Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Thoms Meminta Maaf


__ADS_3

"Saya paham, Tuan. Kesalahan saya ini tidak bisa dibenarkan, tetapi saya bisa pastikan bahwa, semua yang saya katakan ini adalah bukti nyata. Jika Tuan tidak percaya saya ada dokumentasi berupa video yang ada di dalam flashdisk. Jika Tuan ingin melihatnya, Ernest akan meutarkan video tersebut di mana semua video itu bersangkutan dengan otopsi, penjelasan dokter, dan pemakaman terakhir orang tua Tuan dengan layak."


"Berikan video itu, Nest. Tuan Thoms harus melihat dengan jelas kalau semua ini bukan rekayasa, pemalsuan data, dan sebagainya. Semua sudah saya prediksi sebaik mungkin karena pekerjaan mafia mudah sekali memalsukan dokumen, data, atau lainnya hanya menggunakan otak licik. Namun, kali ini tidak. Saya gunakan kekuasaan yang dimiliki dengan baik demi mengancam mereka semua agar menunjukkan semua dokumentasi yang privasi itu. Ingatlah, pada masa itu kami seorang mafia, apa pun bisa kami lakukan tanpa harus melewati prosedur!"


Apa yang dibicarakan oleh Sakha memang benar. Jangankan dia, Thoms sendiri saja menggunakan cara licik apa pun demi menemukan fakta kebenaran supaya kelak tidak akan menjadi bumerang pada dirinya sendiri.


Segala proses yang dilakukan kurang lebih oleh 3 dokter terekam jelas di dalam laptop Ernest. Serangkaian pembuktian serta percakapan mereka pada masa itu tidak ada yang direkayasa, semua murni asli.


Thoma tidak nyangka, hampir saja dia melakukan hal buruk kepada keluarga Ernest beserta keturunan yang juga mengalir da*rah dagingnya. Melihat kondisi kedua orang tua yang sangat menyedihkan membuat hati Thoms teriris lebih dalam. Penyesalan kali ini berhasil meluluhkan kerasnya batu di dalam hati pria itu.


Akan tetapi, ketika melihat proses pemakaman kedua orang tua yang dilakukan sembunyi-sembunyi berhasil menarik perhatian pria kejam itu untuk melirik Sakha dengan tatapan penuh arti.


Mungkin apa yang Thoms lihat itu, adalah langkah awal untuk Sakha memulai kehidupan baru dan melepaskan semua kejahatan dengan mengubur dalam-dalam bersama jasad kedua orang tua Thoms dengan layak di dalam satu peti, dan satu lubang kubur.


Entahlah, seketika pikiran Thoms langsung hilang begitu saja. Dia tidak tahu harus berbuat apa, dikarenakan tidak ada kata-kata yang mampu terucap setelah semua bukti itu sudah dilihat bersama keasliannya.


Saking pusingnya, tidak tahu harus melakukan apa. Thoms hanya melihat ke bawah dalam keadaan frustrasi menjambak rambut menggunakan kedua tangannya dengan keras. Terlihat dari otot-otot yang mulai keluar menampakkan diri.


Melihat kondisi Thoms sudah mulai tidak baik-baik saja, Sakha memberikan kode kepada Ernest supaya merangkulnya dan memberikan sang kakak ipar ketenangan, pengertian, juga semangat.

__ADS_1


Ernest menganggukan kepala, lalu berpindah tempat duduk ke sebelah Thoms sambil merangkul seperti apa yang diminta sang daddy. Elice dan Naya cuma menyimak karena ini bukan urusan mereka para wanita, setidaknya emosi Thoms tidak sampai lepas kendali seperti sebelumnya.


"Kak, tenangkan dirimu dulu." Ernest mengusap punggung kakak iparnya, lalu menoleh ke arah salah satu bodyguard. "Tolong ambilkan minum itu!"


Dia mengangguk dan segera memberikan air yang ada di gelas dekat Naya, lalu memberikan pada Tuannya. Perlahan Thoms menelan habis air putih tersebut supaya meredakan gejolak emosi yang masih tak menentu. Sungguh, pria itu benar-benar tidak tahu harus bagaimana mengambil sikap untuk mengakui kesalahan pada keluarga Ernest.


"Kakak tenang aja, kami semua sudah maafkan Kakak. Setidaknya Kakak sudah melihat bukti-bukti yang ada, jika Kakak tidak percaya apa Kakak masih ingat bentuk senjata yang Daddy pegang? Kalau ingat, Kakak bisa mengecek di gudang rumah kami."


