
Pelaku tersebut berhasil kabur dengan mudahnya, sebab mereka semua mengira bahwa pelaku tetaplah bagian dari mereka. Sayangnya, tidak lagi. Pelaku itu melakukan tindakan sesuka hatinya tanpa di bawah arahan dari Thoms selaku ketua Mafia.
Hanya dialah bodyguard yang berani melawan Thoms tanpa rasa takut karena dia merupakan anak buat dari mendiang si kakek yang dulu menolong Thoms.
Entah, ada kebencian apa di dalam dirinya sehingga untuk pertama kali dia melihat adanya kesempatan langsung menumpahkan rasa kesal terhadap Thoms yang diduga tidak becus menjadi ketua Mafia.
Jika di jalan mereka sedang mengejar pelaku, lain cerita sama yang ada di dalam rumah. Mereka semua benar-benar syok atas kejadian yang menimpa Naya. Loh, kok bisa? Bukannya yang ditembak Barra, terus kenapa Naya yang kena? Itulah yang Naya bilang beberapa saat lalu. Gadis itu tetap kekeh untuk menyelamatkan Barra apa pun yang terjadi, tidak akan membuatnya mundur.
Seharusnya, peluru itu mengenai punggung Barra tepat di dalam gendongan Thoms. Akan tetapi, malah mengenai dada Naya saat dia berbalik untuk memasang badan ketika matanya mengetahui kalau ada sesuatu hal buruk yang terjadi diantara Barra dan Thoms.
Tubuh Naya melemas dan terjatuh dari tangga hingga membuat semua orang menjadi panik. Thoms langsung menyerahkan Barra pada Moana, lalu mengangkat kepala Nay dan membawanya ke dalam dekapan. Wajah Thoms terlihat sangat cemas ketika mengetahui kondisi Nay bisa sampai seperti ini.
"Apa yang kamu lakukan, hahh? Apa kamu sudah gila, kamu itu manusia bukan kucing yang punya banyak nyawa!" bentak Thoms.
"A-apa pun a-akan aku la-lakukan de-demi kalian." Naya tersenyum, meskipun harus menahan rasa sakit didadanya.
"Dasar bo*doh! Jika kamu tahu dia akan menembak ke arahku, kau bisa menarikku bukan menjadi pahlawan kesiangan seperti ini!" tegas Thoms, bola matanya mulai meneteskan air mata akibat rasa panik ketika melihat luka di dada Naya.
"A-aku ba-baik-baik saja, Tuan. A-aku senang bisa me-menyelamatkan cinta pertamaku, se-setidaknya a-aku bisa tenang ka-karena Tu-tuan pasti su-sudah tahu ji-jika cintaku ini bu-bukanlah cinta biasa. A-aku ha-hanya ingin Tu-tuan kembali me-menjadi orang ba-baik, dan me-meninggalkan se-semua yang Tuan jalani saat ini. Ke-kembalilah me-menjadi diri Tu-tuan sendiri. Ja-jangan sampai Tu-tuan membuat semuanya menjadi ke-kecewa. I-ingatlah, Sayang!"
Naya menggerakkan tangan kanan yang sudah dipenuhi oleh da*rah, lalu mengusap pelan pipi Thoms sambil tersenyum.
"Pe-pesan ayah dan ibumu sangatlah berarti, ja-jadikan masa lalumu se-sebagai ta-takdir yang sudah Tu-tuhan berikan. A-aku tahu, Tu-tuhan pasti masih sakit hati pada mereka. Cu-cuma se-sekali saja dengarkan pe-penjelasan Tu-tuan Sakha, a-aku yakin dia bukanlah pe-pembu*nuh asli orang tuamu."
__ADS_1
"Terima kasih, Tu-tuan telah me-mencintaiku. A-aku senang se-sekali ke-ketika pertama kali aku bisa me-merasakan ba-bagaimana ra-rasanya dicintai. Wa-walaupun hanya se-sebentar saja, a-aku tetap bersyukur. Tu-tuan su-sudah me-menjagaku dengan sangat ba-baik. I-ini se-sebagai balas budiku a-atas pe-pertolongan Tuan pada waktu itu. Se-semoga Tuan ba-bahagia dan hu-hubungan Tuan dengan semuanya ke-kembali membaik. Na-naya sayang, Tu-tuan. Na-naya cinta Tuan, ja-jaga diri Tuan ba-baik-baik. Na-naya senang ke-kenal sa-sama Tu-tu ... An."
