Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Dilema Ernest


__ADS_3

Di satu sisi Ernest bisa mengerti tentang perasaan Moana. Di sisi lainnya rasa kekecewaan terhadap semuanya telah berhasil melumpuhkan cintanya pada sang istri, sehingga cinta yang telah tumbuh kini terkalahkan dengan rasa kecewanya.


"Maafkan aku! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mengontrol rasa ini. Setiap kali aku menatapmu, maka yang aku ingat adalah kepengkhianatan kalian. Bukan cinta yang sudah aku berikan padamu!"


"Entah sampai kapan rasa ini berakhir, intinya aku belum bisa menerima semua kejadiaan yang membuatku seperti ini. Andaikan dulu tidak ada kejadian itu, sudah di pastikan saat ini Perusahaanku akan menempati podium sebagai Perusahaan terbesar yang ada di 5 negara!"


"Namun, sayangnya. Aku harus memendam impianku itu dan menikahimu karena rasa tanggung jawabku, yang pada akhirnya semua itu hanyalah kebohongan belakang!"


"Jika aku bisa membencimu, aku sudah lakukan itu dari kemarin. Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya karena, bagaimana pun aku masih mencintaimu. Hanya saja, rasa kecewa itu selalu menyelimuti rasa cinta ini!"


"Setiap kali aku ingin mengesampingkan semuanya, tetapi rasa kecewa itu semakin kuat. Sampai aku tidak tahu, apakah aku tetap akan bertahan dengan keadaan ini atau menyerah dan memilih untuk menyudahi semuanya, supaya kita tidak saling menyakiti satu sama lain!"


Ernest berbicara di dalam hatinya, tanpa di sadari satu bulir air mata menetes di pipinya dalam keadaan masih memejamkan kedua matanya.


Moana yang melihat punggung Ernest, semakin membuatnya merasa tidak lagi di hargai. Sehingga, Moana memilih untuk merebahkan tubuhnya dalam posisi mereka saling memunggungi satu sama lain.


Suara isak tangis Moana, sedikit terdengar membuat Ernest perlahan menoleh ke arah punggung istrinya yang sedikit gemetar. Bisa di pastikan, kalau Moana sedang berusaha menahan tangisannya agar tidak sampai terdengar oleh suaminya.


Ernest kembali pada posisi awal, di mana dia mulai memejamkan matanya ketika merasakan hawa pusing di kepalanya yang mulai berlebihan.


Sementara Moana, dia masih merasakan dadanya yang sesak akibat perkataan suaminya yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Bisa di pastikan, Ernest yang saat ini sama Ernest yang dulu jauh berbeda. Perkataan Ernest sekarang, lebih tajam dari biasa yang Moana terima. Mungkin semua itu disebabkan oleh rasa kecewa ada di hatinya.


"Kenapa kamu berubah seperti ini, Nest? Kenapa? Apakah cinta yang ada di dalam hatimu untuk aku dan Justin telah tiada? Jika benar begitu, semudah itukah kamu melupakan kebahagiaan yang baru saja kita rangkai? Padahal, belum lama kamu mengungkapkan perasaan padaku. Sampai akhirnya, kita bisa bersatu dengan ikatan cinta!"


"Namun, kenyataannya. Cintamu tidak sekuat cintaku! kamu hanya tinggal menyatakan cinta, maka bisa langsung mendapatkan hasilnya tanpa harus merasakan sakit terlebih dahulu. Berbeda denganku, harus bertahun-tahun berjuang menggunakan berbagai cara, agar bisa menumbuhkan rasa cinta itu supaya kita bisa menjalani rumah tangga layaknya suami-istri pada umumnya!"


"Maaf, kalau aku belum bisa menjadi istrimu yang baik. Maaf bila aku belum menjadi wanita yang sempurna di matamu, dan maaf bila aku telah mengecewakan atau mengkhianatimu. Jika, takdir bisa di rubah. Mungkin aku akan memilih untuk tidak mau mengenalmu, supaya aku bisa hidup tenang walaupun dalam keadaan susah!"


Moana mengutarakan isi hatinya sendiri dalam keadaan menangis sesegukan. Dia berusaha keras menahan suaranya agar tidak sampai terdengar oleh Ernest.


Sampai akhirnya, Moana tertidur dalam keadan air mata masih mengalir deres. Begitu juga Ernest yang tertidur dalam keadaan dilema terhadap cinta dan juga rasa kecewanya.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Rasanya ingin sekali Moana mengusap kepala hingga pipi Ernest, tetapi dia urungkan niatnya. Sebab, perkataan Ernest semalam masih terngiang-ngiang di dalam ingatannya.


Tanpa harus menyentuh Ernest, Moana segera bangkit dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya sebelum dia keluar dari kamarnya.


15 menit berlalu, ketika Moana sedang sabunan di dalam kamar mandi. Seorang anak kecil masuk ke kamar dengan muka bantalnya yang sangat polos untuk mencari seseorang, sayangnya dia tidak menemukan apa yang di cari. Siapa lagi kalau bukan Justin yang selalu mencari Ibunya setiap kali bangun tidur.


"O-omi? O-omi temana? Enapa Omi ndak ada di cini?" tanya Justin, bingung. Matanya langsung beredar mecari keberadaan Moana, tetapi dia hanya menemukan Ernest yang ada di atas ranjangnya.

__ADS_1


"E-edi? Edi acih bobo?" ucap Justin perlahan sambil menaiki ranjang.


Justin duduk melihat ke wajah Ernest yang sangat dia sayangi. Entah mengapa, semakin ke sini Justin semakin tidak bisa lepas dari Ernest.


Rasa kangennya beberapa hari tidak bisa melihat wajah Daddynya, mulai sedikit terobati. Justin tersenyum ketika wajah Ernest berhasil dia sentuh menggunakan tangan mungilnya.


"Edi au ndak, alo Usti itu cayang anget cama Edi. Ustin ndak au Edi pelgi, Ustin au teyus cama Edi cama Omi. Api Ustin ingung, tenapa cetiap Ustin bobo celalu impi alo Edi au pelgi auh inggalin Ustin. Emangna Ustin ahat ya cama Edi, dadi Edi au inggalin Ustin?"


"Ustin anji, deh. Ustin ndak ahat agi, Ustin atan celalu cayang cama Edi cama Omi uga. Otokna kita halus cama-cama ya, bial anti alo Ustin becal Ustin bica buat Edi cama Omi ceneng. Kalena Usti cayang kayian!"


Justin berbicara penuh kebahagiaan sambil memeluk Daddynya dalam keadaan Ernest tertidur terlentang. Posisi itu sangat mudah untuk di peluk Justin, sehingga pelukan spontan itu berhasil membuat Ernest terkejut dan langsung membuka matanya.


Di mana Ernest kaget dan refleks langsung menjauhkan tubuh kecil Justin agar tidak mendekatinya. Terlihat sekali respon Ernest untuk Justin tidaklah baik, seakan-akan dia sangat jijik ketika Justin terus mendekatinya.


Sementara Justin hanya bisa terdiam menatap lekat Daddynya. Justin bingung, karena biasanya Ernest selalu memeluknya meski terbilang jarang. Akan tetapi, jika sedang tidur bersama Ernest selalu memeluk Justin. Tidak seperti saat ini, karena terlihat jelas bila Ernest tidak ingin di sentuh olehnya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2