"Kakak tidak perlu merasa bersalah, kami paham apa yang Kakak rasakan. Mungkin sekarang Kakak masih bingung atas semua bukti nyata yang Daddy berikan. Tidak perlu ambil pusing, Kakak bisa membaca surat itu berulang kali sampai Kakak bisa mengambil keputusan. Apabila ada bukti yang Kakak inginkan katakan saja, selagi kami mampu maka kami akan buktikan. Namun, aku rasa semua bukti yang Daddy berikan sudah cukup membuktikan. Jadi, seharusnya Kakak hanya menentukan langkah apa yang akan kita ambil, dan solusi untuk semuanya seperti apa?"


Thoms melirik Ernest dengan tatapan yang sangat kosong. Satu sisi pria itu merasa malu atas perbuatannya yang selama ini salah dalam menaruh kebencin terhadap keluarga adik iparnya ini. Namun, di sisi lainnya Thoms juga bingung apakah kata-kata apa yang pantas dia ucapkan untuk meminta pengampunan dan permohonan maaf.


Akan tetapi, tidak. Thoms mencium kaki Sakha spontan membuat semua orang refleks terdiam mematung dengan kedua mata membola besar. Sakha memundurkan kursi rodanya agar Thoms tidak bersikap seolah-olah Sakha adalah orang yang paling mulia.


"Stop, Tuan. Stop! Jangan lakukan itu lagi, saya mohon bangkitlah dan duduk di kursimu. Kita bicarakan dalam keadaan tenang, tidak boleh adegan ini kembali terjadi. Aku bukan orang suci, Tuan. Aku pendosa sama sepertimu, jadi tidak seharusnya Tuan melakukan ini pada saya. Ayo, Tuan. Bangkitlah!"


Sakha mencoba membantu membangunkan Thoms, tetapi tidak kuat. Ernest segera mendekat lalu menolong sang kakak ipar, hanya saja pria itu tidak ingin berdiri karena ada sesuatu yang harus dia katakan padanya.


Sakha memberikan sinyal pada mereka, membuat Ernest dan bodyguard sedikit menjauh serta memantau apa yang akan Thoms lakukan kali ini.

__ADS_1


"Tuan, maafkan saya. Maaf! Saya tahu, apa yang sudah dilakukan kepada keluarga besar Tuan tidak pantas untuk dimaafkan, tetapi semua itu bukan keinginan saya. Siapa sih yang ingin membu*nuh bahkan melenyapkan keluarga yang bagian dari adiknya, pasti tidak ada Tuan. Saya seperti ini hanya karena dendam yang sudah ditanam sejak kecil akibat tidak terima atas perlakuan kalian kepada keluargaku. Sekali lagi maaf, Tuan, maaf ...."


"Saya paham, kok. Kata maaf saja tidak cukup untuk menebus dosa saya kepada keluarga kalian. Saya sudah membuat Tuan seperti ini dan saya hampir membu*nuh dserta menjatuhkan mental keponakan sendiri. Untuk itu, tidak ada yang pantas


Saya ucap selain permintaan maaf atas semua kesalahan yang sudah diperbuat. Jika maaf tidak cukup, kalian semua bisa menghukum saya. Itu jauh lebih baik, daripada harus menjalani kehidupan yang akan diselimuti oleh rasa bersalah. Apa pun hukuman akan saya terima, jika itu bisa membuat kalian memaafkan semua kesalahan saya!"


Thoms memohon dan berharap supaya mereka memberikan sedikit saja kata maaf meskipun, pria itu harus menghadapi hukuman yang kelak akan dia terima. Setidaknya, kata maaf dari mereka adalah satu langkah baik untuk Thoms menuju jalan yang baik.


Akan tetapi, tanpa Thoms meminta maaf mereka sudah memaafkan. Sakha meminta pria itu untuk mendekat ke arahnya, membuat dia memejamkan kedua mata ketika tangan Sakha melambung tinggi seperti ingin menamparnya. Hanya saja, mertua dari adiknya cuma memukul bahu Thoms sambil tersenyum dan memeluknya.


Di situ tumpahlah air mata Thoms akibat rasa bersalah terhadap keluarga mertua sang adik. Thoms tidak habis pikir kenapa Tuhan harus menakdirkan jalan seperti ini, seandainya pada wakti itu Thoms berhasil melenyapkan Barra. Kemungkinan kata maaf tidak akan cukup membuat mereka memaafkan, sebelum nyawa dibalas dengan nyawa. Untungnya, tidak sampai ada korban jiwa di dalam dendam Thoms terhadap Sakha atas kesalah pahaman di masa lalu.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2