
"Sudah, Pak. Tenang saja, saya bisa makan di mobil kok, nanti Bapak tolong antarkan pesenan saya ke mobil ya. Saya tunggu di sana, permisi."
Penjual itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya, lalu melihat Moana pergi ke arah mobil dan dia kembali menerusnya pekerjannya.
Ernest yang melihat Moana masuk ke dalam mobil tanpa membawa jagung bakar merasa aneh. Dia kira jagung bakarnya sudah habis, setelah menanyakan kepada istrinya dengan nada cueknya.
"Mana jagungnya?"
"Itu lagi di buatkan sama Bapaknya."
"Terus ngapain di sini?"
"Memangnya kenapa? Enggak boleh?"
"Bilang mau makan di tempat, nyatanya malah di sini!"
"Apa Tuan tidak lihat, di sana penuh. Terus gimana caranya saya makan? Berdiri gitu?"
"Terserah, mau berdiri atau jungkir balik saya tidak peduli!"
"Kalau memang tidak boleh makan di sini ya sudah, saya bisa makan di depan mobil susah banget!"
Moana terlihat begitu kesal menatap suaminya, baru saja dia ingin turun dari mobil. Tiba-tiba Ernest kembali melarangnya, dan terpaksa harus memperbolehkan Moana untuk makan di dalam mobilnya.
Sedikit berat sih, karena mobil kesayangan Ernest ini terbilang mobil yang sangat bersih dari segala makanan atau minuman. Akan tetapi, dia sedikit tidak tega bila membiarkan Moana makan di luar mobil dalam cuaca malam yang sangat dingin.
Moana hanya terdiam membuang muka melihat ke arah jagung bakarnya, lalu memainkan ponselnya. Meskipun Ernest terbilang cuek, tetapi Moana bisa merasakan bila di balik kecuekan terdapat sedikit perhatian.
__ADS_1
Sekitar 10 menit, akhirnya jagung bakar yang Moana pesan sudah jadi. Penjualnya langsung mengantarkan jagung bakar itu kepada Moana. Di situ wajah Moana terlihat begitu bahagia ketika dia menerima sekotak jagung bakar yang wanginya ke cium dimana-mana.
"Terimakasih, Pak. Ini semua jadi berapa?" tanya Moana sambil merogoh tasnya untuk mengambil uang.
Namun, belum juga di jawab Ernest langsung menyodorkan uang 100 ribu kepada Bapaknya tanpa harus mengembalikannya. Sang Bapak tersenyum begitu lebar, lalu pergi kembali ke kedainya.
Moana tercenga melihat kebaikan Ernest yang sangat random. Padahal tadi dia tidak ingin mengantarkan istrinya ke sini, akan tetapi malah dia yang membayar semuanya pesanan Moana serta melebihkan uangnya.
"Kenapa melihat saya kaya gitu?" tanya Ernest, ketus.
"Dish, siapa juga yang lihatin. Saya hanya kaget aja, orang sengeselin ini bisa baik juga sama orang." jawab Moana, cuek.
Dia langsung membuka kotak jagung bakar itu dan mencium aromanya yang sangat menggugah selera. Di dalam kotak hanya terdapat tiga rasa, yaitu original, manis dan juga pedas. Tidak lupa Moana juga pesan minuman dingin rasa jeruk dan juga minuman panas seperti kopi.
"Itu imbalan buat Tuan, karena sudah mengantar saya walaupun terpaksa." Moana menaruh segelas kopi ke kotak kecil yang ada di pinggir kursi. Melihat itu Ernest hanya mengangkat salah satu alisnya dengan heran.
"Yaiyalah, mau apa lagi? Jagung? Oh, tidak bisa. Ini semua milikku, siapa suruh tadi di ajak enggak mau. Ya sudah, masih mending di beliin kopi dari pada enggak di kasih apa-apa sama sekali."
Moana berbicara tanpa menatap Ernest yang hanya melongo tak percaya bila istrinya sepelit itu. Padahal semuanya dia yang bayar, tetapi satu pun jagung tidak di berikan pada Ernest.
Eiitss, kenapa juga Ernest malah meminta jagung itu dari Moana? Bukannya dari tadi dia kesal padanya, lantas kenapa dia malah mengganggunya? Entahlah, Ernest juga bingung. Setelah melihat Moana makan jagung itu sangat lahap membuat perut Ernest menjadi keroncongan.
Akhirnya dia pun turun dari mobil, kemudian memesan 2 jagung untuknya sendiri dengan rasa yang berbeda, dia mengkombinasikan antara rasa manis dan pedas.
Kemudian Ernest kembali ke dalam mobilnya sambil membawa jagung bakar, Moana segera menatapnya. Sebab, aroma wangi yang di timbulkan dari jagung milik Ernest jauh lebih menggiurkan dari pada miliknya.
Ernest memakan perlahan jagung itu tanpa melihat ke arah Moana yang hampir saja mengeluarkan air liurnya.
__ADS_1
"Kenapa jagung itu terlihat enak banget? Kok beda sama punyaku?" tanya batin Moana, melihat jagung di tangan Ernest dan di tangannya sendiri.
"Kenapa? Mau? Ohh, tidak bisa!" jawab Ernest mengikuti nada Moana.
Kini, Moana kembali menjadi kesal. Dia langsung membuang muka ke arah samping dan kembali memakan jagungnya yang tinggal sedikit lagi habis.
Ernest yang baru makan setengah jagungnya merasa terkejut, saat istrinya bisa memakan 5 jagung dalam hitungan menit. Semua itu terlihat seperti Moana yang sama sekali tidak pernah memakan jagung bakar seumur hidupnya.
Napsu makan Ernest yang tadinya begitu lahap, kini menjadi sangat kenyang. Kemudian dia menaruh sisa jagungnya di dasbor mobil dan langsung menjalankan mobilnya ketika Ernest melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.
Di sepenjang jalan, tidak sengaja Ernest melihat Moana terus menatap ke arah jagung miliknya yang masih tersisa 1. Rasanya dia tidak tega melihat istrinya yang seperti menahan air liurnya.
Sementara Moana ingin sekali meminta jagung itu pada suaminya, tetapi dia begitu gengsi. Dia takut bila suaminya akan kembali memarahinya dengn kata-kata kasarnya.
Namun, setelah Moana mencoba untuk mengalihkan tatapannya. Tiba-tiba Ernest malah menyodorkan kotak itu, walaupun suaminya sedikit cuek Moana akui kepekaannya tidak bisa di ragukan.
Dengan senang hati Moana menerima itu dan kembali memakannya sangat lahap. Ternyata jagung yang Ernest beli jauh lebih enak dari apa yang dia beli.
Ernest hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan random istrinya. Setelah selesai makan, tak lama Moana malah tertidur sangat pulas di dalam mobil.
Pada akhirnya setiba di rumah Ernest kembali di repotkan untuk menggendong istrinya, lalu membawanya ke dalam kamar. Tak lupa untuk menyelimutiny dan dia pun segera bersih-bersih kemudian melanjutkan istirahat, karena besok pukul 10 pagi akan ada jadwal meeting yang sangat penting.
.......
.......
.......
__ADS_1
...**💜💜>Bersambung