Tangan Naya terlepas dari pipi Thoms, membuat semua orang langsung khawatir atas kondisi Naya yang sangat kritis.
"Ti-tidak! Ka-kau tidak boleh meninggalkanku, pokoknya tidak boleh! Cepatlah bangun, Naya. Bangun hiks ...."
Thoms memeluk Naya sambil menangis karena merasa menyesal akibat terhasut oleh bodyguard, jelas-jelas Thoms masih belum tahu alasannya kuat mengapa orang itu menembak salah satu dari mereka tanpa perintah darinya.
"Tidak ada waktu lagi, Kak. Cepat bawa Kak Naya ke rumah sakit, sebelum terlambat!" teriak Moana. Thoms segera menggendong Naya, kemudian mereka semua berlari mengikuti Thoms dari arah belakang.
Kurang lebih ada 4 mobil saling beriringan untuk membawa Naya ke rumah sakit terdekat demi memberikan pertolongan pertama. Keluarga Ernest juga ikut serta mengantarkan Naya menggunakan mobil yang beriringan tepat dibelakang mobil Thoms.
Sampai detik ini belum ada yang menyadari bagaimana Ernest bisa selincah itu untuk berjalan, bahkan berlari. Sampai-sampai Ernest yang membawa mobil tanpa menggunakan supir bersama keluarganya.
Baru juga beberapa saat lalu Naya bolak-balik langganan masuk rumah sakit, sekarang juga dia kembali mengunjungi rumah sakit dalam keadaan kritis. Mereka hanya berharap dan berdoa supaya Naya tetap dalam keadaan baik-baik saja.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Semua orang berkumpul di depan ruangan operasi untuk menunggu Naya yang sedang ditangani oleh dokter spesialis. Melihat Thoms seperti setrikaan, memnuat Moana merasa kasihan. Dia memberikan Barra kepada Ernest, kemudian Moana berjalan mendekati Thoms.
"Ka-kakak ... Ma-maafkan aku, i-ini se-semua pasti salahku. Aku---"
Thoms langsung memeluk Moana dengan erat dan air matanya seketika tumpah begitu deras di dalam dekapan adik kandungnya.
__ADS_1
Ernest memangku Barra sambil merangkul Justin yang masih trauma akan suara tembakan senjata, serta Thoms yang dianggap sebagai orang jahat persis seperti di dalam film yang Justin suka lihat.
Beberapa kali Justin meminta Ernest untuk meminta Moana agar tidak mendekati Thoms, tetapi Ernest mencoba memberikan pengertian kepada putranya itu. Terlihat jelas, bahwa mental Justin sedikit terganggu akibat kejadian beberapa saat lalu.
Tidak berhenti di situ saja, Elice juga sedang menunggu suaminya yang di bawa ke ruangan UGD untuk memeriksakan kondisi Sakha. Kini, hanya ada Moana yang harus berusaha keras memberikan suport pada sang kakak dan Ernest harus tetap berjuang melindungi anak-anaknya agar tidak merasa tertekan ketika ada di dekat Thoms.
"Maafkan Kakak, Dek. Kakak sudah benar-benar dibutakan akan dendam di masa lalu, Kakak hampir saja melukai ponakan Kakak sendiri. Bahkan, Kakak telah menyakiti hatimu, suamimu, juga Justin yang pasti sangat membenci Kakak. Maafkan, Kakak maaf hiks ...."
"Tenanglah, Kak. Aku bisa mengerti kondisi Kakak, sekarang kita fokus pada kondisi Kak Naya, ya. Semua masalah itu kita sampingkan dulu, terpenting Kak Naya bisa selamat itu saja. Kakak harus kuat, Kakak laki-laki dan Kakak tidak boleh terus menerus berlarut-larut di dalam penyesalan, dendam, dan sebagainya. Oke?"
Thoms tidak bisa berkata apa-apa, pria itu tetap menangis di dalam pelukan Moana tanpa memperdulikan tentang harga dirinya kembali. Rasanya hati Thoms sudah sangat hancur melihat orang yang dia sayangi, telah berada kembali di ujung tanduk.
Selepas Thoms kembali tenang, Moana meminta Thoms untuk duduk di dekat Justin. Akan tetapi, Justin terlihat begitu takut ketika paman yang sering dipanggil papa itu sudah ada di sampingnya.
Moana meminta salah satu bodyguard segera membelikan air minum untuk mereka semua supaya bisa lebih tenang. Setelah itu, Moana berjongkok di hadapan mereka semua tepatnya di depan Justin.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1