
Kurang lebih 1 jam yang lalu, Ernest baru saja ingin memakan sarapan bersam keluarga, tetapi tidak jadi. Dikarenakan dia harus memanggil serta mengecek sang kakak iparnya yang masih berada di dalam kamar untuk segera sarapan bersama mereka semua di ruang makan.
Akan tetapi, ketika Ernest mengetuk pintu berulang kali sambil memanggil kakak iparnya yang sama sekali tidak ada jawaban sedikit pun. Sehingga, Ernest memutuskan untuk mencoba memegang gagang pintu dan membukanya.
"E,ehh ... Loh, tu-tumben pintunya gak dikunci. Setahuku, kakak orangnya sangat privat. Gak ada yabg boleh masuk kamar tanpa seizin darinya, terus sekarang kenapa gak dikunci? Apa kakak lupa menguncinya, atau kakak gak enak karena ini rumahku? Hem, dahlah daripada aku main tebak-tebakan mending aku coba lihat dulu aja. Semoga aja kakak masih tidur biar aku gak kena omel main masuk kamar tanpa permisi."
Begitulah pikir Ernest ketika merasa sedikit bingung dan curiga dengan apa yang sang kakak ipar lakukan. Meskipun Ernest tidak begitu mengenal Thoms, tetap saja dia sangat paham dengan sifat sang kakak ipar yang lebih suka menyendiri serta menjaga privasinya.
Perlahan kaki Ernest melangkah memasuki kamar dengan penuh keraguan. Dia takut sang kakak ipar mengetahuinya, tetapi bersamaan dengan pintu terbuka pria itu tidak menemukan Thoms tertidur di atas bangkar.
"Lah, itu Kakak gak ada di kasur. Berarti dia udah bangun, dong?" ucap Ernest yang sudah masuk dan berjalan mendekati kasur. Matanya langsung beredar keseluruh ruangan untuk mencari ke mana perginya sang kakak ipar.
Ketika telinga Ernest mendengar suara gemericik air, itu berarti Thoms sedang berada di kamar mandi membuat Ernest merasa tenang. Selepas itu dia melangkahkan kakinya mendekati pintu dan berusaha untuk mengetuk untuk memberitahu kepadanya bahwa semua orang sudah menunggu di ruang makan.
"Kak, Kakak lagi mandi atau lagi ngapain?" tanya Ernest, tidak mendapatkan jawaban apa pun darinya. Akan tetapi, dia tidak pantang menyerah, kembali mengetuk pintu dan berbicara berulang kali untuk memastikan jika Thoms mendengar apa yang dikatakannya.
"Kakak mandi, ya? Ya, udah tadu Ayah nyuruh aku buat bangunin Kakak. Kirain Kakak masih tidur, tahunya udah bangun. Kalau gitu setelah Kakak selesai mandi, langsung ke ruang makan aja ya, semua udah nunggu di sana. Apa kakak dengar apa yang aku katakan?"
Ernest terus mengetuk pintu sambil berbicara dengan nada yang sangat tinggi, supaya suaranya sampai terdengar sampai ke dalam kamar mandi. Apalagi ruang kamar mandi kedap suara, jadi jika ada yang mengatakan sesuatu dari luar tidak terdengar sama sekali dari dalam kalau tidak sambil mengetuk pintunya sebagai simbol bila ada orang di luar.
"Apa Kakak dengar apa yang aku katakan? Kak ... Kak---"
__ADS_1
Sebelum apa yang ingin Ernest katakan selesai, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lantaran tidak ditutup dengan rapat. Sehingga, getaran ketika dia mengetuk membuat pintu perlahan terbuka sendiri bersamaan dengan itu wajah pria tersebut terkejut melihat pemandangan yang sangat mengejutkan.
"Ka-kakak ...."
Ernest memanggil sang kakak ipar dengan suara yang sangat kecil. Dia tidak menyangka, ternyata Thoms tidak sedang mandi melainkan pingsan di dalam kamar mandi dalam keadaan yang sangat menyedihkan.
Di mana Thoms duduk dalam keadaan pingsan menyandar di tembok dengan kedua kaki berselonjoran. Lebih parahnya, shower air terus menyala membasahi seluruh tubuh sampai wajah sang kakak ipar beserta bibirnya berubah menjadi pucat kebiru-biruan.
Ernest langsung berlari mematikan shower air, lalu mencari handuk atau apa pun yang ada di dalam kamar mandi untung mengelap wajah serta mengeringkan rambut. Setelah itu, dia selempangkan kain putih ke tubuh Thoms untuk menutupi leher serta dada.
Tanpa berpikir panjang, Ernest berlari ke luar kamar sang kakak ipar untuk memberitahu semua orang supaya dapat meminta pertolongan untuk membantunya mengangkat Thoms dan memindahkan ke kasur.
