Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Pria Lumpuh


__ADS_3

Ernest yang melihat cara Justin memandang Barra dengan penuh senyuman membuatnya sedikit tersentuh. Terlihat sekali betapa tulisnya Justin memberikan semuanya pada Barra tanpa adanya rasa kesal.


Ernest benar-benar salut dengan cara didikan Moana, meskipun Justin berusia kurang lebih jalan 7 tahun, tapi sifatnya benar-benar sudah cukup dewasa dan mengerti cara mengapresiasikan bentuk kasih sayangnya.


Sungguh, Ernest begitu bahagia bisa kembali bertemu sama mereka semua dan bisa ada ditengah-tengahnya. Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan seperti apa yang Ernest dapatkan, maka dari itu Ernest tidak akan menyia-nyiakannya. Dia akan bersikap sebaik mungkin untuk kedua anaknya agar tidak membuat mereka merasa iri.


"Hem, enak ya, Dek. Mau lagi, iya? Uhh, enggak boleh, ya. Ini udah banyak, tuh, lihat perut Barra gede ya. Itu karena Barra sudah makan eskrim terlalu banyak, jadi perutnya sedikit mekar deh hehe ... Oh, ya, jangan bilang mommy ya. Kalau mommy tahu, pasti dia akan marahin Barra. Aku tidak mau, daddy juga jangan bilang mommy, ya. Janji?


Justin menatap Ernest penuh permohonan agar tidak sampai membocorkan semua ini. Ernest menganggukkan kepalanya, lalu menyatukan jari kelingkingnya sama jari Justin kemudian dipautkan satu sama lain.


Senyuman Justin membuat Ernest gemas, dia langsung mencubit pipinya terus sedikit menarik agar Justin mendekat ke kursi roda lalu dipeluk serta dicium berulang kali.


Justin hanya terkekeh geli saat bulu-bulu halus yang tumbuh dirahang Ernest benar-benar membuat Justin merasa merinding. Mereka tertawa bersama membuat Barra pun ikut bersama.


Namun, di saat mereka sedang asyik bermain penuh tawa juga kelucuan. Ada 3 anak kecil yang usianya di atas Justin sedang berlari melewati mereka. Saat melihat aksi itu, Justin meminta izin pada Ernest agar bisa bermain bersama.


"Dad, Justin boleh ikut main sama mereka?"


"Boleh, dong. Daddy lihatin dari sini, ya. Justin main aja sama mereka, tapi harus pakai cara yang sopan, ya. Kenalan dulu, sapa mereka dengan baik. Tidak boleh main asal ikut gabung aja, oke?"


"Oke, Dad. Justin akan kenalan dulu, kalau mereka kasih izin Justin ikut main, tapi kalau enggak Justin main sama Daddy sama Ade aja."


"Hem, anak pinter. Ya sudah sana, gih, coba tanya sama mereka baik-baik. Daddy tunggu di sini sama Barra, semangat, Boy!"

__ADS_1


Justin tersenyum lalu dia mulai melangkahkan kedua kakinya mendekati anak-anak yang lagi asyik bermain. Justin menyapa mereka dengan kata-kata yang begitu sopan, bahkan nyaris tidak ada kata yang kasar.


"Hai, permisi, Kak. Kenalkan nama aku, Justin. Nama kakak-kakak siapa?" tanya Justin, menyodorkan tangannya kesalah satu dari mereka.


"Aku Edo," jawab anak kecil menatap Justin cukup sinis.


"Kalau kakak lainnya siapa?" Justin menyodorkan tangannya pada kedua teman Edo secara bergantian.


Setelah itu, Justin tersenyum lantaran dia bisa di terima baik ditengah-tengah mereka. Sayangnya, itu tidak bertahan lama saat Edo mengetahui kalau Justin bersama dengan Ernest, pria lumpuh yang tidak bisa apa-apa.


"Itu ayahmu? Kok dia di kursi roda? Apa dia lumpuh?" tanya Edo, menunjuk ke arah Ernest. Di mana Ernest tersenyum sambil melambaikan tangannya, dia kira mereka menyapanya. Akan tetapi, tanpa sepengetahuan Ernest kalau mereka sebenarnya sedang mengejeknya.


