Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Keadaan Keluarga Ernest


__ADS_3

Saat ini Naya sudah dipindahkan ke ruangan tersendiri. Sementara Ernest, berada di kamar Barra karena putra kecilnya harus melakukan perawatan kurang lebih 3 hari sampai kondisinya benar-benar pulih. Dikarenakan akibat trauma itu Barra mengalami demam cukup tinggi.


Untung saja Barra tidak sampai kejang-kejang, bahkan rewel. Akan tetapi, kejadian tadi siang telah berhasil mengganggu sikisnya. Sehingga Barra tidak bisa lepas dari pelukan Moana, sekali saja Moana menjauh maka Barra akan menangis tanpa berhenti.


Syukurnya, Justin hanya mengalami syok ringan dan tidak sampai trauma yang berkelanjutan. Mental Justin terbilang cukup kuat, sehingga hanya ada rasa takut yang dimiliki ketika melihat Thoms berada di dekatnya. Lebih dari itu, sikap Justin kembali normal seperti anak pada umumnya.


Maklum saja, Justin pernah ada di posisi itu. Apalagi pada kejadian tadi beberapa kali matanya sempat ditutup oleh Ernest ataupun bodyguard yang lain. Jadi, adegan yang cukup ekstream tidak terekam di dalam memori Justin.


Sementara Sakha harus melakukan perawatan intens di kamar khusus bareng dengan Barra. Ernest sengaja menyatukan kamar mereka agar semua bisa bergantian menjaga satu sama lain.


Keadaan Sakha saat ini sudah jauh lebih baik. Dia hanya mengalami luka memar yang ada diwajahnya, serta asam lambung naik akibat tendangan cukup keras dari Thoms. Kalau untuk penyakit jantungnya, semuanya masih aman. Meskipun, beberapa kali sempat kambuh untung tidak sampai menimbulkan penyakit yang bertambah parah.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Di dalam kamar Barra dan Sakha, semua orang baru menikmati makan malam. Hanya tinggal Justin dan Sakha yang harus disuapin.


"Bunda seneng lihat kamu bisa jalan lagi, Nest. Sehat-sehat ya, kalian semua. Jangan lagi membuat Bunda dan Ayah jantungan. Semoga ke depannya hubungan rumah tangga kalian baik-baik saja, aamin ...."


"Aamiin, makasih, Bun." Moana tersenyum, membereskan semua sisi makanan di meja.


"Ernest juga tidak akan menyakiti mereka lagi, Bun. Ernest sudah sangat menyesal, sekarang waktunya kita bahagia. Ernest ingin fokus membesarkan kedua anak Ernest ini sampai mereka sukses dan bisa membahagiakan orang tuanya." Ernest tersenyum, lalu memasukan perlahan nasi yang ada disendoknya ke dalam mulut Justin.


"Aamin ... Pertahankan prinsipmu ini, Nak. Ayah doakan semoga tidak ada lagi ujian besar untuk kalian di saat kalian saling percaya satu sama lain. Kamu harus bisa bertanggung jawab atas keluargamu, jangan kaya Ayah. Aya hanya bisa membut kalian kecewa," ucap Sakha disela-sela makannya.

__ADS_1


"Ayah gak boleh ngomong gitu, semua orang punya masa lalu sendiri. Terpenting kita harus bisa berdamai dengan semua itu, dan mulai membenahi masa depan. Moana yakin, Kakak pasti akan meaafkan Ayah seperti Moana. Cuma, Ayah harus sabar. Prosesnya mungkin sedikit lama, tetapi Moana percaya hubungan kita aka kembali membaik."


Moana tersenyum menatap semuanya, kemudian tangannya mengelus kepala Barra yang sedang bermain bersama Justin. Semua merasa kagum atas kebesaran hati Moana yang rela mengikhlaskan apa yang terjadi pada keluarganya.


Meskipun, Moana tida menyangka masa lalunya itu berhubungan dengan masa depannya. Cuma, ketika mendengar penjelasan dari sang mertua Moana juga tidak berhak menghakiminya seperti Thoms.


Moana hanya menunggu Sakha sehat, lalu memberikan bukti kuat untuk menunjukkan apabila yang Thoms katakan itu salah. Bukan Sakha orang yang pada saat itu membu*nuh salah satu dari orang tuanya, tetapi itu perbuatan anak buahnya.


Di saat mereka semua sedang merasa bahagia karena kesembuhan Ernest, wajah Moana sedikit murung. Semenjak dia menemani anak-anak sampai mendapatkan kamar, sama sekali Moana belum menyaksikan kondisi sang kakak. Wanita itu hanya tahu kabar dari Ernest yang setengah jam lalu baru mengunjungi ke kamar Sakha dan Barra.


