Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Penyesalan Ernest & Felix


__ADS_3

Betapa terpukulnya Ernest, ketika dia harus kehilangan 2 orang sekaligus di dalam hidupnya setelah menyadari akan kesalahannya.


Penyesalan yang tidak bisa Ernest perbaiki membuat dadanya begitu sesak. Kehilangan Moana dan Justin, sama halnya seperti detak jantung yang sudah tidak lagi berfungi dengan baik.


Kenapa di saat Ernest telah berjanji untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya, seakan-akan Tuhan sangat murka atas perbuatan Ernest yang salah dalam memberikan hukuman.


Ujian yang telah diberikan kepada Ernest saat ini, seperti sebuah hukum alam. Apa yang dia tanam, malah berbuah kepahitan. Penyesalan atas perbuatannya benar-benar tidak bisa di toleransi. Ernest mendapatkan garansi penyesalan seumur hidup yang tidak akan pernah dia lupakan.


Begitu juga Felix, dia merasakan hal yang sama dengan apa yang Ernest rasakan. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas perginya Moana dan Justin untuk selamanya.


Seandainya Felix jujur dari awal, kemungkinan nasib Moana dan Justin tidak akan setragis saat ini. Sehingga dia masih bisa menyaksikan anaknya tumbuh menjadi pria dewasa.


Semua impian orang tua pasti hanya menginginkan hal yang sama sebelum pergi meninggalkan anaknya untuk selamanya. Mereka ingin anaknya tumbuh menjadi orang dewasa yang baik, bijak, sukses dan juga bahagia. Tidak seperti Felix, dia hanya bisa menyaksikan anaknya tiada di usia yang masih sangat kecil.


"Is-istriku ti-tiada? I-itu ti-tidak mungkin! Ka-kau pasti salah, Dok. Kau pasti salah, ya 'kan? Hahah ...."


"Moana dan juga Justin adalah orang yang kuat, jadi tidak mungkin mereka pergi hanya karena luka di tubuhnya. Sementara luka di hatinya akibat ulahku yang lebih menyakitkan saja, mampu mereka lewati dengan mudah. Terus kenapa hanya karena fisik, mereka menyerah? Haha, tidak masuk akal!"


"Diagnosis kalian itu pasti salah, mereka semua masih hidup! Moana tidak akan meninggalkanku karena dia sangat mencintaiku, begitu juga Justin. Dia sudah menyayangiku, jadi di tidak akan bisa menjauh dariku!"

__ADS_1


"Dasar dokter bo*doh! Bisa-bisanya kau membohongiku untuk mengatakan kalau mereka telah tiada, hahah ...."


Tawa Ernest menggelegar di depan ruangan tersebut. Di balik tawanya terdapat sebuah kesedihan yang sangat mendalam dari sorotan matanya.


Bulir-bulir air yang menetes di wajah Ernest merupakan pertanda bahwa kesedihan yang teramat mendalam, berhasil mengobrak-ngabrik isi hatinya.


Felix sendiri juga tidak menyangka, anaknya bisa secepat ini pergi meninggalkannya sebelum dia tahu siapa Ayah kandung yang sebenarnya. Dan, Felix pun belum mendapatkan pengampunan atas semua masalah yang sudah menimpa Moana karena dirinya.


"A-anakku telah ti-tiada? Tidak mungkin! Dia anak yang kuat, anak yang baik dan juga anak yang sangat ceria. Ja-jadi tidak percaya kalau Tuhan mengambilnya secepat ini, bahkan aku sendiri be-belum pernah mendengar Justin memanggilku dengan sebutan Ayah!"


Air mata Felix mulai menetes bersamaan dengan tatapan yang sangat kosong menyorot lurus ke arah depan.


Hati Felix benar-benar hancur tidak tersisa ketika harus mendengarkan berita tentang kema*tian anak satu-satunya yang selama ini tidak berani di akui.


Kehilangan anak di usia yang kurang lebih 5 tahun kurang, bukanlah hal yang mudah untuk merelakan kepergiannya. Sebab, di usia yang sangat muda itu masih lucu-lucunya anak untuk mengetahui dunia serta belajar mengerti apa yang baik dan salah.


"Ja-jadi cucu sama menantuku, me-mereka semua ti-tidak se-selamat? I-itu artinya mereka telah tiada untuk selamanya?" tanya Elice, air mtanya sudah mengalir deras membanjiri wajahnya.


"Ya, itu benar sekali Nyonya, Tuan. Mereka semua telah tiada, kami akan segera mengurus jenazahnya. Dan, kalian hanya memiliki kesempatan sekali seumur hidup melihat wajah mereka untuk terakhir kalinya sebelum kami persiapkan kepulangannya. Setelah itu, pihak keluarga tidak ada yang bisa kembali melihat wajahnya!" jawab dokter pertama.

__ADS_1


"Ba-bagaimana mungkin semua itu terjadi, Dok? Me-mereka bukannya baik-baik saja, lalu kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini?" tanya Sakha, tidak percaya.


"Saya pun bingung, Tuan. Mungkin ini sudah takdir-Nya, kita hanya manusia biasa yang tidak bisa merubah segala sesuatu apa bila sudah kehendak-Nya!" seru dokter ketiga.


Elice menatap Sakha, lalu memeluknya sambil memukuli dadanya berulang kali. Dia tidak terima jika cucu serta menantunya bisa secepat ini tiada.


Sakha tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain memelek erat istrinya yang menangis di dalam pelukannya sambil mengamuk tidak terima.


Sementara Ernest, dia masih tertawa remeh dengan air mata yang terus mengalir. Dan, beberapa detik kemudian Ernest berteriak lalu berlari sekencang mungkin untuk bisa segera menemui Moana.


Di mana tubuh Moana dan Justin sudah tertutup selimut yang menutupi dari ujung kepalanya sampai ujung kakinya. Keadaan seperti itu semakin membuat hati Ernest begitu hancur.


Selang beberapa detik, Felix pun menyusul Ernest memasuki ruangan ICU dalam keadaan mental yang sudah acak-acakan.


Ernest menangis sambil memeluk Moana, begitu juga Felix yang menangis memeluk Justin. Sementara Sakha dan Elice hanya bisa berpelukan sambil melihat kedua pria sedang meratapi penyesalan yang tidak akan pernah bisa di tebus sebelum mendapatkan kata maaf dari Moana ataupun Justin.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2