Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Di Gempor Pikiran Dewasa


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, kondisi Moana dan Justin sudah mulai membaik. Mereka pulang bersama Elice dan juga sang supir, sedangkan Sakha sudah pulang ke rumah lebih dulu serta telah kembali menjalankan aktifitasnya seperti biasa.


Berbeda sama Ernest, dia semakin menyibukkan dirinya sendiri agar tidak mengingat kenyataan pahit yang terus menghantuinya setiap malam.


Sesampainya di rumah, Moana pergi ke kamar Justin untuk mengantarnya istirahat. Fokusnya saat ini hanya pada Justin, bukan suaminya.


Apa lagi Ernest tidak sedikit pun menengoki mereka yang ada di rumah sakit, dia lebih memilih untuk menyibukkan dirinya dengan bekerja. Hanya itu satu-satunya jalan, agar Ernest tidak selalu kepikiran tentang mereka berdua.


Di kamar Justin, Moana tiduran tepat di sampingnya sambil mengelus anaknya yang masih belum 100 persen sembuh. Dia harus menjalani rawat jalan, sampai benar-benar luka yang ada di kepalanya bisa kembali membaik.


"Omi, tok Edi ndak pelna ke umah cakit ya? Aktu itu pas Ustin au indah ke kamal Omi, Edi ke kamal Ustin. Uman, Edi ndak omong apa-apa. Edi iyem muyu, teyus uga ndak peyuk Ustin aya Om peyuk Ustin pas au Ustin angun bobo. Apa Edi ndak cayang agi cama Usti aya duyu?"


Pertanyaan Justin yang bersifat polos dan juga penasaran akan perubahan Ernest, malah tanpa di sadari kembali mencoretkan luka di hati Moana.

__ADS_1


Anak sekecil Justin harus di paksa mengerti sama keadaan yang seharusnya tidak dia hadapi saat ini. Moana saja bingung harus menjelaskan dari mana lagi, lantaran usia Justin tidak memungkinkan untuk Moana memberikan alasan di balik perubahan Daddynya.


Moana tersenyum menatap anaknya sambil mengelus pipi Justin begitu lembut, "Sayang, dengerin Mommy ya. Tidak semuanya kasih sayang itu harus di lakukan dengan pelukan, apa lagi Justin tahu kalau Daddy adalah orang yang sibuk. Mungkin saja Daddy lelah, karena capek bekerja. Jadi, Justin harus ngertiin Daddy ya."


"Bukanya, waktu itu Daddy pernah bilang. Katanya Daddy itu sayang banget sama Justin, apapun yang Justin inginkan Daddy pasti turuti. Kalaupun seandainya Daddy tidak lagi sayang sama Justin, 'kan masih ada Mommy, Opa sama Oma yang sayang banget sama Justin. Jadi, Justin tidak boleh sedih ya. Nanti sakitnya enggak sembuh-sembuh loh,"


Jawaban yang Moana berikan mungkin sedikit membuat Justin bingung. Di balik kata 'seandainya' terbesit makna tersirat yang tidak bisa Moana ceritakan saat ini pada Justin di usia yang masih di bawah umur.


"Api, alo Edi udah ndak cayang agi cama Ustin. Imana Omi? Belalti Edi atan cuek agi dong aya duyu? Omi uga pasti atan cedih iyat Edi ndak cayang cama Ustin, ya tan?"


Moana sudah tidak berkutik, ketika pikiran anak di usia Justin harus di gempor dengan pikiran orang dewasa. Entah ini salah atau benar, bagi Moana ini tetap salah. Seharusnya di usia Justin ini, tugasnya hanyalah main, makan dan juga istirahat. Bukan memikirkan beban orang tuanya.


"Ustin ndak au iyat Omi cedih teyus kalena Edi, alo Edi ndak cayang Ustin. Ustin ndak apa-apa, tok. Yang enting Edi cayang cama Omi, alo Edi cayang Omi asti anti Edi cayang Ustin agi. Api, alo Edi cayang Ustin oang, asti anti Edi ndak cayang Omi. Ustin ndak au!"

__ADS_1


Air mata Moana tiba-tiba saja menetes menatap Justin, lalu dia langsung memeluknya begitu erat sambil menciumi kening anaknya. Kemudian melepaskannya sambil tersenyum.


"Terima kasih, Tuhan. Kau telah menjadikan anakku anak yang baik, anak yang bisa mengerti keadaan orang tuanya tanpa sedikitpun mengeluh. Aku hanya bisa mendoakan, semoga kelak hidup anakku bisa selalu bahagia sampai akhir hayatnya. Tidak peduli hidupku akan bahagia atau tidak, yang jelas aku hanya meminta supaya hidup anakku tidak akan pernah merasakan penderitaan seperti diriku!" gumam batin Moana, terus menciumi wajah anaknya sambil tersenyum.


Justin yang melihat Moana menangis, langsung sigap mengangkat kedua tangan mungilnya untuk mengusap air mata Mommynya.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2