
Suara tembakan terdengar nyaring di telinga membuat para bodyguard yang berjaga digedung menjadi terkejut. Meskipun mereka tidak asing dengan suara itu, tetap saja mereka sudah mengetahui lebih dulu siapa orang yang akan terkena tembakan tersebut. Di mana Thoms telah melakukan penembakan di dada tepatnya dibagian hati seseorang berada.
"Harusnya di tempat itu semua kebaikan akan tersimpan rapat-rapat. Akan tetapi, apabila kau tidak bisa menggunakan dengan baik hati hanya akan menyimpan semua rasa iri, dengki, juga kebencian yang sudah tertanam!"
Doni benar-benar sudah tidak berdaya dan hanya menikmati setiap permainan yang Thoms berikan untuk terus menyiksa serta melampiaskan semua rasa benci, amarah, kekecewaan, dan sakit hati alterdalam atas apa yang sudah dilakukan padanya.
Jangankan untuk melawan, semua rantai dilepas saja sudah pasti Doni akan langsung jatuh di lantai tanpa memiliki kekuatan berdiri karena semua tenaga sudah terkuras habis.
"Ma-maaf, Tu-tuan. Sa-saya sa-salah, se-sekali lagi maaf."
Hanya kata-kata itu yang selalu berulang kali Doni ucapkan. Dia memang sudah mengetahui kesalahannya, tetapi semua sudah terlambat dan tidak akan ada kata ampun, atau kesempatan kedua.
"Saya sudah memaafkanmu, cuma pendirian saya tidak akan luluh hanya karena melihat kondisi dan penderitaanmu saat ini. Bagiku sekali pengkhianat tetap selamanya akan menjadi engkhianat. Sekarang terima semua resikomu, anggaplah ini sebagai penutup bisnis Kakek yang tidak akan diaktifkan kembali untuk selamanya."
"Terima kasih atas semua jasa-jasamu untuk Kakek dan terima kasih karena kau telah memberikanku pelajaran kalo peluang menjadi pengkhianat bukan hanya dari sahabat, keluarga, bahkan orang tepercaya saja juga bisa menjadi pengkhianat jika harta dan tahta sudah berbicara."
"Sekali lagi saya ucapkan terim kasih, selamat tinggal, dan selamat bertemu dengan Kakek. Semoga kau bisa kembali menjalani kehidupan barumu di sana. Beristirahatlah dengan tenang, Tuan Doni!"
Doorr ...
Doorr ...
Suara tembakan kembali dilakukan oleh Thoms di dua titik. Jantung, dahi, dan yang pertama tadi di hati. Selepas itu, Doni mengembuskan napas terakhir sambil mengatakan kata maaf lantaran sudah tidak kuat menahan semua rasa sakit atas siksaan yang didapatkan.
Selesai mengotori tangan untuk terakhir kalinya, Thoms langsung melempar senjata itu ke arah salah satu bodyguard. Semua itu Thoms lakukan karena sudah tidak membutuhkan senjata terserbut. Mungkin nanti akan dia pergunakan kembali, tetapi dalam keadaan mendesak yang mengharuskan senjata itu keluar sebagai pelindung dirinya atau orang-orang yang dia sayang.
Setelah itu, Thoms menatap satu persatu dari kelima bodyguard sambil memberikan sebuah pesan yang nantinya akan mereka jalankan.
__ADS_1
"Makamkan dia dengan layak tepat di samping makan Kakek dan jangan lupa berikan penghormatan terakhir. Meskipun, dia sudah mengkhianati kita semua, tetap saja dia punya jasa yang besar karena sudah mengawal Kakek bertahun-tahun lamanya. Apa kalian paham!"
"Paham, Tuan. Saya akan mengurus semua sebaik mungkin." Salah satu bodyguard menjawab untuk mewakilkan keempat temannya.
"Bagus!"
Thoms menganggukan kepala tanpa melepaskan pandangan dari mereka berlima. Para bodyguard tersebut langsung kembali menunduk, mereka tidak ingin menatap Thoms lebih lama seolah-olah sedang menantanginya.
"Jangan lupa bereskan semua jejak di sini, saya tidak mau ada yang tertinggal. Satu lagi, selepas Naya sembuh kita akan kembali berkumpul di markas utama. Saya minta semua anggota harus hadir tanpa terkecuali karena akan ada rapat besar. Kalian mengerti?"