Rasanya Moana ingin sekali melihat keadaan Naya yang sekarang sudah dipindahkan tepat di sebelah kamar, tetapi kembali lagi. Moana tidak ingin meninggalkan putra kecilnya yang masih terbangun karena kalau Moana tidak ada, sudah pasti Barra akan menangisinya dan membuat kamar menjadi berisik.


Namun, Ernest bisa melihat adanya rasa gelisah diwajah sang istri. Tanpa harus menanyakan apa yang terjadi, Ernest sudah paham kalau istrinya sedang memikirkan kondisi kakak kandungnya.


"Sayang, kamu ke kamar gadis itu aja lihat kondisi kakakmu sekarang. Anak-anak biar aku yang jaga, lagi pula ada Bunda juga. Ya, 'kan, Bun?" Ernest menatap Elice yang sedang menyuapini suaminya.


"Ya, benar itu, Naa. Kamu lihat dulu kakakmu, kasihan dia sendirian menjaga gadis itu. Bunda takut kakakmu setres karena merasa bersalah atas kejadian ini." Elice menoleh menatap menantunya sambil menyendokkan nasi ke dalam mulut sang suami.


"Tapi, Bun. Gimana sama Barra, apa nanti dia gak akan nangis kalau Moana pergi ke kamar sebelah sebentar?" tanya Moana, sesekali matanya melihat ke arah Barra yang sedang tiduran memainkan ponsel bersama Justin. Sang kakak selalu menamani adiknya sesekali membuka mulut untuk mengisi bensi dari tangan Ernest.


"Tenang aja, Justin bisa membujuknya. Ya, 'kan, Sayang?" tanya Elice tersenyum menatap Justin.


"Iya, Oma. Justin akan menjaga Barra. Mommy pergi saja gapapa, tapi jangan lama-lama. Justin takut---"

__ADS_1


"Ssstt ... Udah, gak boleh berpikir jelek tentang papamu. Ingatlah, Justin dlu pernah menyayangi Papa melebihi Justin menyayangi Daddy. Jadi, Daddy minta sama Justin. Dengarkan apa kata dokter, Justin harus bisa mengendalikan pikiran Justin agar nanti tidak akan terus menerus membuat Justin ketakutan. Memang Justin mau setiap hari dihantui oleh ketakutan, mau apa-apa susah. Enggak mau, 'kan?"


Justin menggeleng kepalanya dengan cepat, pertanda apa yang dikatakan sang daddy tidak ingin terjadi padanya. Justin ingin sekali kembali sehat seperti semula yang tidak takut pada Thoms, tetapi pasti membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ya, walupun, bukan fisik yang sakit, tetap saja semua kejadian itu telah membekas di dalam ingatan anak seusia Justin.


"Nah, maka dari itu. Justin harus bisa sehat, kasihan Mommy. Kalau Justin takut sama Kakaknya Mommy, pasti dia akan sedih. Sama seperti Justin yang menyayangi Barra dan tidak ingin adik Justin sendiri terluka. Daddy yakin, Justin bisa. Justin anak Daddy yang kuat, pintar dan baik. Jadi, tidak boleh menjadi orang jahat, oke?"


Justin menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Melihat suasana ini, hati Moana menjadi tentram. Sudah lama dia tidak memandang suasana seindah ini. Di mana anak dan daddy sudah kembali kompak, seperti keluarga bahagia lainnya.


Sakha tersenyum, begitu juga Elice. Meskipun, mereka habis mendapatkan ujian yang besar tetap saja mereka harus bersyukur. Dikarenakan ketika ujian besar itu tiba, dan membuat dunia mereka semua menjadi gelap gulita, bukan berarti tidak ada setitik cahaya yang datang sebagai penerang.


Buktinya, setelah hujan badai pergi perlahan pelangi akan muncul menampakan kecantikan warnanya. Sama seperti keadaan mereka saat ini. Sehabis datangnya musibah besar dari masa lalu Sakha, terdapat kebahagiaan dari keluarga kecil Ernest dan Moana, sehingga sedikit demi sedikit bisa menerangi kegelapan pada dunia Sakha.


Melihat adanya celah, pelan-pelan Moana berhalan mundur sesekali menatap Barra agar tidak melihatnya. Lalu, Moana keluar ruangan diangguki oleh Ernest dan Elice yang mengetahui itu semua. Sedangkan Justin, terus mencoba menarik perhatian Barra agar tetap fokus pada permainannya.


Moana begitu lega, ketika bisa keluar kamar tanpa mendengar suara tangisan Barra. Akan tetapi, Moana tidak memiliki waktu waktu sebelum Barra menyadari kalau mommynya tidak ada di sebelahnya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2