Akan tetapi, saking paniknya. Thoms hanya dapat memberitahu mereka kalau sang kakak ipar pingsan di kamar mandi dalam keadaan basah kuyup. Begitu mendengar kepanikan Ernest mereka langsung melihat keadaannya dan dibantu oleh kedua bodyguard yang dipanggil oleh Elice.
Sang dokter hanya menganggukan kepala pertanda sudah memahami semua cerita yang Ernest sampaikan. Awalnya keluarga juga tidak tahu, sekarsng menjadi tahu. Entah apa yang membuat Thoms seperti ini sampai-sampai wajah Naya berubah menjadi sangat sedih, juga bingung.
Ada apa sama kamu, Sayang? Kenapa semua ini bisa terjadi, aku tahu kamu loh, sebanyak apa pun masalahmu. Kamu tidak akan pernah menyakiti dirimu sendiri. Terus, kenapa sekarang kamu begini? Sebelumnya kamu baik-baik aja loh, hubungan kamu dengan Tuan Sakha pun telah membaik. Kita di sini juga sudah dianggap sebagai anak mereka, lalu apa lagi, Sayang. Apa? Astaga ... Sifatmu yang begini membuatku khawatir, sumpah. Kalau ada apa-apa bicaralah padaku, jangan seperti ini. Aku sakit melihatmu begini, Sayang. Sakit banget.
Hari Naya berbicara dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Melihat ini, Justin semakin merasa bersalah terhadap sang paman atas apa yang sudah dilakukan semalam. Anak kecil itu ingin sekali berteriak apabila semua yang terjadi sama Thoms adalah karena dirinya. Akan tetapi, dia masih takut melihat wajah bodyguard yang ada di dekat mereka semua dalam keadaan begitu menyeramkan.
Maafkan Justin, Tante, Papa. Ini semua pasti salah Justin, Papa pasti sakit hati karena ucaoan Justin semalam. Sekali lagi maafin Justin kalo sekarang Justin sudah menyakiti hati Tante dn membuat Tante menangis seperti ini. Maaf ya, Tante.
__ADS_1
Tangan Justin terarah untuk mengusap air mata Naya membuatnya tersenyum, lalu memeluk anak kecil itu sekilas. Justin hanya mampu mengucapkan semuanya melalui hati, tanpa berani mengatakan apa-apa. Dikarenakan dia masih sangat takut atas kejadian waktu beberapa hari lalu yang melibatkan semua bodyguard turun tangan untuk melakukan tindak kejahatan bersama sang paman.
"Baiklah, saya mengerti. Kemungkinan dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan, pasien mengalami setres yang berlebihin sehingga membuat mentalnya sedikit terganggu. Pada akhirnya, dia sampai melakukan hal seperti ini. Cuma, gapapa. Nanti tolong belikan resep obat yang sudah saya tulis ini di apotik besar yang komplit."
Semua menganggukan kepala mendengarkan penjelasan dari dokter. Tangannya pun memberikan resep yang sudah ditulis untuk segera ditebus dan bisa diberikan setelah Thoms terbangun dari pingsannya.
"Bagaimana jika panasnya semakin tinggi atau tidak turun-turun, Dok? Langkah aoa yang harus kita ambil?" tanya Sakha, mewakilkan semuanya
"Jika itu terjadi, dalam waktu 3 hari panas serta depresinya masih terus berlanjut, seger bawa pasien ke rumah sakit supaya kami bisa menanganinya lebih lanjut. Untuk sekarang kita coba berikan obat ini dulu, selebihnya kita pantau dalam beberapa hari ke depan. Semoga saja kondisi pasien sudah jauh lebih membaik dan mendingan supaya nanti tidak sampai di bawa ke rumah sakit," ucap dokter tersenyum kecil menatap mereka semua secara bergantian.
"Baiklah, kami ikuti apa yang dokter sampaikan. Untuk itu saya ucapkan terima kasih," jawab Sakha diangguki dokter.
"Sama-sama, Tuan. Kalu begitu saya pmit, permisi." Dokter tersenyum memberikan sedikit penghornatan kepada mereka, lalu berjalan pergi meninggalkan kamar Thoms ditemani oleh Ernest yang mengantar ke depan.
Sakha meminta kedua bodyguard untuk segera menebus obat yang sudah dokter resepkan ini, sedangkan Elice akan membuatkan bubur atau soup hangat yang nanti Thoms makan setelah bangun dari pingsannya.
Kemudian, semua orang kembali ke luar kamar dan meninggalkan Naya di kamar untuk menjaga Thoms. Tak lupa, Elice akan membawakan makan untuk Naya karena tadi tidak sempat menghabiskannya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...