
Setelah pemotretan selesai, mereka pun pergi menghabiskan waktu berdua di luar dengan menikmati pemandangan di sore hari.
Di rasa sudah cukup, mereka pun pergi ke Apartemen Felix untuk sekedar berganti pakaian, sebelum mereka pergi ke Restoran yang sudah di observasi
Sebenarnya, Felix bisa saja mengantar Enza kembali ke Apartemennya. Akan tetapi, Enza tidak ingin pulang. Dia hanya ingin ada di dekat Felix, sebab semua ini adalah waktu yang langka bagi mereka bisa bersama.
Felix sudah membelikan baju sepasang untuk mereka gunakan di acara dinner di malam ini. Baju senada dengan lekuk tubuh mereka menambah kesan ketampanan dan juga kecantikan yang tiada tandingannya.
Namun, sayangnya. Ketika mereka ingin keluar Apartemen, ternyata hujan badai datang tanpa di undang.
Acara dinner mereka pun harus di batalkan oleh pihak Restoran. Karena rooftop yang ingin di gunakan telah terguyur air, sampai semua desain yang mereka rangkai sedemikian cantiknya harus menjadi rusak.
Felix dan Enza langsung kembali ke dalam Apartemennya. Dimana wajah Enza terlihat begitu kecewa di saat acaranya harus di batalkan.
"Sa-sayang, jangan marah dong." ucap Felix yang sudah duduk di sebelah Enza, tepat di atas ranjang.
"Aku enggak marah, hanya kesel aja. Kenapa di saat kita mau menghabiskan waktu berdua, selalu ada aja halangannya. Waktu itu atasanmu yang menyebalkan, sekarang hujan, terus apa lagi?"
Enza terus mengeluarkan unek-uneknya saat merasa kesal oleh semua kejadian ini. Rasanya susah sekali untuk merasakan momen berdua dengan Felix, tidak seperti dulu yang selalu ada.
Siapa yang tidak akan marah, karena setiap hari mereka di sibukan oleh pekerjaan masing-masing yang bisa memakan waktu berhari-hari nonstop. Akan tetapi, ketika ada waktu luang mereka selalu saja gagal menciptakan suasana romantis.
Hingga akhirnya, Felix mencoba untuk menenangkan tunangannya dengan berbagai cara. Perlahan dia memegang kedua tangan Enza, lalu kedua mata mereka menatap satu sama lain sangat lekat.
__ADS_1
"Sayang, aku tahu kamu pasti marah, kesal dan juga bosan. Hanya saja ini semua di luar dari dugaan kita, dan kita tidak bisa mencegahnya, bukan?"
"Nah, dari pada kamu marah-marah seperti ini tidak ada hasilnya. Bagaimana kalau kita dinner di dalam Restoran aja, mau? Nanti aku pesankan yang tidak kalah cantik sama di rooftop."
Enza menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak mood lagi untuk melakukan apapun karena rasanya semua sudah berantakan.
Jika saja Enza sedikit saja mengerti keadaan, Felix bisa saja membuat sebuah Restoran dalam waktu singkat menjadi tempat dinner yang begitu cantik sesuai keinginannya.
Hanya saja, Enza tidak menginginkan dinner di dalam Restoran. Melainkan di atas rooftop yang tinggi agar mereka bisa melihat bintang dan bulan dalam jarak yang terbilang dekat.
"Tidak, aku tidak mau. Aku mau tidur aja, aku capek!" ucap Enza yang langsung merebahkan tubuhnya di dalam selimut sambil membelakangi Felix.
"Astaga, perasaan ini bukan salahku. Kenapa aku yang kena marah? Ternyata benar ya apa yang Tuan Ernest katakan, kalau wanita itu memang sangat memusingkan."
"Namun, kalau tidak ada wanita bagaimana aku bisa memiliki anak? Masa iya terong ketemu terong? Huaa, tidak, tidak, tidak! Memangnya aku pria apaan, ya kali terong-terongan."
"Sayang, ayolah. Please ... jangan marah. Atau kita buat kamar ini jadi tempat romantis. Gimana?" ucap Felix, berusaha membalikan mood Enza dengan segala cara.
"Mana bisa, lagian ini kamar tempat untuk beristirahat bukan dinner!" jawab Enza, cuek.
"Oh, kamu meremehkan calon suamimu ini, hem?" Felix berdiri tepat di hadapan Enza yang masih merebahkan tubuhnya ke samping kanan.
Alis Felix bergerak naik-turun, bersamaan dengan senyuman khas orang yang sedang menggoda pasangannya sendiri.
__ADS_1
"Coba saja, kalau benar aku akan berikan 1 permintaan yang kamu inginkan." tantang Enza, perlahan mulai duduk menatap Felix.
"1 permintaan, tanpa terkecuali?" tanya Felix, semakin terlihat begitu antusias.
"Ya, coba saja dulu. Paling juga tidak bisa." jawab Enza, meremehkan Felix.
"Baiklah, sekarang kamu ke luar dulu dari kamar ini. Aku akan merombak kamar ini menjadi tempat yang sangat romantis, sehingga kamu tidak lagi meremehkan bakat suamimu ini." sahut Felix percaya diri.
"Cihh ... Ya sudah aku kasih waktu 1 jam dari sekarang, kalau kamu bisa aku akan menempati janjiku. Jika tidak, maka kamu yang harus menuruti 1 permintaanku. Bagaimana? Deal?"
Enza menjulurkan tangan kanannya sambil tersenyum penuh arti. Dia terlihat sekali sangat percaya diri, kalau Felix tidak bisa membuat suasana kamar menjadi romantis, seperti apa yang di katakan olehnya.
Tanpa basa-basi Felix menggenggam tangan Enza, di penuhi rasa menenangan di dalam hatinya. Tatapan Felix benar-benar terkesan seperti ingin menaklukan wanitanya, tetapi Enza langsung saja pergi dari kamar menuju ruangan depan.
Seperginya Enza, Felix malah kebingungan sendiri bagaimana dia harus merombak kamar yang terlihat biasa saja menjadi kamar yang penuh keromantisan.
15 menit berlalu, Felix masih belum menemukan cara. Dia masih terdiam berkutik dengan pemikirannya yang sangat buntu.
Akankah Felix bisa mendapatkan 1 permintaan yang akan diberikan Enza padanya? Ataukah sebaliknya, Enza yang akan mendapatkan 1 permintaan darinya? Entahlah, semua masih menjadi tanda tanya besar, sebelum Felix menyerah.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung