
Belum selesai Ernest mengutarakan semuanya pada mereka, Moana langsung saja berdiri dengan sikap tegaknya menatap Ernest dengan sorotan mata yang sudah sangat merah. Suara lantang yang Moana keluarkan membuat Ernest terkejut bukan main. Terlihat sekali, betapa kecewanya Moana atas ucapan yang Ernest katakan barusan.
Padahal tadi Moana sempat senang ketika Ernest sudah bangun dari tidurnya yang cukup lama. Begitu juga Thoms, dia merasa sedikit lega lantaran kondisi Ernest sudah membaik. Bukan akibat kasihan, melainkan Thoms merasa hutang budi sama Ernest karena sudah menyelamatkan salah satu keponakannya.
"Hentikan omong kosongmu itu, Tuan Ernest! Aku sudah tidak ingin mendengar kata-katamu, mengerti!"
"Sudah cukup selama ini aku berjuang untuk melewati semua duri yang sudah kau tancapkan di hati ini, sampai aku memutuskan untuk pergi demi menyelamatkan anak-anakku. Apa kau tahu, bagaimana keadaanku kami setelah itu? Tidak bukan!"
"Susah payah aku melewati semua rasa sakit ini agar semua mental anak-anakku kembali pulih, meski aku harus menjauhi orang yang sangat-sangat aku cintai. Semua itu demi anakmu, Barra! Dia darah dagingmu sendiri yang hampir saja keguguran jika pada saat itu aku tidak bertemu pada kakakku sendiri!"
"Ya, dia Thoms. Kakak kandungku yang puluhan tahun terpisah dariku. Dia yang berhasil menyelamatkan anakmu, bahkan mentalku juga Justin. Barra lahir tanpa adanya sosok Ayah di sampingnya. Hanya ada sosok paman yang telah beralih menjadu sosok ayah bagi mereka semua. Aku mempertaruhkan nyawaku sendiri demi menyelamatkannya, andaikan pada saat itu aku tetap bertahan. Kemungkinan besar, Barra sudah tidak ada bersamaku. Lalu, apa yang aku dapatkan atas perjuanganku selama ini, hem? Kelemahanmu sebagai seorang pria, iya? Hanya seginikah perjuangmu untuk kami?"
"Haha ... Ernest-Ernest, selemah inikah mentalmu sebagai seorang suami? Baru beberapa hari kemarin kamu ma*ti-ma*tian membelaku, dan ingin memperjuangkan kami kembali. Tapi, sekarang mana? Saat kamu melihat adegan ini, kamu langsung percaya gitu aja? Terus mau menyerah, iya? Dasar lemah!"
"Jika kamu benar-benar mencintaiku, maka kamu harusnya menanyakan padaku. Apa yang aku mau, dan apa yang membuatku bahagia. Bukan malah menentukannya seperti ini hanya karena kamu melihatku tertawa bersama kakakku sendiri. Terus apa tadi kamu bilang? Kamu ingin mengakhiri hubungan kita dengan membebaskan aku darimu? Sungguh lucu, Ernest. Lucu!"
"Jika benar begitu, baiklah. Kamu akhiri saja hubungan kita sekarang, mungkin dengan begitu kita bisa hidup masing-masing. Aku dengan jalanku dan kau dengan jalanmu. Satu lagi, sampai kapan pun anak-anak akan berada di tanganku! Terima kasih."
Setelah selesai mengutarakan apa yang ada di dalam hati juga pikirannya, Moana langsung saja berjalan ke arah luar untuk meninggalkan Ernest. Akan tetapi, di persekian detik Ernest yang berhasil mencerna ucapan Moana mencoba untuk mengejarnya. Hanya saja dia memiliki kendala di kedua kakinya yang tidak bisa di geraknya.
__ADS_1
"Tu-tunggu aku, Moana. Tunggu! Aku bisa jelaskan, aku tidak mau kehilangan kamu. Aku mo--- akhhh ...."
Ernest terjatuh dari bangkarnya dalam keadaan yang sangat mengerikan. Di mana Moana menghentikan aksinya ketika dia baru saja memegang handle pintu.
Impusan Ernest langsung terlepas dari tangannya dengan menyisakan cairan merah yang sudah berserakan di lantai. Begitu juga luka jaitan di perutnya kembali terbuka akibat pergerakan yang melebihi batas yang seharusnya.
"Akhhhh ... Ke-kenapa ka-kakiku tidak bisa bergerak? A-ada apa ini!"
