Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kartu AS Enza


__ADS_3

"A-apa maksud lu ngatain gua kaya gitu, hahh? Lu kalau ngomong hati-hati, lu enggak punya bukti apa pun. Jadi, enggak usah---"


Belum selesai Enza mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Produser itu pun berdiri dan mengambil ponselnya, kemudian memberikan Enza untuk melihat semua rekaman-rekaman yang memutarkan dirinya sedang melakukan adegan panas di ranjang oleh beberapa pria.


Mata Enza langsung membelalak lebar, dia benar-benar syok atas apa yang dia tonton saat ini. Dia tidak percaya, apa bila produser itu bisa mendapatkan semua rekaman asli ini.


"I-ini bu-bukan gua, ya ini bukan gua! Ini semua pasti editan, 'kan? Pasti ini editan, karena lu seorang produser jadi lu bisa mengedit semuanya. Dasar licik!"


Ponsel yang ada di genggaman seketika melayang ke arah lantai dan hancur tidak tersisa. Menurut Enza setelah dia menghancurkan ponsel, produser itu tidak akan memiliki bukti lagi. Akan tetapi, dia salah.


Semua bukti sudah di salin kebeberapa perangkat untuk menyimpan semua kartu AS. Di situ Enza sudah sangat frustasi, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan selain dia mencari tahu bagaimana bisa semua itu di dapatkan dengan mudah.


"Sudahlah, jangan mengelak lagi, Sayang! Aku sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya, jadi mengakulah atau aku akan menyebar luaskan semua video asusila ini!"


Produser itu tersenyum sambil memainkan rambut Enza sesekali memutarinya dan langsung mencekram rahang Enza begitu kuat. Air mata kembali menetes deras saat Enza berusaha menahan rasa sakit di rahangnya.


Dalam hitungan mening, produser itu menghempaskan Enza hingga dia terjatuh di sudut pinggir kasur sampai kepalanya membentur meja kecil yang ada di sampingnya.


Enza menoleh menatap lekat wajah pria yang sangat kejam ini, lalu satu pertanyaan keluar darinya untuk memastikan semua bukti itu bagaimana bisa berada di tangannya.


"Lu, dapat dari mana semua bukti itu? Apa mereka semua adalah komplotan? Itu artinya lu telah menjebak gua, gitu? Iya!" pekik Enza, matanya memerah penuh kemarahan.

__ADS_1


"Upss, sorry, Sayang! Mereka bukan komplotan, melainkan jurang kematian untuk lu. Lu rela berikan tubuh lu pada orang yang salah, asal lu tahu aja. Mereka semua hanyalah produser yang kelasnya masih jauh di bawah gua. Banyak model yang tertipu dengannya, jadi sangat mudah bagi gua mengumpulkan bukti tersebut. Paham!" jawab produser itu.


Dia berjongkok di hadapan Enza dan kembali mengusap wajahnya perlahan. Lalu, menjenggut keras rambutnya sampa Enza memekik keras.


"Aakhh ... Dasar si*alan! Kalau lu tahu dia produser gadungan, kenapa lu tidak menghentikannya. Bukannya lu suka sama gua? Lu cinta 'kan, sama gua? Kenapa lu malah biarin gua terjerumus ke sana, hahh? Kenapa!"


"Itu semua karena gua sangat senang, ketika melihat orang yang gua cintai menderita! Gua bukan gila, tetapi gua tahu yang mana yang harus gua cintai dengan tulus dan yang mana yang harus gua cintai dengan napsu! So, lu tahu bukan? Rasa cinta yang gua miliki sama lu ini tulus atau hanya sekedar napsu belakang?"


Enza kembali terdiam saat melihat produser itu berusaha untuk menyakitinya, tidak ada pilihan lain. Semua kartu AS ada di tangan dia, sehingga Enza tidak bisa melawanya walaupun dia sangat ingin membalas semuanya.


Di saat produser itu berdiri dan berbali, Enza langsung bangkit lalu memeluknya dari arah belakang. Dia berusaha meminta maaf atas semua yang dia lakukan, bahkan dia rela menjadi pemuas napsunya asalkan Enza tidak di hapus dari daftar model yang dia tangani.


Namun, sayangnya. Enza malah di tolak mentah-mentah dan di perlakukan bagaikan sampah yang di buang setelah tidak di butuhkan.


Awalnya Enza tidak ingin melepaskan hubungan yang menguntungkan ini, tetapi dia tidak bisa memaksakannya. Lebih baik dia mengambil jalan aman agar aibnya tetap terjaga.


Di situ perjanjian mukai di buat, bahkan semua bukti di hapus tepat di depan Enza. Setelah itu, Enza berpamitan dan tidak lupa mengucapkan terimakasih untuk pergi sejauh mungkin dari produser itu.


Mungkin bisa di katakan aneh, tetapi itulah mereka. Produser itu masih memberikan kesempatan untuk Enza memperbaiki ke salahan, bagitu pun juga dirinya. Hanya saja, lihat saja kedepannya nanti. Apakah mereka benar berubah, atau akan semakin menjadi-jadi.


Saat ini yang menjadi fokus Enza bukanlah tentang impiannya, melainkan hubungannya dengan Felix. Bagaimana dia bisa memperbaiki semua hubungan itu. Karena, Enza hanya memiliki waktu yang sedikit, agar pernikahan tidak sampai gagal.

__ADS_1


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Keesokan paginya, Justin dan Moana sedang main di taman rumah sambil menyuapini Justin makan. Sementara Elice dan Sakha dari kemarin pergi karena ada urusan penting.


"Omi, au inum!" pinta Justin, membuat Moana segera mengambilkan gelas.


"Yahh, habis. Mommy ambil minum sebentar ya di dalam, Justin tunggu di sini, oke? Makan sendiri bisa?" ucap Moana, tersenyum.


"Bica, Ustin unggu cini ya. Omi ambil inum yang ingin anget, oteh?" sahut Justin.


Moana hanya menganggukinya dan terus tersenyum sambil memberikan piringnya pada Justin. Di mana Justin duduk di kursi taman, lalu melahap perlahan makanannya walaupun sering kali belepotan.


Setelah di lihat aman, Moana pun pergi ke dalam rumah untuk sekedar mengambil minum buat anaknya. Agar tidak menjadi bolak-balik, Moana pun mengambil botol besar untuk di bawa ke taman.


Perlahan langkah kakinya kembali ke arah taman, tetapi ada satu hal yang membuatnya terkejut. Di mana Moana tidak menemukan Justin duduk di kursi taman, hanya ada piring bekas dia makan. Lantas kemana perginya Justin? Baru kali ini Justin mengingkari janjinya untuk menunggung Moana, karena biasanya dia selalu menempati janjinya.


Namun, sekarang dia pergi entah kemana. Moana langsung mencari Justin di semua tempat sambil memanggil namanya, bahkan beberapa penjaga di sana pun segera mendekati Moana saat melihat Moana seperti sedang ke bingungan mencari sesuatu.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2