Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menyerahkan Sebagian Tubuhnya


__ADS_3

Thoms dan Doni membawa Tuan Dewa ke rumah sakit dengan pengawalan yang sangat ketat. Mereka tidak ingin kecolongan sedikit saja karena itu akan berakibat fatal untuk kondisi sang kakek yang masih lemah.


Sesampainya di rumah sakit, Tuan Dewa langsung dibawa ke ruangan khusus untuk melakukan serangkaian tes demi mengetahui penyakit apa yang dirasakan olehnya selama kurang lebih 1 bulan ini.


1 jam sudah, sang kakek baru selesai melakukan pemeriksaan intens karena banyak dugaan yang dokter ingin ketahui, apakah benar atau tidak. Selepas semua itu selesai diperiksakan, tinggal menunggu hasilnya saja yang butuh waktu setengah jam.


Thoms selalu memperhatikan sang kakek dengan sangat baik, membuat Tuan Dewa merasa kelebihan kasih sayang. Apalagi melihat ketulusan dari wajah Thoms yang tidak sedikit pun meminta hal kecil darinya.


Jangankan hal kecil, untuk makan saja Thoms selalu mendahulukan Tuan Dewa barulah dia akan makan. Jika tidak, pria itu tidak ingin menyentuh makanan selain air. Untuk Thoms, kesehatan sang kakek jauh lebih penting daripda dirinya yang masih muda.


Sifat itulah selalu membuat sang kakek merasa jatuh cinta melihat ketulusan hati Thoms padanya. Bukan cinta seperti pasangan, melainkan cinta dalam arti kekaguman karena Tuan Dewa tidak menyangka akan mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang lain selain keluarga yang sudah tiada.


Nasib malang yang selama ini dijalani olehnya, perlahan berbuah manis saat hadirnya Thoms di dalam kehidupannya. Tidak peduli seberapa banyak hujatan yang hadir untuk membuat hubungan mereka renggang bahkan hasutan demi hasutan selalu berdatangan untuk memecah belah antara mereka.


Sayangnya, Tuan Dewa dan Thoms tidak menggubris semua itu karena mereka percaya apabila kasih sayang yang diberikan bukanlah kasih sayang untuk memanfaatkan, melainkan memang mereka ingin saling melengkapi kehidupan yang kosong satu sama lain.


"Gimana, Kek. Apa ada yang dirasa?" tanya Thoms memastikan.


"Tidak ada, Nak. Kakek baik-baik aja, cuma Kakek tidak betah ada di sini. Kapan kita pulang?" tanyanya, berusaha bangkit dari bangkar secara perlahan.


"Astaga, baru juga dipasang impus untuk menambah daya tahan tubuh Kakek dan sebagainya. Ini malah ribut pulang mulu, dokter aja belum memberikan kepastian tentang penyakit yang Kakek derita ini. Apakah berbahaya atau tidak, jika tidak pun Kakek akan tetap dirawat paling lama tiga hari. Namun, kalau berbahaya harus ada tindak lanjut yang dokter ambil. Apa Kakek tidak dengar yang tadi dokter sampaikan?"


"Iya, iya. Cerewet banget sih, lagi pula aku gapapa. Udah kaya anak kecil aja, sakit dikit dirawat. Lagi pula aku ini ketua mafia masa iya, lemah begini."

__ADS_1


Sang kakek menggerutu dengan rasa kesal ketika mendengar celoteh Thoms. Memang sih, maksud Thoms itu baik. Hanya saja, kata-kata itu seakan membuat Tuan Dewa merasa sedikir tersinggung kalau tubuhnya sudah tidak sekuat sebelumnya.


"Haissh, apa sih, Kek. Udahlah, lagi juga aku begini demi kesehatan Kakek bukan untuk menyakiti Kakek. Kalau kita biarkan terus, lihat, 'kan! Kondisi Kakek malah tambah tidak karuan selama 1 bulan di rumah hanya mengandalkan obat-obatan saja tanpa memeriksakan diri seperti sekarang."


"Ya, ya. Terserah kau saja udah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi jika cucuku sudah mengatakn hal tersebut. Melawan saja aku tidak berani, bagaimana aku bisa memarahimu. Meski hatiku kesal, tapi sudahlah. Kau memang bisa membuatku bertekuk lutut seperti ini."


Thoma tersenyum mendengar ocehan sang kakek yang merasa begitu lemah di hadapannya. Tidak hanya itu, Thoms malah lebih menjahilinya sampai mereka berdua tertawa senang tanpa memperhatikan wajah Doni yang sudah menahan rasa benci.


Melihat hubungan mereka berdua semakin dekat dan asyik, membuat Doni merasa sudah tidak dianggap oleh Tuan Dewa. Biasanya setiap Tuan Dewa terluka atau sakit, dialah orang yang akan memberikan semangat. Akan tetapi, sekarang tidak lagi. Semua itu karena kehadiran Thoms yang terus merebut posisinya untuk menjadi seseorang yang selalu diandalkan.


Teruslah kalian tertawa seperti ini karena sebentar lagi, canda tawa itu akan musnah bersamaan dengan nyawamu, Tuan. Aku akan pastikan, tahta tertinggi yang kau miliki tidak akan sampai di tangan anak yang sudah dipungut dari jalan itu!


Aku akan mencari cara bagaimana memisahkan kalian, hingga membuat salah satu dari kalian menjadi salah paham. Cuma, tidak mudah itu. Kepercayaan mereka sudah sangat kuat, sehingga satu-satunya cara untuk membalaskan dendam hanya dengan melenyapkan Tuan Dewa. Setelah itu aku akan menguasai perlahan hartanya sebelum dia membuat sebuah wasiat yang akan dipegang oleh pangacaranya. Namun, aku tidak boleh kecolongan karena sewaktu-waktu Tuan Dewa bisa bertindak tanpa sepengetahuanku.


Tak lama dokter datang bersama asisten suster juga ketiga pengawal yang selalu ada di samping mereka ke mana pun pergi. Semua itu mewantu-wanti supaya tidak terjadinya sesuatu hal buruk demi menjaga Tuan Dewa.


"Permisi, selama siang. Maaf apabila kehadiran saya mengganggu Tuan semua." Sang dokter tersenyum menyapa semuanya sambil memberikan penghormatan dengan cara sedikit membungkukkan punggung setelah itu berjalan mendekati bangkar Tuan Dewa.


Thoms langsung berdiri, walaupun usianya masih terbilang masih di bawah umur. Tetap saja, dia harus mengetahui semua yang terjadi pada sang kakek tanpa ada yang bisa melarangnya.


"Siang, bagaimana? Apakah Kakek saya mengalami penyakit yang berbahaya?" tanya Thoms, tatapan matanya memberikan isyarat betala khawatirnya dia akan kondis sang kakek.


"Sebentar, Tuan. Saya akan baca hasilnya terlebih dulu, setelah saya mendapatkan jawabannya. Maka saya akan segera memberitahukan pada semua yang ada di sini. Mohon izin," ucap dokter menatap Tuan Dewa dan mendapatkan anggukan kepala pertanda bahwa dia telah menyetujuinya.

__ADS_1


Kurang lebih 5 menit lamanya, sang dokter kembali menatap ke arah Thom, Tuan Dewa, dan Doni secara bergantian. Kemudoan menjelaskan, jika sang kakek mengidal penyakit ginjal yang perlahan membuat salah satu ginjalnya mulai kesulitan berfungsi dengan baik.


Tidak hanya itu, ada juga penyakit pernapasan yang mulai terganggu. Semua itu berkat racun yang dimasukan oleh Doni ke dalam makanan atau minum yang dikonsumsi Tuan Dewa. Anehnya, selama ini sang kakek memeriksakan kondisinya tidak ada penyakit itu kecuali, penyakit lambung yang dideritanya akibat banyak mengonsumsi alkohol dan sebagainya.


"Terus gimana tindakan selanjutnya, Dok? Apakah Tuan saya hatus dirawat atau bagaimana?" tanya Doni, wajahnya terlihat serius padahal, di dalam hati begitu senang.


"Jika Tuan tidak ingin dirawat di rumah sakit terlalu lama, kita bisa merawatnya di rumah, nanti akan kami siapkan semua alat-alat canggih. Hanya saja biayanya tidak sedikit, kalau perlu kita akan berikan satu suster untuk memantau setiap perkembangan Tuan sampai kita menemukan ginjal sebagai pengganti ginjal satunya yang hampir rusak. Bagaimana?"


Tuan Dewa masih sangat bingung atas apa yang dikatakan oleh sang dokter. Seperti ada yang aneh, tetapi mungkin saja semua itu terjadi akibat usia yang semakin menua sehingga berbagai penyakit mulai menyerangnya.


Ketika Thoms melihat kegelisahan di wajah sang kakek, membuat dia langsung bertindak seorang diri tanpa persetujuan siapa pun yang bersangkutan. Thoms lebih memilih dimarahi oleh sang kakek, tetapi Tuan Dewa kembali sembuh daripada berdiam diri mengikuti apa yang diucapkan tanpa memikirkan resiko besar ke depannya.


"Lakukan yang terbaik buat kakek saya, Dok. Soal biaya tidak perlu khawatir, Kakek saya punya segudang uang yang tidak akan habis hanya untuk membiayai kesehatannya. Jika perlu, cek ginjal saya kalau cocok segera berikan padanya. Paham!"


Dokter menganggukan kepala pertanda telah menyetujui apa yang Thoms katakan demi kesehatan sang kakek. Sementara Doni cukup terkejut atas jawaban anak kecil yang berusia jauh di bawahnya. Sang kakek tidak sanggup mengatakan apa-apa selain tersenyum penuh kebanggaan melihat betapa tulusnya Thoms untuk dirinya.


Thoms rela menyerahkan sebagian tubuhnya untuk membantu Tuan Dewa, sedangkan asistennya tidak melakukan apa-apa selain terdiam. Itulah yang membuat sang kakek tidak lagi meragukan untuk menyerahkan semua harta, juga tahta untuk anak yang sudah dia rawat sejauh ini.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2