
Di saat Ernest sedang kebingungan mencari cara untuk meminta maaf kepada kedua orang tuanya, ternyata ada yang sedang di mabuk asmara. Siapa lagi jika bukan Felix yang sedang menikmati waktu bersama tunangannya.
Di suatu tempat yang cukup tertutup, Felix sedang menemani tunangannya untuk melakukan sesi pemotretan model majalah.
Kecantikan dan juga keanggunan yang terpancar dari tunangan Felix, berhasil membuatnya sedikit takut. Sering kali Felix merasa cemburu padanya, walau dia sangat tahu bagaimana jadwal tunangannya tersebut selama 24 jam.
"Hai, Sayang. Maaf ya lama, tadi aku harus 2 kali ganti kostum. Ini baru istirahat, kamu bosen ya nungguin aku?"
Seorang wanita cantik memeluk Felix dari arah belakang dan menaruh kepalanya di pundak sebelah kanan. Felix lagi duduk menyandar di kursi sambil bersantai, langsung menoleh ke arahnya.
"Santai, Sayang. Aku tidak bosan kok, lagi pula kenapa aku harus bosan, hem?" tanya Felix. Tangannya memegang tangan tunangannya dan sedikit menariknya untuk membawa ke atas pangkuannya.
Wanita itu perlahan duduk sambil menundukkan kepalanya, sesekali tangannya mengukir gambar abstrak di dada Felix.
Pipinya mulai mengembung, menandakan bila dia merasa tidak tega telah membuat kekasihnya menunggu cukup lama.
"Ya, takutnya. Apa lagi biasanya 'kan kamu selalu sibuk wara-wiri kesana-kemari bersama Tuanmu. Dan, sekarang? Di saat kamu libur malah harus duduk manis menunggu aku selesai pemotretan. Ma-maaf!" ucapnya, sangat lirih.
"Enza sayang, dengerin aku ya. Harusnya aku yang minta maaf, karena aku tidak bisa selalu menemanimu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sampai-sampai aku selalu melupakan waktu berdua denganmu. Maafin aku, ya?"
Felix tersenyum sambil mengusap pipi Enza lembut penuh cinta. Begitu pun Enza, dia melirik manja dan tersenyum menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak masalah, asalkan nanti malam kita dinner gimana?" ucap Enza bersemangat.
"Boleh, kamu mau dinner dimana?" tanya Felix, membenarkan anakan rambut Enza yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Hem, dimana ya? Di Restoran bintang 5, boleh?" jawab Enza, tersenyum lebar.
"Boleh, dong. Apa sih yang tidak boleh buat calon istriku yang cantik ini."
Felix mencubit kecil hidung Enza hingga membuatnya memekik kesal. Setelah itu mereka tertawa bersama dalam keadaan Enza memeluk Felix tepat di atas pangkuaannya.
Fiorenza Ardith Cordelio merupakan tunangan Felix berusia 24 tahun. Enza adalah seorang wanita cantik, yang bekerja sebagai model majalah dengan bentuk tubuh seperti gitar Spanyol.
Hubungan Felix dengan Enza terbilang sangat romantis dan memang sedikit tertutup di kalangan wartawan. Semua itu, karena Felix dan Enza memang tidak ingin mengumbar hubungan sebelum mereka resmi menikah.
Felix dan Enza sudah sangat lama menjalani hubungan kurang lebih 5 tahun. Felix mengenal Enza saat tidak sengaja bertemu di jalan, ketika Enza baru sedang mencari pekerjaan.
Lama kelamaan kedekatan mereka mulai terjalin, saat Felix telah menemukan kenyaman dengannya. Wanita baik, periang dan juga sangat cantik adalah wanita pertama yang berhasil mendapatkan cinta Felix.
Sampai akhirnya, Felix memberikan jalan kepada Enza untuk membantunya meraih impiannya sebagai modeling. Walau terbilang levelnya masih di bawah, tetapi Enza telah berhasil menarik perhatian para produser untuk menjadikanya ambasador ataupun model majalah.
__ADS_1
Dari situlah ke sibukan keduanya mulai terlihat, dimana Felix sibuk dengan pekerjaannya yang semakin menumpuk. Belum lagi mengurus Moana yang selalu mengidam aneh-aneh, sedangkan Enza di sibukan oleh pemotretan dan segala jadwal yang cukup padat.
Untungnya hati ini dia sedikit renggang, jadi setelah pemotretan berakhir. Mereka bisa menghabiskan waktu bersama Felix sampai matahari kembali terbit.
Enza dan Felix sedang asyik menikmati makanannya, tetapi Enza harus kembali melakukan pemotretan yang seperti di kejar oleh waktu.
Seseorang memanggil Enza dengan suara yang cukup keras. Apa lagi semua sudah di persiapkan matang-matang, sehingga Enza hanya bisa menurutinya meski dia sendiri terkadang merasa cukup melelahkan.
"Sayang, aku lanjut lagi ya. Kamu makan habisin, aku sudah kenyang. Nanti kita lanjut lagi, bye!"
Enza mencium pipi Felix, lalu dia minum dan pergi meninggalkan Felix yang masih dalam keadaan mulut terisi.
"Sebenarnya aku tidak tega melihat Enza seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah impiannya. Jadi, aku harus bisa mensuport dia sampai kapanpun. Selagi dia bisa menjaga diri dan juga kesehatannya, itu tidak masalah untukku."
Felix berbicara di dalam hatinya sambil melihat kepergian Enza. Lalu, kembali melanjutkan makan siangnya yang tinggal sedikit lagi sambil menunggu tunangannya selesai dengan semua pekerjaannya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung