
Rasa semangat Justin terus bertambah saat mendengar kabar baik tersebut. Semua juga ikut senang dikarenakan Thoma memang sangat peduli dengan pendidikan juga kesehatan ponakan yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Mungkin untuk saat ini kehadiran Thoms sangat membantu keluarga kecil Ernest, tetapi apa bila Ernest sudah sembuh total dia akan kembali mengambil alih semua tanggung jawab Thoms kepada anak juga istrinya.
Ya, sebenarnya Thoms juga bisa melakukan semua ini. Hanya saja, dia tidak berdaya. Keadaan seperti ini membuat Ernest menerima semua bantuan Thoms sampai dia benar-benar sembuh total. Setelah itu, barulah Thoms bisa kembali fokus menyelesaikan misi yang belum terpecahkan sampai detik ini.
Selesai memberikan kabar tersebut, Thoms kembali mematikan sambungan teleponnya di saat sang profesor serta dokter sudah kembali memasuki ruangan terapi. Tidak lupa Thoms memberikan semangat, jika Justin sembuh dalam waktu dekat dia akan memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi karena Justin sudah berusaha keras untuk sembuh.
Meskipun hadiah itu ditujukan pada Justin seorang, Thoms tidak melupakan tentang Barra. Dia juga akan mendapatkan hadiah agar kesannya Thoms tidak pilih kasih untuk menyayangi mereka semua. Jika dari kecil Thoms sudah menanamkan sifat seperti itu, dia takut kalau nanti kedua ponakannya akan tumbuh dalam kedengkian ataupun iri satu sama lain.
Justin dan Ernest kembali menjalani serangkaian terapi selanjutnya setelah mereka semua sudah selesai menikmati makan siang juga istirahat. Barra yang tidak bisa diam langsung dibawa jalan-jalan oleh Elice dan Sakha ketaman rumah sakit menggunakan stoller.
Sementara Moana selalu menemani anak juga suaminya yang akan selalu ada di samping mereka sampai mereka dinyatakan sembuh. Tidak terasa jam terus berputar, hari pun sudah mulai sore. Sang profesor juga beberapa dokter langsung menyudahi semua terapi tersebut penuh senyuman karena banyak perubahan baik dari mereka berdua.
Terapi akan dilanjutkan di Minggu berikutnya sesuai jadwal yang sudah tertera, bahwa Justin dan Ernest hanya melakukan semua itu seminggu sekali demi kenyamanan mereka yang masih pemula. Apa bila berubahan sudah semakin meninggal, pasti dokter akan merubah jadwal menjadi seminggu 2 kali.
Dengan perasaan bahagia, senang, terharu semua bercampur aduk. Mereka tidak menyangka kalau perubahan ini terlihat begitu cepat dari yang sudah diprediksikan. Ternyata, rumah sakit yang Thoms carikan untuk Justin juga Ernest tidak kaleng-kaleng. Dia begitu totalitas mencarikan rumah sakit terbaik, terbagus dan terampuh dari yang lain.
Mereka semua kembali pulang ke rumah dalam keadaan bahagia. Tidak lupa rasa syukur kepada Tuhan selalu dipanjatkan agar mereka tidak melupakan, jika semua ini tanpa bantuan-Nya mereka tidak akan bisa mendapatkan mukjizat atau keajaiban seperti sekarang.
Sesampainya di rumah mereka semua segera bersih-bersih, lalu berkumpul di ruang keluarga untuk menikmati waktu bersama keluarga sambil menunggu Moana yang lagi menyiapkan menu makan malam bersama pembantu rumah. Sementara Elice dia merasa sedikit pegal, jadi tidak bisa membantu Moana dan memilih bercanda bersama kedua cucu tersayang.
Justin sangat-sangat beruntung memiliki ayah seperti Ernest dan opa oma seperti Sakha juga Elice. Mereka begitu baik, hingga membuat ketakutan akan dipisahkan atau dikucilkan sudah tidak ada lagi di dalam pikiran anak seumuran Justin.
Awalnya dia takut kalau mereka tidak bisa memperlakukan Justin seperti Barra, tetapi diluar dugaan. Semua menganggap Justin dan Barra adalah sama, sama-sama cucu dari keluarga Ernest. Tidak peduli da*rah siapa yang ada didalam daging Justin, terpenting dialah cucu pertama yang membawa kebahagiaan.
Tepat pukul 8 malam kurang 20 menit. Mereka sudah berkumpul di ruangan makan dengan duduk di kursinya masing-masing. Baru ingin memulai makan malam, tiba-tiba terdengar suara bel rumah yang berarti mereka kedatangan seorang tamu.
__ADS_1
Tingnong, tingnong ....
"Tumben ada tamu jam segini," ucap Sakha bingung.
"Itu bukan tamu, Ayah?" tanya Elice, langsung mendapat gelengan kepala dari Sakha.
"Jika bukan tamu Ayah, terus bukan tamu Bunda juga, apa itu tamu kamu, Nest?" sambung Elice.
"Tidak ada yang bertamu dijam segini, kalau pun ada Ernest memilih ketemu diluar dari pda di rumah."
Apa yang Ernest katakan memang ada benarnya, selama ini dia jarang sekali membawa tamu ke rumah jika memang tidak penting-penting banget. Lantas siapa tahu tersebut? Itulah yang mereka bingung dari tadi.
"Apa itu kakakmu, Naa?" tanya Elice meyakinkan.
"Tadi kakak bilang di lagi ada urusan dan akan berkunjung 3 hari kedepan. Jika kakak sudah berkata demikian, pasti dia tidak akan datang, Bun."
"Sudahlah, Bun. Dari pada main tebak-tebakan, mending dilihat aja siapa yang datang malam-malam. Siapa tahu aja penting," ucap Sakha diangguki oleh Elice.
"Ya, udah. Bunda mau kedep--"
"Tidak perlu, Bun. Biar Moana yang kedepan, Bunda di sini aja nemenin yang lain makan, nanti Moana balik lagi."
"Tapi ...."
Belum tuntas Elice menyelesaikan kata-katanya, Moana sudah pergi meninggalkan ruang makan untuk menemui siapa tamu yang datang ke rumah tepat jam seperti ini.
Di saat Moana ingin ke ruang tamu, dia langsung berpapasan dengan pembantu yang habis membukakan pintu. Tanpa basa-basi lagi, Moana langsung bertanya tentang tamu yang berkunjung.
__ADS_1
"Tamu dari mana, Bi?" tanya Moana.
Bibi langsung sedikit membungkukkan badannya, lalu menjawab pertanyaan Moana. "Itu, Non, ada Tuan Felix sama Nyonya Dinda. Mereka sudah menunggu di ruang tamu."
Moana terdiam, kakinya seakan-akan menyatu dengan lantai dan tidak bisa digerakan. Sudah lama Moana tidak bertemu dengan pria yang dulu selalu dipanggil dengan sebutan kakak sebelum Thoms hadir. Rasanya berat sekali untuk menemui mereka, tetapi inilah takdir yang harus Moana jalani.
Perasaan benci, amarah yang bersarang di dalam hati untuk Felix sekarang telah tiada. Hanya Moana masih sedikit gugup karena lagi-lagi harus menemui dalang dibalik kehancuran hidupnya.
Namun, Moana tidak ingin hidup dipenuhi oleh dendam. Semua itu malah akan menjadi contoh tidak baik untuk Justin yang juga masih belum menerima tentang jalan hidupnya.
"Non, Non Moana baik-baik saja, 'kan?" tanya Bibi memastikan, sebab dari tadi Moana haya terdiam membeku.
"Akhh, ya, Bi. Kenapa?" tanya balik Moana memasang wajah tersenyum.
"Non, tidak lagi sakit, bukan?" ucap Bibi.
"Tidak, Bi. Saya baik-baik aja, kok. Ya, sudah saya mau ke ruang tamu dulu, Bibi tidak usah beritahu mereka tentang siapa tamunya, ya?" jawab Moana diangguki oleh Bibi, lalu Moana pergi menemui tamu yang pernah membuat hatinya terluka.
Moana berusaha keras mengatur napasnya agar tetap tenang dan beraturan. Apa lagi Moana harus menyiapkan mental agar tidak seperti dulu yang penuh rasa dendam.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1