
oleh salah satu tamu undangan, seketika menyita perhatian semuanya. Termasuk Ernest dan juga Moana.
“Wah, sepertinya pernikahan Tuan Ernest dan sekretarisnya karena terpaksa, deh. Lihat saja, buktinya wajah mereka tidak bahagia, bukan?”
“Ya, benar. Kalau mereka bahagia pasti tanpa menunggu lama Tuan Ernest langsung mencium istrinya. Tetapi sekarang, dia malah terdiam seperti adanya sebuah pertimbangan besar.”
Semua para tamu undangan yang awalnya terlihat begitu bahagia, kini menjadi terdiam membeku dipenuhi oleh berbagai pertanyaan di dalam pikirannya.
Ernest yang menyaksikan suasana mulai tidak kondusif, tanpa basa-basi segera memegang rahang Moana dan menatapnya secara mendalam.
"Di-dia mau nga-ngapain?" gumam Moana di dalam hatinya.
"Ayo, Ernest. Kau pasti bisa melakukannya, ingat! Semua ini demi nama baikmu, toh dia juga udah sah. Jadi, lakukan sekarang atau semua akan berpikir yang tidak-tidak tentangmu!" ucap batin Ernest.
Moana refleks terkejut ketika Ernest sudah berani mulai menyatukan bibirnya secara perlahan. Awalnya Ernest hanya sekedar ingin menempelkan beberapa menit, tetapi saat di rada ada hal yang aneh membuat Ernest malah terbawa suasana.
Gigitan manja berhasil lolos membuat Moana membuka mulutnya secara tidak sengaja, bersamaan dengan matanya yang kian membola sangat besar.
Melihat adanya adegan romantis itu, para tamu undangan kembali percaya bila semua yang di katakan provokator itu tidak benar.
__ADS_1
Mereka kembali bersorak bahagia menyaksikan adegan tersebut. Belum lagi para wartawan langsung mengambil momen romantis itu yang terkesan sangat manis.
Selang 5 menit, Ernest melepaskan bibirnya sambil membisikan sesuatu yang lagi-lagi membuat Moana terkejut bukan main.
“Saya lakukan ini bukan berarti saya menyukaimu, melainkan saya tidak mau reportase yang selama ini di bangun susah payah berakhir sia-sia!”
“Mungkin benar, saat ini statusmu memang istri saya. Tetapi bagi saya, kamu tetap sebagai sekretaris. Tidak lebih, mengerti!”
Bisikan perkataan Ernest benar-benar menyayat hati Moana. Sementara Moana hanya bisa tersenyum menahan air mata yang kian mulai memenuhi bola matanya.
Impian untuk menikah bersama seorang Pangeran yang teramat Moana cintai, telah kandas. Kini, malah tergantikan oleh seorang pria yang sama sekali tidak dia inginkan kehadirannya.
Di hari yang bahagia ini seharusnya Moana mendapatkan suatu bisikan kata cinta dari sang suami. Akan tetapi, kali ini dia malah mendapatkan sebuah bisikan bagaikan tamparan keras dari suaminya.
Moana mulai tersadar, bahwa mereka menikah memang atas dasar anak yang ada di dalam
kandungan Moana, bukanlah sebuah cinta.
3 bulan kemudian, kini usia kandungan Moana sudah mulai membesar. Bahkan dia pun sudah merasakan gejala ngidam yang cukup meresahkan suaminya.
Beberapa kali Ernest selalu di buat susah, hanya sekedar mencari mangga muda yang masih berada di atas pohon. Di tambah Moana selalu merengek bila apa yang diinginkannya tidak di turuti.
Jika mangga okelah, Ernest masih bisa turutin.
Namun, berbeda kalau Moana sudah mengidam indomie. Maka, Ernest langsung mengamuk lantaran itu merupakan makanan yang sangat dia benci.
Namun apa daya, Ernest tidak bisa melarang Moana bila kedua orang tuanya sudah mewanti-wanti untuk mengabulkan semua keinginan cucunya.
Jadi, apa boleh buat? Dengan segala keterpaksaan Ernest segera membuatkan indomie hanya demi sang anak. Dan juga supaya tidak menjadi bahan omelan sang Bunda.
__ADS_1
Moana duduk di kursi yang ada di dapur sambil melihat suaminya yang sedang kesusahan untuk membuat menu sesuai keinginannya.
"Astaga, Tuan. Bukan begitu caranya, masa iya cabai yang sudah di blender harus di masukin ke air yang ada rasanya tidak akan enak!" ucap Moana, menepuk dahinya sendiri.
Bagaimana Moana tidak pusing melihat suaminya, ketika dia masak asal masukin semua bahan tanpa melihat cara-caranya terlebih dahulu.
"Ckk, nyusahin banget sih. Lihat itu udah jam berapa, bukannya tidur malah ribut makan terus!" sahut Ernest yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Moana yang sedikit saja di bentak langsung meneteskan air matanya, entah mengapa semenjak hamil perasaan itu benar-benar sangat sensitif.
Sampai akhirnya tangis Moana tidak sengaja terdengar oleh Bunda Elice yang ingin ke dapur.
"Ernest! Kau apakan lagi menantuku, hahh? Kenapa dia menangis seperti ini?" tanya Bunda Elice matanya membola penuh amarah.
"Apan sih, orang Ernest tidak ngapa-ngapain dia. Dianya aja yang cengeng, makin ke sini bukannya mandiri malah makin nyusahin!" jawab Ernest yang langsung mendapat jeweran dari tangan pedas Bunda Elice.
"A-aaargh ... Sa-sakit, Mah. Sakit!" keluh Ernest, mencoba melepaskan tangan Bundanya.
Moana yang melihat itu malah terkekeh membuat Ernest bertambah kesal, akan tetapi saat Ernest kembali mau memarahi istrinya lagi-lagi jeweran di kupingnya semakin memanas.
Melihat suaminya kesakitan bukan membuat Moana menjadi kasihan, melainkan malah terlihat sangat lucu. Tak lama Bunda Elice pun melepaskan kuping anaknya yang sudah sangat merah.
Setelah itu Bunda Elice yang mengambil alih untuk membuat masakan yang akan di minta oleh menantunya. Sementara Ernest pergi begitu sama sambil melirik sinis ke arah Moana sambil mengusap kupingnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...