
Entah mengapa, hati Ernest bergetar hebat ketika melihat Moana mengambil Barra dari pelukannya. Rasanya dia tidak ingin melepaskan Barra, tetapi Ernest tidak menghiraukan perasaannya sendiri. Dia lebih memilih untuk memeluk Justin, menumpahkan semua kerinduannya selama ini.
"Daddy kangen sama Justin, Justin ikut Daddy pulang ya sama Mommy. Daddy kesepian, tidak ada kalian di samping Daddy. Maafkan Daddy, Maaf hiks ...."
Ernest menangis sambil terus memeluk Justin, di mana tangan Justin perlahan terangkat untuk membalas pelukan Ernest, tapi dia urungkan. Justin hanya terdiam tanpa berbicara apapun. Dia memilih mengungkapkannya di dalam hatinya sambil meneteskan air matanya.
"Justin juga kangen sama Daddy, tapi Justin takut kalau Daddy tahu Barra anak Daddy. Pasti Daddy akan membawa mereka pergi, Justin tidak mau! Lebih baik Justin tidak punya Daddy, dari pada harus kehilangan Mommy sama Ade. Justin tidak rela!"
Suara hati Justin memang sebagai perwakilan isi hatinya. Satu sisi dia ingin mereka hidup bersama, tapi sisi lainnya Justin berpikir kalau Ernest masih tidak bisa bersikap adil pada semua anaknya. Baik anak kandung maupun sambung.
"Maafkan aku, Ernest. Aku tidak bisa kembali bersamamu sebelum kamu bisa membuktikan kalau kamu memang layak menjadi Daddy dari anak-anakku!" gumam Moana di dalam hatinya sambil memeluk Barra, dan menghapus air mata yang mulai menetes di pipinya tanpa di sengaja.
Di sela-sela tangisan mereka, seseorang datang bersama dengan beberapa bodyguar yang selalu setia berada di sekelilingnya.
Kehadirannya berhasil membuat mereka terkejut dan menghentikan isak tangis yang mulai menyelimutinya. Tanpa adanya larangan, orang itu langsung mengambil Barra dari Moana dan mencoba untuk membuatnya nyaman karena menangis.
"Astaga, Barra! Kamu gapapa 'kan, Nak? Kamu baik-baik aja?" ucap seseorang penuh rasa khawatir ketika memeluk Barra.
Justin melepaskan pelukan Ernest begitu saja, lalu menatap pria itu yang tidak lain adalah Thoms, "Pa-papah? Ko-kok Papah di sini?"
Ernest langsung terkejut bukan main, ketika dia mendengar panggilan tidak asing dari Justin untuk Thoms. Ternyata dugaan Ernest benar, Moana sekarang sudah memiliki suami dan Barra merupakan anak dari Thoms.
"Loh, Justin! Ada apa dengan kamu? Kenapa terluka begitu?" tanya Thoms, membolakan matanya ketika melihat Justin terluka.
__ADS_1
"Aku gapapa, Pah. Maafin Justin, Justin tidak bisa menjaga Ade. Karena Justin Ade hampir saja terluka, maafin Justin, Pah. Maaf!"
"Tidak apa-apa, Sayang. Ini bukan salah Justin, semua ini karena mereka tidak becus menjaga kalian! Kalau mereka becus, mau dari jarak 10 meter sekalipun, mereka tidak akan membiarkan bahaya itu sampai mendekat ke arah kalian. Jadi, ini bukan salahmu. Oke?"
"Tapi, Pah. Justin yang ada di dekat Barra, jadi semua ini salah Justin. Justin tidak bisa menjadi kakak yang baik buat Barra. Maafin Justin, Pah. Maaf!"
"Ini bukan salah Justin, ini salah Mommy. Mommy yang meninggalkan kalian berdua, jadi jangan slaahin diri Justin. Oke?"
Moana langsung memeluk Justin, dia mencoba menengkan Justin yang masih sedikit terkejut. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri, padahal ini merupakan sebuah musibah agar mereka bisa lebih berhati-hati lagi.
Thoms langsung mendekat ke arah Justin, dia memeluk Justin dan Barra bersamaan dan sedikit menjaga jarak agar tidak menyenggol luka di kaki Justin.
"Pa-papah? Ja-jadi benar dugaan aku, kamu meninggalkan aku demi selingkuh sama dia?" tanya Ernest menunjukkan jari telunjuknya ke arah Thoms.
Jawaban dari Thoms, benar-benar membuat semuanya kebingungan, baik Moana, Justin ataupun para bodyguardnya. Semua bertanya-tanya di dalam hatinya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tebak.