"Siap, Tuan. Kami mengerti!"
Sesudah semuanya dikatakan Thoms segera melangkah pergi meninggalkan gedung tua. Setiap langkah yang dipijakkan, pria itu berusaha perlahan melepaskan semua rasa dendam, kekecewaan, sakit hati, amarah, atau apa pun itu yang masih membekas untuk Doni.
Thoms terus mencoba mengikhlaskan semua perlakuan mantan asisten sang kakek itu demi kedamaian hatinya sendiri, supaya tidak akan ada dendam baru yang timbul karena dendam lama masih tersimpan rapat.
Thoms harap Kakek bahagia di surga. Jikalau nanti Kakek bertemu dengan Mamih dan Papih Thoms, titip salah putra kesayangan mereka sudah berhasil menemukan adik kecil yang selama ini hilang dan jangan lupa sampaikan salamku sama Moana kalo kami benar-benar merindukan mereka.
Pria itu terus berbicara di dalam hati setelah masuk ke dalam mobil tanpa melihat langit yang awalnya cerah, kini sudah mulai menggelap. Artinya Thoms sudah berjam-jam berada di luar sehingga lupa akan janjinya pada Naya yang ingin keluar sebentar.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tetapi Thoms tidak kunjung datang menemui Naya. Sementara gadis itu, beberapa kali merajuk sampai mempertanyakan keberadaan sang kekasih kepada salah satu dari bodyguard Thoms. Hanya saja, tidak ada satu pun yang ingin memberitahukan padanya ke mana perginya sang pria yang tidak kunjung kembali.
"Astaga, ke mana sih, dia itu sumpah ihhh, ngeselin banget."
Naya terus uring-uringan merasa kesal lantaran Thoms tidak memberikan kabar sama sekali. Ditambah Naya juga tidak memiliki ponsel yang dapat digunakan untuk mengubungi sang kekasih.
__ADS_1
Kedua bodyguard yang berjaga di dalam ruangan Naya hanya terdiam mendengar semua yang dikatakan gadis itu tanpa tahu harus menjawab apa.
"Lihat aja nanti, sesampainya dia di sini aku akan langsung memarahinya. Selepas itu, aku akan bersikap cuek tanpa mau berbicara padanya dalam waktu 3 hari ke depan!"
Naya mengoceh sesuka hati sebagai peluapan rasa kesal terhadap sikap Thoms yang seenaknya. Padahal, dia sudah berjanji untuk pergi sebentar dari siang sampai jam segini pun tidak terlihat batang hidungnya.
Tanpa disengaja, mata Naya melirik ke arah bodyguard yang sekilas menatap gadis itu lalu kembali menatap ke arah lain seperti sedang mengalihkan pandangan.
"Kenaoa kalian menatapku seperti itu, hahh? Apa kalian pikir aku ini gila karena ngoceh sendiri gitu? Asal kalian tahu aja ya, apa yang saya katakan itu benar adanya. Kalian saksinya, kalau aku akan memahari atasan kalian tepat di depan kalian berdua. Paham!"
Bodyguard tersebut cuma mengangguk kecil, bahwa mereka sudah paham atas apa yang Naya katakan barusan mengenai Thoms.
"Bagus, itu artinya kalian berdua telah menyetujui untuk menjadi saksi bisu apa yang saya ucapkan tadi. Awas aja kalo kalian sampai ikut campur, saya akan langsung menghukum kalian semua!"
Kedua bodyguard itu terdiam mematung. Mereka tidak berani mengucapkan sepatah kata atau menatal wajah Naya. Kemarahan gadis itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Thoms yang memang sudah kejam.
Entahlah, apa yang ada dipikiran mereka saat ini. Yang jelas kedua bodyguard telah menerka-nerka apabila Thoms marah pasti mereka sudah terbiasa menghadapi siksaannya. Namun, jika Naya? Sudah pasti mereka akan semakin menderita dikarenakan Thoms akan ikut campur dan menghukumnya berkali-kali lipat.
Selepas Naya mengomel, tiba-tiba pintu terbuka lebar bersamaan masuknya seseorang dalam keadaan tersenyum. Thoms menatap senang ke arah Naya tanpa rasa bersalah, sedangkan wajah gadis itu langsung murung ketika mengetahui bahwa orang yang sudah ditunggu-tunggu telah tiba. Apakah yang akan terjadi nanti?
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1