Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Meminta Kesempatan


__ADS_3

Begitulah kira-kira versi cerita dari Sakha yang memang tidak pernah membunuh mamihnya Moana dan Thoms. Dia hanya menodongkan senjata demi menjaga keamanan sewaktu-waktu mamihnya Moana akan melukai ketua mafianya.


Sementara itu, anak buah dari arah lainlah yang sebenarnya menembak kepala mamih dari Moana hingga mengakibatkan meninggal dunia.


Namun, setelah mendengar semua kisah itu ternyata Thoms tidak terima atas kebohongan yang diceritakan oleh Sakha. Lirikan mata Thoms benar-benar sangat tajam seperti ingin menghabisi Sakha dalam keadaan hidup, tetapi terhalang oleh sang adik yang tidak ingin keluarga suaminya lenyap ditangannya.


Satu tonjokkan keras yang berasal dari tangan Thoms berhasil memecahkan meja kaca yang ada di hadapannya hanya dalam waktu singkat sampai tidak berbentuk lagi.


Braaak!


"Kakak!" pekik Moana ketika melihat kejadian itu dalam keadaan terkejut.


Thoms berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya dan membantah semua perkataan yang Sakha jelaskan. Pria itu tetap pada pendiriannya kalau apa yang dia lihat dengan kedua mata kepalanya adalah kenyataan, bukti fakta yang ada karena hanya Thoms satu-satunya orang yang berada di tempat kejadian.


"Sekali lagi kau mengelak, maka semua keluargamu akan saya habiskan sekarang juga!" teriak Thoms disertai suara yang sangat menyeramkan.


"Sa-saya berkata jujur, Tuan. Saya tidak lagi berbohong, itulah kenyataan aslinya. Bukan saya yang menembak orang tua kalian, tetapi atasan saya dan anak buah saya. Hanya mereka beruda yang menjadi pelaku di dalam kema*tian kedua orang tua kalian, bukan saya!" bantah Sakha tetap pada pendiriannya. Jika memang dia tidak bersalah dalam kasus ini.


Sakha berdiri dengan tegak sambil menatap Thoms tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Kali ini keduanya saling mempertahankan kenyataan yang mereka ketahui berdasarkan fakta, bukan manipulasi.


"Dasar penge*cut! Bisa-bisanya kau----"


"Jika Tuan tidak percaya sama apa yang sudah saya jelaskan, maka saya punya bukti yang akan menjawab semua kebenaran ini. Kalau saya bukan pembu*nuh dari keluarga kalian!"


"Aarrrghhh ... Dasar baji*ngan! Kau benar-benar tidak mau mengakuinya, breng*sek!"

__ADS_1


Thoms langsung menyerang Saka yang langsung mencari tempat aman untuk menghindari beberapa serangan yang diberikan. Meskipun, Sakha sudah lama tidak menjalani bisnis gelapnya bersama ketua Mafia itu tetap saja ilmu bela diri masih melekat jelas di dalam tubuh.


Beberapa kali Thoms terkena pukulan di wajah, dan beberapa kali Sakha juga tumbang akibat tendangan Thoms yang sulit diprediksi. Maklum saja, usia Sakha tidak semuda dahulu, sehingga teknik bela dirinya sedikit melemah dari Thoms.


Sementara anak buat yang lain, berusaha untuk menahan semua orang agar tidak ikut campur perkelahiran mereka berdua. Termasuk Moana dan Nay, mereka hanya bisa berteriak meminta pertolongan supaya mereka bisa melerai perkelahian itu.


Elice, Moana, dan Ernest tidak bisa melakukan apa-apa mereka semua hanya bisa menangis sambil memberontak agar anak buah Thoms ingin melepaskan. Sayangnya, para bodyguard terus mengamankan semuanya sampai Sakha benar-benar tidak berdaya dan tersungkur di lantai dalan keadaan wajah memar penuh cairan merah yang membandel, serta perutnya yang terasa sakit.


"Cu-cukup, Tuan! Be-berikan sa-saya kesempatan se-sekali saja supaya bi-bisa membuktikan kalau saya bukan pelakunya. Izinkan saya, Tuan. Saya punya bukti yang akurat, dengan bukti itu Tuan bisa langaung percaya uhukk ... Uhhuk ...."


Sakha berbicara dalam keadaan terbata-bata sampai mengeluarkan batuk berda*rah akibat tendangan maut Thoms yang cukup keras melukai lambungnya.


Setelah melihat Sakha sudah tidak berdaya, Thoms memberikan kode agar anak buahnya melepas semua tahanan mereka dan membiarkan Elice berlari menghampiri suaminya.


Moana berlari menahan tangan kiri sang kakak sambil menangis untuk meminta Thoms agar menyudahi semua perkelahian ini. Moana tidak ingin Thoms meneruskan dendamnya karena suatu saat akan ada dendam-dendam lain yang muncul tanpa penyelesaian.


Degh!


Sakha tidak menyangka istrinya bisa berkata seperti itu hanya demi membela Thoms yang bukan siapa-siapanya. Akan tetapi, kembali lagi. Sakha mengerti apa yang dilakukan sang istri memang wajar, apabila Sakha yang ada di posisi itu sudah pasti akan melakukan hal yang sama.


Siapa sih, orang ingin memiliki keluarga yang berasal dari masa lalu semengerikan itu. Jikalaupun, Elice mengetahui pekerjaan suaminya bukan seorang pelaut, maka Elice juga tidak akan meneruskan rumah tangganya.


Hanya saja, Elice tidak tahu semua pekerjaan sang suami. Dia hanya tahu, suaminya adalah pria yang bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga, serta membahagiakan mereka dengan caranya yang manis. Selain itu, Elice tidak tahu bagaimana usaha suaminya bisa berada dititik kesuksesan seperti saat ini.


Ernest mendekati Thoms, lalu berusaha untuk memohon pengampunan darinya agar tidak lagi menghakimi sang ayah. Ernest dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya ke lantai, kemudian memeluk kaki Thoms.

__ADS_1


Pertama kali seumur hidupnya Ernest rela merendahkan dirinya tepat dikaki Thoms, sedangkan dulu ada beberapa orang yang mengemis semua itu sambil bersujud dikakinya demi sebuah maaf.


Semua itu seolah-olah menjadi karma untuk Ernest karena pria itu terlalu sombong dan angkuh saat berada di atas hingga tidak menerima kesalahan sekecil apa pun itu.


"Berikan kesempatan pada ayah saya, Tuan. Biarkan dia memberikan bukti yang dimiliki, jika memang itu tidak akurat. Saya serahkan pda Tuan, saya tidak akan menghentikan Tuan untuk membu*nuhnya. Saya tahu, ayah saya bersalah telah menghabisi keluarga kalian. Akan tetapi, kasih kesempatan sedikit saja padanya. Please ... Saya mohon dengan sangat, berikan sekali saja kesempatan. Saya mohon, Tuan!"


Air mata Ernest sudah mengucur deras. Dia rela bersujud demi sang ayah diberikan kesempatan untuk menyelesaikan kesalah pahaman ini.


"Kak, aku mohon berikan mereka kesempatan. Aku yakin ayah mertuaku bukanlah pembu*nuh orang tua kita. Aku lihat dari sorotan matanya ketika menjelaskan pada kita tidak da sedikit pun kebohong---"


"Kau lebih percaya sama mereka ketimbang kakakmu sendiri, begitu? Kakak, Naa. Hanya kakak satu-satunya saksi kunci mata yang telah menyaksikan bagaimana sadisnya mereka membu*nuh kefua orang tua kita. Cuman, apa yang kakak dapatkan sekarang, hahh? Apa!"


"Kamu lebih percaya dengan keluarga pembu*nuh hanya karena melihat mereka yang sekarang telah berubah menjadi malaikat baik hati. Apalagi tangisan palsu itu mampu membuatmu kasihan, sementara mereka? Apakah mereka kasihan ketika mendengar suara permohonan dari keluarga kita hingga tangisan bayi yang masih sangat membutuhkan ibunya. Tidak, Naa. Tidak!"


"Pria tua bangka itu seorang pecun*dang, dan tidak ada kata maaf bagi kakak untuk mereka. Jika mereka tidak mengizinkan Kakak melenyapkan pria tua bangka itu, maka dengan mudah Kakak akan melenyapkan semua keturunannya hanya dengan sekali tembak!"


Thoms langsung mengarahkan pistolnya kepat di kepala mereka semua yang sedang ada tepat di hadapannya dalam keadaan duduk di lantai.


Namun, saat Thoms sudah menarik pelantuknya, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang yang menghentikan semua itu sampai membuat mereka segera melihat dari mana asal sumber suara tersebut.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2