Baru kali ini Thoms mengakui adik kandungnya sebagai istri di depan satu pria, tetapi kembali lagi. Para bodyguard hanya memendam semua itu sebagai urusan majikannya, jadi mereka tidak akan melebihi batasannya antara atasan dan bawahan.
Begitu juga Moana dan Justin. Mereka tidak ingin mengeluarkan kata-kata untuk membantah ucapan Thoms, mungkin apa yang Thoms lakukan itu memiliki arti sendiri. Sehingga mereka tidak bisa berkata apa-apa selain terdiam menuruti apa yang Thoms katakan.
Bagi Justin, mungkin itu adalah suatu cara yang membuat Thoms mengusir Ernest dari hadapannya. Dengan begitu, Justin tidak akan kembali menghadapi ketakutan ketika dia harus di pertemukan oleh Ernest yang di duga ingin mengambil Moana dan Barra dari hidupnya.
"Sudah tahun lebih, semenjak kamu dan Justin di nyatakan telah tiada aku selalu di hantui oleh rasa bersalah dan juga penyesalahan yang sangat mendalam karena sudah menyakiti kalian. Aku selalu berpikir kalau kalian masih hidup, sampai aku harus menolak keras perkataan bunda sama ayah untuk menjodohkan atau membuatku bisa menikah lagi. Bagiku, hanya kalian yang bisa menemaniku sampai hati tua bukan yang lain!"
__ADS_1
"Tidak akan ada satu pun orang yang bisa menggantikan posisi kalian untuk menjadi kesayanganku. Dan, sekarang apa yang aku lihat, hem? Kamu malah pergi meninggalkan aku demi menikah dengan pria ini. Kamu jahat, Moana. Kamu jahat!"
"Bagaimana kalau Bunda sama Ayah tahu, kalau kalian masih hidup? Pasti mereka bahagia banget, tapi sayangnya. Ketika mereka tahu kamu sudah berkeluarga, pasti mereka kecewa banget. Apa lagi Bunda sangat menyayangimu, sudah bisa di pastikan dialah orang pertama akan terluka parah!"
"Beberapa kali Bunda sama Ayah mengajakku berobat ke spikolog sampai dikatakan setres, hanya karena di bilang menghayal kalau kalian itu masih hidup. Tapi, apa buktinya? Aku, benar bukan. Dugaanku tidak akan pernah salah, kamu dan Justin memang masih hidup, kalian hanya kecewa sama aku karena selama ini aku telah menyiksa batin kalian sampi membuat mental kalian terganggu. Jadi, maafkan aku. Aku salah dan aku menyesal!"
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau aku akan berubah apapun resikonya aku akan tetap berjuang demi mengembalikan kalian ke dalam pelukanku. Jikalaupun aku harus mengemis dan bersujud di depan kaki pria itu, aku akan lakukan. Tidak peduli apa kata orang, intinya aku akan memperjuangkan kalian!"
"Setelah kepergianmu, aku memang sudah berniat ingin memperbaiki semua yang sudah aku berbuat. Di mana aku sudah menerima Justin menjadi bagian dari hidupku dan aku juga sudah menerima masa lalu kita sebagai bagian dari kisah kita. Lantas, di saat aku sudah bekerja keras untuk berubah itu semua. Dan sekarang aku tahu kalian msih hidup, kalian malah sudah memiliki kehidupan sendiri."
"Kenapa kamu bisa sejahat ini sama aku, Moana? Apa kamu sudah benar-benar melupakan cinta kita? Semudah itukah? Hanya karena keegoisanku, sifatku yang jelek, dan adatku yang tidak kamu sukai sampai-sampai membuatmu harus merencanakan semua itu demi membuatku menyesal seumur hidup, iya? Kalau begitu, selamat. Kamu sudah berhasil membuatku berada di titik itu. Kamu hebat, Moana. Hebat!"
"Kamu bisa menyadarkanku secepat itu, tanpa kamu sadari kamu telah membuat hidupku merasa tertekan atas kesalahanku. Setidaknya aku tidak mengkhianatimu, meskipun aku tahu kamu sudah tiada di dunia ini. Berbeda sama kamu, karena egoku kamu sampai melakukan semua ini untuk membalasku. Tidak apa-apa, aku terima kok, apa mungkin ini jawaban penantikanku. Kalau aku harus menjauh dari kalian? Jika benar, aku tidak mau! Aku akan perjuangkan kalian, titik!
Kali ini Keegoisan yang Ernest berada di posisi yang tepat. Tidak seperti sebelumnya, Moana sendiri yang mendengarkan semua penjelasan Ernest menjadi terharu. Dia tidak menyangka Ernest bisa mengatakan semua itu dengan lantang juga penuh keseriusan, tanpa adanya emosi sedikit pun.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1