"Iya, dia daddyku. Kenapa? Tampan, ya? Dia memang tampan, mommy beruntung punya daddy. Kalau kalian mau kenalan sama daddy dan adikku, ayo, aku kenalin!" ajak Ernest pada teman-temannya.


"Haha, bener banget, tuh. Lagian ngapain kita temenan sama dia, orang tua kita sehat mereka bisa jalan untuk cari kerja. Terus orang tua dia hanya duduk aja di kursi, gitu?"


Kata-kata dari salah satu teman Edo, benar-benar telah melukai hati Justin sangat dalam. Dia datang baik-baik untuk menyapa mereka, tapi reaksi mereka saat tahu kondisi Ernest mereka hanya bisa mencelanya.


"Sudahlah, Do. Kita balik aja ngapain di sini, mendingan kamu jagain ayahmu sana. Kasihan, pasti selama hidupnya akan selalu merepotkan. Dasar pria lumpuh pemalas!"


Jantung Justin berdebar kencang bukan berarti dia terkejut, melainkan kata-kata terakhir itu benar-benar tidak bisa Justin terima. Ingin rasanya dia menonjok mereka bertiga, tapi kembali lagi. Moana selalu menasihati Justin untuk tidak meladeni seseorang yang kelak akan menghina kondisi ayahnya.


Justin tahu, kata-kata mereka tidak bisa dibenarkan. Hanya saja Justin tidak bisa melakukan semua itu, yang bisa Justin lakukan satu. Yaitu, tersenyum lalu pergi meninggalkan orang-orang yang tidak penting.

__ADS_1


Setidaknya Justin sudah tahu, tidak selamanya orang bisa memiliki hati baik. Terkadang ada juga yang jahat sampai tidak bisa mengerti bagaimana sakitnya jika mereka yang ada diposisi Justin saat ini.


"Ya, sudah kalau kalian tidak ingin main sama aku, tidak apa-apa. Cuman jangan hina daddyku, dia tidak salah. Lain kali kalau kalian tidak suka sama aku bilang, ya. Jangan berkata seperti itu tentang daddyku, karena daddy kalian tidak jauh lebih baik dari daddyku. Kita punya daddy masing-masing, tapi kita tidak boleh menjelekan daddy orang lain yang memiliki kekurangan. Terima kasih sudah mau kenalan, dahhh!"


Jawaban yang Ernest berikan benar-benar di luar dugaan. Edo dan kedua temannya saling menatap satu sama lain, mereka tidak terima atas ucapan Justin. Kata-kata itu membuat emosi Edo naik ketika dua temannya menjadi provokator baginya.


"Gimana, Do? Dia sudah menghina daddy kita, masa kita diam aja. Daddy kita sehat, mereka kerja bahkan uangnya banyak makannya kita bisa kaya. Terus dia? Daddy dia lumpuh pasti dia orang miskin, jadi masa iya, kita mau direndahin. Gua, sih, ogah, ya 'kan, Bro?"


"Ya, benar. Gua juga tidak terima, gimana kalau kita kerjain dia aja sebagai balasan untuk Justin karena dia sudah menjelekkan orang tua kita."


Kedua teman Edo memang sangat pintar bermain play vic*tim, padahal tanpa disadari mereka telah salah orang. Pekerjaan keluarga mereka masoh berada dibawah tuntutan seorang atasan, berbeda sama Justin. Ernest memiliki perusahaan di mana-mana, belum lagi omnya seorang Mafia besar yang sangat terkenal betapa kejamnya.


Edo dan kedua temannya langsung membisikkan sesuatu untuk bisa melampiaskan rasa kesalnya. Mereka tidak terima orang tuanya dikatakan jauh lebik buruk dari Ernest, tapi mereka sendiri tidak paham jika ucapannya jauh lebih buruk dari apa yang Justin katakan.


Perbandingan umur diantara Edo beserta kedua temannya dengan Justin cukup lumayan jauh. Di mana Justin berusia kurang lebih jalan 7 tahun dan mereka berusia 10 tahun. Sehingga anak kecil di usia Edo memang banyak yang melakukan hal serupa, apa lagi jika dari kecil tidak di didik dengan benar maka akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki sopan-santun. Apa lagi mereka merasa jika mereka orang kaya, padahal dibalik itu masih ada orang kaya sesungguhnya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2