
Malam hari, pukul 8 semua sudah siap di taman samping rumah. Semua sudah di siapkan semuanya dan mereka hanya tinggal memakainya saja. Terdapat beberapa meja yang tersusun rapi untuk menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan di bakar.
Semua bumbu bakar di racik sendiru oleh Elice dan di bantu juga sama Moana, sementara Ernest serta Sakha bagian membakarnya. Berbeda sama Justin, dia hanya sebagai suporter acara yang selalu membuat kerusuhan dan berhasil membuat semua merasa kesal ketika lagi sibuk langsung di ganggu.
"Edi, Opa, ayo ce-ce-ce'angat yeyy ... Angan upa ocis Ustin di akal yang enyak angan osong!"
"Omi, Oma angan upa unya Ustin angan edes-edes anti muyut Ustin tebakal aya ocis!"
Teriakan suara Justin hanya bisa memecahkan telinga serta konsentrasi mereka semua. Sayangnya, mereka tidak bisa marah dengan tingkah lucu anak atau pun cucunya sendiri.
"Siap, Tuanku!"
"Baiklah, Pangeran kecilku yang tampan!!"
"Dasar cucu aneh, bisa-bisanya dia menyuruhku!"
Semua mendumel sendiri saat sang mandor sudah menyuarakan pendapatnya. Apa lagi, saat pertama kali osisnya selesai di bakar. Justin sudah lebih dulu memakannya sampai-sampai dua tangannya di penuh oleh sosis berukuran jumbo.
Namun, tidak hanya ada sosis saja. Akan tetapi, masih banyak yang mereka bakar seperti baso, daging, naget ataupun yang lainnya. Semua itu masih dalam proses persiapan. Baru hanya beberapa sosis dan baso saja yang sudah di bakar, tetapi sebagian sudah masuk ke dalam perut Justin.
__ADS_1
Tidak lupa, semua ini tidak hanya berlaku untuk mereka semua. Melainkan penjaga rumah dan beberapa karyawan lainnya pun ikut kebagian. Semua itu, karena keluarga Ernest merupakan keluarga yang cukup royal terhadap orang-orang yang bekerja dengannya.
Justin duduk di atas kain putih yang sangat panjang dan juga lebar sebagai tempat mereka semua berkumpul. Suasana itu terlihat seperti mereka sedang bertamasya ataupun berpiknik, apa lagi cuacanya sangatlah mendukung. Tidak gerah ataupun dingin, tepi sejuk.
Di saat semuanya sedang sibuk, tiba-tiba di kejutkan oleh ke datangan seseorang yaitu Felix yang membawa calon istrinya. Untuk pertama kali, Felix mengenalkannya kepada keluarga Ernest yang sudah di anggap sebagai keluarganya sendiri.
"Hai, semuanya. Aku sudah menempati janjiku untuk mengenalkannya kepada kalian semua," ucap Felix, membuat semuanya langsung menoleh ke arahnya.
"Huaa, Aman Eli!" pekik Justin, berlari sambil tangan kanannya masih memegangi sosis bakarnya.
"Hyakk ... Kau itu apa-apaan sih, hahh! Gaunku ini harganya mahal, tapi seenak jidat kau mengotorinya dasar bocil tidak tahu diri!"
Semua orang merasa terkejut, tidak percaya melihat sikap Enza yang sebagai model terlihat begitu angkuh. Hanya terkena sedikit noda, Enza sudah kelepasan untuk memarahi Justin.
Felix juga yang ingin menggendong Justin pun merasa benar-benar syok, baru kali ini dia mendengar penuturan kata yang sangat jauh dari sifat Enza.
Ernest yang tidak suka mendengar semua itu dari mulut Enza, langsung mengambil Justin dan menggndongnya. Tidak lupa menatap wajah Enza cukup mendalam.
"Harga baju anakku jauh lebih berkali-kali lipat mahalnya, dari pada gaun yang murah seperti itu! Kau bisa mengeceknya sendiri, dan tidak perlu khawatir. Aku akan mengagantinya 10 kali lipat. Asalkan kau berlutut di hadapan anakku sambil meminta maaf!"
__ADS_1
"Erenst, sudah cukup! Hentikan semua ini, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Dia itu tamu kita, apa lagi Felix sudah kita anggap sebagai keluarga. Jadi, jangan hanya karena masalah sepele persahabatan kalian menjadi pecah!"
Moana berteriak keras, dan sedikit menakutkan Justin. Dia hanya bisa mengumpet di dada Ernest sambil meneruskan makannya. Justin tidak mengerti kenapa semua orang malah menjadi marah, hanya karena dia memeluk Felix.
Kemudian, Justin teringat dengan perkataan Moana waktu itu. Sehingga Justin menganggap bila Ernest sedang cemburu padanya, begitu juga Moana. Tanpa tahu, jika semua itu karena Justin tanpa di sengaja sudah mengotori gaun kesayangan Enza yang harganya terbilang mahal.
Sementara Felix masih terdiam melihat Enza yang terdiam, wajahnya begitu syok saat Ernest mengatakan kalau baju Justin yang terbilang kecil itu bisa jauh lebih mahal darinya. Sampai-sampai Enza penasaran sama sosok Ernest yang sangat sombong ini.
"Sudah-sudah jangan pada ribut, kasihan Justin. Dia pasti ketakutan menyaksikan ke ributan ini. Mendingan kalian duduk dulu ya, sebentar lagi semuanya sudah siap kok. Ohya, perkenalkan aku Elice Bunda dari Ernest. Lalu ini suami saya, Sakha. Dan ini menantu saya, Moana istri dari Ernest. Kemudian si kecil lucu itu cucu saya, Justin.
Elice mencoba mencairkan suasana yang cukup memanas, walaupun hatinya sedikit merasa kesal dan tidak suka. Setidaknya dia mencoba tetap tenang, menghadapi situasi ini.
Enza segera meminta maaf kepada semuanya, ketika Felix menyuruhnya. Akan tetapi, Ernest malah pergi begitu saja membawa anaknya untuk menemani meneruskan aktifitasnya.
Semua pun tersenyum kikuk, dan Moana mengantarkan Enza untuk ke toilet agar bisa membersihkan sedikit pakaian yang terkena noda.
Suasana yang tadinya sejuk, berubah menjadi canggung. Dimana Felix langsung mendekati Ernest dan meminta maaf sebesar-besarnya atas sikap tidak sopan calon istrinya. Lalu memberikan alibi-alibi yang tidak masuk akal bagi Ernets, jika memang Enza refleks terkejut reaksinya tidak akan seperti itu.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung