
"Menjadi ...." ucap Thoms dan Moana secara bersamaan dalam kondisi wajah yang sudah dipenuhi oleh rasa penasaran.
"Jadi ... Jadi, Kakak hehe ... Gimana? Bagus, 'kan?"
Seketika Moana dan Thoms hampir saja pingsan saat mendengar jawaban dari Naya yang super duper mengejutkan. Rasanya Moana ingin sekali mencekik gadis yang sedang tertawa seperti meledek mereka. Akan tetapi, balik lagi. Gadis itu adalah gadis kesayangan sang kakak, sebisa mungkin Moana harus bersabar untuk menghadapinya.
Jangankan Moana, Thoms sendiri saja berasa ingin mengarungin bocil satu ini ke dalam karung goning, kemudian membuangnya ke laut hingga menjadi santapan ikan-ikan ganas di laut lepas.
Namun, jangan salah. Itu semua hanya niatan mereka yang terjadi akibat rasa kesal, bukan berarti mereka benar-benar ingin melukai Naya.
"Hahh ... Rasanya aku ingin sekali menyumpel tuh, mulut menggunakan kaos kaki 2 bulan gak dicuci."
Moana berbicara dengan suara yang sangat kecil nyaris tidak terdengar, tetapi Thoms bisa mendengar itu dengan jelas karena berada tepat di samping sang adik. Mata Thoms melirik ke arah Moana, membuatnya hanya tersenyum cangung.
"Hehe ... Ma-maaf, pisss ...." Moana menunjukkan jari membentuk huruf V sambil menunjukkan sederetan gigi rapi nampak putih bersih.
Naya langsung menghentikan tawanya ketika melihat keanehan diwajah mereka, "Kalian kenapa? Apa Tuan tidak senang kalau aku panggil Kakak?"
Tanpa rasa bersalah, Moana segera menjawab pertanyaan yang bukan untuknya, "Wahh, enggak kok, Kakakku malahan suka banget. Panggilannya sangat romantis, itu sangat cocok buat kalian hihi ...."
"Terima kasih, Ka ... E,ehh, maksudnya Moana hehe ...." Naya tertawa canggung ketika pertama kali memanggil Moana menggunakan nama, bukan lagi dengan kata tambahan di depannya.
Moana menepuk sedikit lengan Thoms sambil bwrkata, "Sabar ya, Kak. Jodohmu yang Tuhan kirim itu terlalu baik sekali, bahkam memberikan nama padamu sangatlah sopan hihi ...."
"Terus meledekku, ya, terus ...." Thoms melototkan matanya membuat Moana langaung berpamitan karena takut kena semprot. "Astaga, aku lupa. Anakku, Barra kayanya belum minum susu. Aku ke kamar dulu ya, kalian baik-baik di sini. Dadahh Kakakku sayang hihi ...."
Moana bergegas meninggalkan ruangan dalam keadaan Thoms masih menatapnya dengan tatapan kesal. Sementara Naya, terdiam melambaikan tangan membalas tangan Moana. Lalu, matanya melirik ke atas memperhatikan wajah Thoms yang datar.
"Kakak ...." panggil Naya, suaranya begitu lembut.
"E,ehh ... I-iya, kenapa, Sayang?" Seketika wajah Thoms berubah menjadi tersenyum. Dia duduk di kursi lalu menatap wajah gadis yang berhasil menaklukkam hatinya.
"Kakak enggak suka ya, sama panggilan itu? Kok, wajah Kakak datar gitu. Apa aku salah? Bukannya panggilan Kakak itu juga termaksud kata romantis loh, dalam berpasangan. Sama halnya kaya panggilan Abang dan Adek yang banyak aku dengar, kecuali kalau kita nanti udah nikah terus punya anak. Barulah kita ganti panggilannya menjadi Bunbun sama Yaya. Gimana? Lucu, 'kan? Hihi ..."
__ADS_1
Betapa bahagianya gadis itu setelah mempersiapkan semua panggilan lucu tersebut hanya dalam waktu yang sangat singat. Sehingga, Thoms tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengangguk dan tersenyum.
Setidaknya, Thoms bisa melihat Naya selalu tertawa seperti ini sudah membuat hatinya bahagia. Meskipun, sedikit kecewa cuma tidak apa-apa. Kalaupun, Thoms ingin membantah bisa saja, tetapi dia tidak ingin mengecewakan Naya yang sudah antusias memberikan panggilan tersebut padanya.
