
Usia kandungan Moana sudah mulai memasuki 6 bulan. Rasa ngidam yang biasa selalu muncul secara tiba-tiba, sekarang telah berkurang bahkan hampir jarang sekali. Sehingga jam tidur Ernest sudah mulai membaik, tidak seperti sebelumnya.
Di balik jam tidur Ernest yang sudah membaik, ternyata hati yang malah semakin memanas ketika melihat kedekatan Moana dengan Felix.
Tidak hanya itu, karyawan kantor pun semuanya mulai memperbincangkan tentang kedekatan antara Moana dan juga Felix. Karena, mereka tahu setiap kali Moana menginginkan sesuatu pasti Felix selalu ada. Berbeda dengan Ernest yang sibuk dengan bisnisnya tanpa memperhatikan istri dan juga anaknya.
Kuping Ernest semakin memanas, begitu pula hatinya. Sampai akhirnya Ernest yang sudah mulai jengah langsung memanggil Felix serta Moana untuk masuk ke ruangannya secara bersama-sama.
Suara pintu terbuka bersamaan masuknya Moana dan juga Felix dalam keadaan bingung. Mereka sebenarnya tahu, apa yang menjadi perbincangan di dalam kantor.
Hanya saja, mereka masa bodo. Bagi mereka, apa yang mereka katakan itu memang sebagian ada yang benar dan ada juga yang salah.
Ernest duduk tepat di kursi kebesarannya dalam keadaan sigap dan juga tegak. Tatapannya benar-benar tajam, ketika melihat kehadiran merwka berdua duduk di hadapannya.
"Maaf, Tuan. Ada apa memanggil kami? Apakah kami membuat kesalahan?" tanya Felix, wajahnya sangat serius menatap Ernest.
Sementara Moana dia hanya terdiam menatap suaminya sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Mulai sekarang, tugasmu untuk mengawasi istri saya telah selesai! Jangan pernah lagi mencoba untuk mendekatinya, paham?"
Perkataan Ernest langsung membuat Moana dan Felix saling menatap satu sama lain. Mereka heran, kenapa Ernest bisa mengatakan semua itu. Padahal dia sendiri yang sudah menyuruh Felix untuk mengawasi Moana sampai dia lahiran. Lantas, kenapa tiba-tiba menjadi berubah? Itulah yang saat ini membuat mereka bingung.
__ADS_1
"Bu-bukannya Tuan sendiri yang bilang, kalau saya harus menanggung semua keinginan Moana sampai dia lahiran?" tanya Felix.
"Saat ini usia kandungannya sudah jalan 6 bulan, itu artinya rasa ngidam segala macem sudah tidak separah awal. Jadi, kau tidak perlu repot-repot mengawasinya. Apa kalian belagak tidak tahu, kalau sudah ada banyak gosip beredar tentang kedekatan kalian. Sehingga itu sangat mengganggu telinga serta reportase saya sebagai seorang suami. Jadi, mulai sekarang hentikan semua itu dan fokuslah dengan kerjaan yang lain!"
"Dan untukmu, Moana. Saya sebagai suami sudah tidak mengizinkan kamu kerja di sini, karena saya tidak sudi di bilang suami tidak pengertian dan sebagainya. Jadi, untuk besok dan seterusnya fokuslah pada kehamilanmu itu dan jadilah Ibu yang baik untuk anak saya. Ngerti!"
Perkataan Ernest itu berhasil membuat Moana terkejut, dia tidak percaya jika hari ini adalah hari terakhir dia bekerja di Perusahan suaminya sendiri.
Moana yang merasa tidak terima langsung saja membantah semua itu, hingga berhasil membuat Ernest pun terkejut melihat aksi istrinya.
"Apa-apaan ini, Tuan! Salah saya apa? Kenapa saya main di pecat seperti ini?"
"Tuan harusnya tahu, hidup saya hanya tergantung dengan pekerjan ini. Bagaimana saya bisa mendapatkan penghasilan, kalau Tuan memberhentikan saya secara tidak hormat begini!"
"Asal Tuan tahu ya, meskipun saya dalam kedaan hamil, mual, dan sebagainya. Saya tetap semangat buat kerja, walau badan rasanya tidak karuan. Semua itu karena hidup saya tergantung dengan pekerjaan ini. Jadi, Tuan tidak bisa semena-mena kepada karyawan!"
Nada bicara Moana semakin meninggi, bahkan dia pun berdiri sambil menggebrak meja. Dimana Felix hanya bisa menahan serta meminta Moana untuk kembali duduk, sebab menyelesaikan masalah tidak baik bila dalam keadaan di penuhi emosi.
"Udah, ngocehnya? Di sini yang jadi suami siapa? Saya atau kamu! Ingat, semua yang kamu lakukan atas izin suamimu. Jika suamimu sudah tidak mengizinkan, itu tandanya dia peduli dengan dirimu bahkan anak yang ada di dalam kandunganmu."
"Lihatlah perutmu itu, sudah mulai membesar bukan? Jadi, saya tidak mau mengambil resiko jika sesuatu terjadi pada anak saya."
__ADS_1
"Dan satu lagi, masalah penghasilan tidak perlu kamu khawatir. Suamimu ini orang kaya, dia bisa memberikanmu segepok uang setiap harinya asalkan kamu diam di tumah dan fokus untuk mengurus anak, bukan malah sibuk dengan kariermu yang nanti akan membuat anakmu kekurangan kasih sayang. Paham!"
Setelah mendengar penjelasan dari Ernest, Felix pun mulai membelanya dan mencoba menasihati Moana sedikit demi sedikit.
Memang tidak salah bila Ernest melarang Moana bekerja, karena memang tugas utama Moana saat ini ya sebagai seorang Ibu, bukan wanita karier yang berstatus single.
Pada akhirnya Moana pun menyetujuinya. Emosi Moana pun kian mereda, bersamaan dengan wajahnya yang pasrah untuk mengikuti apa yang suaminya katakan. Bukan semata-mata karena Moana takut, melainkan dia juga tidak tega bila harus membawa anaknya bekerja keras dari pagi sampai malam hampir setiap hari.
Felix tidak bisa apa-apa, satu sisi dia senang karena Ernest diam-diam sudah mulai menunjukkan perhtiannya. Walau di alihkan akibat adanya gosip miring tentang istri dan juga asistennya.
Namun, di sisi lain. Felix akan merasa sepi, bila tida ada Moana. Hanya Moana teman ngobrolnya saat dia sedang menghadapi sifat tunangannya yang sedikit menyebalkan ketika ngambek.
Tidak hanya itu, pasti tugasnya pun akan semakin berat sebelum mereka mendapatkan sekretaris pengganti Moana. Jadi, suka tidak suka Felix dan Moana berusaha menerima semuanya selagi itu memang yang terbaik buat mereka bertiga.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1