Ernest berteriak sekeras mungkin dengan rasa sakit yang dia rasakan begitu luas bisa. Thoms yang melihatnya segera mengangkat Ernest dengan bantuan salah satu bodyguard yang menjaga di dalam untuk mengembalikan Ernest ke atas ranjangnya. Kemudian Thoms memencet tombol berulang kami demi memanggil sang dokter agar segera memeriksa kondisinya.
Sementara Moana yang melupakan semua itu, segera berbalik lalu berlari menghampiri Ernest yang terus menjerit merasakan kesakitan. Ini bukan masalah lebay, melainkan luka yang ada bekas tembakan memang cukup mendalam bahkan hampir mengenai ginjalnya. Sehingga semua ini membuat mereka menjadi khawatir.
"Ma-maafkan aku, Ernets. Ma-maafkan aku, a-aku lupa kalau kamu---"
"Ka-kakimu ...."
"Waktunya belum tepat, Dek! Tunggu sampai dokter menangani kondisinya dulu, biarkan dia tenang baru pelan-pelan kamu berikan penjelasan padanya supaya dia tidak semakin syok. Lihatlah, kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Da*rah berada di mana-mana. Jadi, kamu harus sabar!" bisik Thoms, membuat Moana menatapnya sekilas dan kembali fokus pada Ernest.
Sebisa mungkin Moana menenangkan Ernest, sampai menunggu sang dokter datang. Hanya dalam kurang waktu kurang dari 2 menit, sang dokter dateng bersama asistennya untuk mengecek keadaan pasien. Semua di minta untuk pergi ke luar ruangan demi kenyamanan pasien dan dokter yang akan mencoba untuk menenangkan serta mengobati lukanya.
__ADS_1
Thoms membawa Moana ke luar ruangan, yang mana Moana langsung memeluknya hingga menangis sesegukan di dalam dekapannya. Moana selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjad pada Ernest, tetapi bagaimana pun Thoms harus bisa membuatnya mengerti bila wajar saja kalau Moana bersikap seperti itu. Bahkan, Thoms sendiri jika ada di posis itu dan merasa kecewa pasti akan memilih untuk pergi meninggalkannya.
Semua kembali lagi, apa yang terjadi sama Ernest ya karena itu sebagian dari ujian yang harus dihadapi. Bukan penderitaan yang harus dikasihani atau di pikirkan sehingga membuatnya putus asa untuk kembali menjalani hidupnya.
30 menit berlalu, selesai dokter memberikan obat penenang buat Ernest serta telah mengganti perban di perut juga impusan di tangannya. Kini, keadaannya jauh lebih membaik dari sebelumnya. Sang dokter beserta asistennya keluar ruangan untuk mewanti-wanti mereka agar Ernest tidak lagi melakukan pergerakan di luar dari batas kemampuannya. Sebab, itu akan membuat Ernest harus kembali melakukan operasi untuk membenarkan jaitannya yang putus.
Moana sama Thoms, cukup menganggukan kepalanya. Lalu, selepas sang dokter pergi. Mereka segera kembali masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Ernest. Di mana Moana berlari, kemudian terduduk sambil menggenggam tangan suaminya.
"Ma-maafkan aku---"
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku baik-baik saja, mungkin ini memang sudah takdirku. Jangan menangis lagi, oke? Aku terima semua ini sebagai penebus dosaku pada kalian, jadi tidak perlu meminta maaf padaku. Harusnya aku yang harus meminta maaf pada kalian semua, karena aku sudah menyakitimu berulang kali sampai detik ini pun aku masih menyakitimu. Ma-maaf!"
Moana menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak merasa di sakiti. Hanya saja, Moana kecewa karena hampir saja Ernest mengatakan kata-kata yang akan membuat mereka berpisah. Ya, mungkin kepergian Moana yang sudah 1 tahun lebih bisa di katakan perpisahan. Akan tetapi, itu tidak termasuk dalam mereka berpisah dalam ikatan perceraian sebab Ernest tidak pernah menceraikannya. Moana yang pergi dengan sendirinya demi menyelamatkan mental anaknya.
Maka dari itu, jika Ernest mengatakannya mereka bisa benar-benar berpisah dan harus melewati proses yang cukup panjang untuk kembali. Kalau seperti ini, mereka bisa melakukan peresmian pernikahan kembali jika diinginkan atau bisa juga tidak. Semua tergantung bagaimana mereka menyikapi semua ini agar tidak menjadi kesalah pahaman terhadap semuanya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...