"Lucu banget, Sayang. Oh, ya ... Kamu pasti haus, 'kan? Minum dulu ya, terus makan aku suapin."
Tangan Thoms perlahan mengambil minum, lalu membuka sedotan dan memasukannya ke dalam gelas berisikan air putih. Dengan sangat hati-hati, Thoms sedikit membenarkan bangkar bagian kepala Naya agar memudahkannya untuk minum dan makan.
Untuk pertama kalinya, seorang Thoms mengurus seorang wanita yang selama ini selalu berusaha dia hindarkan karena tidak tertarik sedikit pun. Cuma, kali ini berbeda. Thoms tidak ingin meninggalkan Naya walau hanya beberapa menit saja.
Sikapnya yang manis penih kehangatan, berhasil membuat Naya merasa sebagai wanita paling beruntung di dunia. Dia bisa mendapatkan pria sebaik dan seperhatian Thoms. Meskipun, pria itu memiliki masa lalu yang kejam tetap saja, Thoms terlahir dari keluarga baik-baik.
Dia begitu hanya karena tidak terima hingga menimbulkan dendam kepada orang yang telah menyakiti keluarganya. Padahal, dibalik itu siapa pun yang mengenal Thoms menggunakan mata hati pasti akan melihat betapa besar cinta kasih yang dimiliki olehnya untuk orang-orang tertentu.
Dengan telaten Thoms menyuapini Naya, kemudian membujuk gadis itu agar tetap memakan makanan rumah sakit, meski tidak memiliki cita rasa seperti makanan pada umumnya.
"Ayo, habiskan. Nanti kalau kamu udah sembuh, pulang dari rumah sakit aku ajak ke suatu tempat. Gimana, mau?"
"Ke mana, Kak?" tanya Naya sambil mengunyah.
"Hem, masih lama. Lagi pula, aku pasti harus pemulihan juga. Tidak mungkin keluar dari rumah sakit kita langsung pergi, 'kan?"
"Bisa saja, kenapa tidak mungkin? Apakah kamu tidak percaya dengan diriku ini, hem? Kamu tahu bukan, siapa aku ini." Thoms memainkan kedua alis seraya menggoda Naya.
"Kakak jangan macam-macam, ya!" seru Naya. Wajahnya seketika berubah membuat Thoms terkekeh kecil.
"Memang kenapa? Aku hanya mau satu macem yaitu, kamu hihi ...."
"E,ehh ... Memangnya mafia bisa gombal, ya?"
"Mentang-mentang aku mafia, terus aku gak bisa romantis dengan calon ibu dari anak-anakku gitu?"
Degh!
__ADS_1
Naya terdiam mematung dengan mata membelalak. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pria yang selama ini dikenal sangat cuek, dingin, dan kejam. Sekarang telah berubah menjadi seekor buaya darat tanpa gigi.
Loh, kok bisa? Jelas, bisa. Bayangkan saja, jika seekor buaya sudah ditaklukkan oleh sang pawang. Maka taring gigi yang keras, tajam, serta menyeramkan akan berubah menjadi dodol. Lembek, kenyal, dan tidak berdaya untuk melawannya.
"I-ibu dari anak-anak Kakak?" tanya Naya dengan suara kecil. Wajah gadis itu langsung memerah padam ketika merasa malu.
"Ya, kenapa? Gak ma---"
"Ma-mau, mau, mau, mau. Ayo!"
"Hahh? Ayo, ke mana?"
"Nikah hihi ...."
Pletak!
Thoms spontan menyentil dahi Naya cukup keras sampai gadis itu mengeluh kesakitan dan mengusap dahi supaya rasa pedih, juga perih perlahan menghilang.
"Isshh, Kakak! Sakit tahu, kejam kalilah sama bocil menggemaskan ini huhuhu ...." Naya berpura-pura menangis yang semakin membangunkan sifat jahil Thoms.
"Nangislah yang kencang biar nanti aku sumpel mulutmu dengan mulutku. Gimana?"
Secepat mungkin Naya langsung menutup mulutnya sambil melototkan kedua mata menatap betapa me*sumnya Thoms saat ini.
"Huaaa ... Dasar om-om me*sum!"
Naya berteriak di dalam sumpelan tangan sehingga suaranya menggelegar di dalam kamar, sampai-sampai membuat seseorang yang masuk ke ruangan itu langsung terkejut.
Thoms spontans berdiri dan menunjukkan sikap biasa layaknya pria yang disegani semua orang, ketika mengetahui ada orang lain di dalam ruangan itu selain mereka berdua.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...