
Mereka kembali ke ruang makan membuat Moana menatap bingung ke arah sang bunda yang malah bergegas pergi ke dapur.
"Lo,loh, Bun. Bunda ngapain ke dapur buru-buru gitu?" tanya Moana, penasaran.
"Bunda mau bikin soup dulu buat kakakmu, udah kamu fokus kasih makan anak-anak dulu, itu kasihan Justin. Bunda tinggal bentar," ucap Elice langsung pergi dalam keadaan tergesa-gesa.
"Emangnya Kak Thoms kenapa, Bun?" teriak Moana, tetapi tidak mendapatkan jawaban yang pasti darinya.
"Udah, tanya Ayah aja. Bunda mau siapin soup dulu," balas Elice dengan teriakan sama seperti menantunya.
Moana sudah tidak dapat berkata apa-apa karena Elice langsung pergi begitu saja. Hanya selang beberapa detik, Moana melihat sang anak berjalan lesu tanpa semangat bersama Sakha yang ada di belakangnya.
"Loh, loh ... Ada apa ini? Kenapa wajah anakku semurung ini, Opa? Apa yang terjadi sama Kak Thoms? Terus, di mana Ernest dan Naya, apa mereka masih di kamar Kakak? tanya Moana begitu panik, apalagi ketika melihat sang anak duduk sambil melipat kedua tangan di atas meja.
"Mana mungkin Opa memarahi cucu Opa sendiri. Ya 'kan, Boy?" tanya Sakha hanya mendapatkan lirikan mata dari Justin.
Moana menoleh ke arah mertuanya membuat Sakha tersenyum kecil, "Dia cuma sedih lihat Papanya sakit, tahu sendiri betapa sayangnya Justin sama Thoms. Pasti wajah murungnya itu ya, karena dia takut kehilangan Papanya."
"Apa sih, Opa. Enggak ya, lagian juga kata dokter Papa bakalan sembuh dalam waktu tiga hari. Jadi, kenapa harus takut. Siapa suruh Papa mandi sambil tidur, kalau udah sakit ngerepotin orang."
Moana cukup tersenyum menyaksikan sang anak yang begitu gengsi mengakui kekhawatirannya di dalam hati kepada semua orang mengenai Thoms. Padahal, terlihat jelas betapa takutnya sang anak akan kehilangan Thoms yang sudah dianggap sebagai Papanya sendiri.
Sakha menjelaskan kepada Moana tentang keadaan kakaknya, bagaimana semua itu terjadi, dan sebagainya. Semua dia ceritakan dengan nada yang lembut supaya tidak membuat Moana semakin panik, gelisah bahkan berpikir macam-macam mengenai Thoms.
"Astaga, Kakak. Ada apa sih, sama dia. Kenapa bisa melakukan hal senekat itu, pasti ada yang tidak beres atau ada sesuatu yang membuat Kakak sampai melakukan hal konyol itu?"
__ADS_1
Mendengar sang mommy menebak-nebak apa yang telah terjadi dengan sang paman, semakin membuat Justin merasa tidak enak. Apalagi, wajah Moana terlihat kesal setelah mengetahui semua itu. Namun, tidak ada cara lain selain Justin terdiam dan pura-pura tidak tahu.
"Udah jangan banyak pikiran, lebih baik kamu ambilkan anakmu makan kasihan dia. Habis itu kamu antarkan makanan dulu untuk Naya di kamar kakakmu. Nanti juga paling sebentar lagi Ernest ke sini habis nganter dokter pulang di depan," ucap Sakha diangguki oleh Moana.
Moana berdiri mengambilkan sang anak makan, lalu kembali duduk dan membersihkan sisa-sisa makanan di tubuh Barra yang melepotan.
Ernest datang dengan wajah yang masih sedikit panik karena menyaksikan bagaimana kondisi Thoms ketika terakhir kali dia menemukan sang kakak ipar di kamar mandi. Moana kembali menanyakan pada sang suami sambil menyiapkan makan untuknya, selepas penjelasan diterima sama seperti Sakha. Barulah Moana menitipkan anak-anak sebentar karena ingin segera melihat sang kakak sambil membawakan makanan untuk Naya.
Sesampainya di dalam kamar, Moana melihat Naya menangis ketika menatap wajah calon suami yang begitu pucat. Moana berusaha untuk menenangkannya, dan tetap menanamkan pikiran postif apabila sang kakak akan segera sembuh. Ini hanya sebagian kecil dari rasa sakit yang pernah dirasakan di dalam hidupnya.
Di saat Naya sudah jauh lebih tenang, Moana meminta gadis itu untuk tetap makan walaupun, hanya sedikit. Setidaknya perut tidak samoai kosong sama sekali ketika dia harus menjaga sang kekasih yang butuh perhatian lebih.
"Permisi, Nyonya, Nona. Ini obat yang dokter resepkan, semua cara mengkonsumsinya sudah ada berapa kali berapa dan di minum sesusah atau sebelum makan. Semua tercatat jelas supaya tidak ada yang tertukar. Oh, ya, Nyonya, Nona, apakah kami boleh berjaga Tuan di sini?"
Melihat Naya membutuhkan waktu berdua bersama sang kekasih, Moana langsung menggelengkan kepala dan meminta mereka kembali di tempat. Apabila nanti ada sesuatu, maka orang rumah akan segera memanggil mereka seperti tadi.
"Aku pergi dulu ya, habisin makanannya. Nanti kalau Kakak udah bangun telpon saja aku, biar kami ke sini antarkan makanan untu Kakak. Bunda lagi buatkan soup, dan ini obatnya aku simpan di laci ya, biar aman."
Naya tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih kepada Moana. Selepas perginya Moana, gadis itu menatap Thoms sambil mengunyah makanan yang baru di masukan ke dalam mulut.
Tak lupa Moana kembali ke kamar Thoms hanya demi mengantarkan obat yang ada di kamar Naya supaya gadis itu tidak melupakan kesehatan sendiri. Sehabis itu adik sang kekasihnya itu keluar sambil menutup pintu.
Sungguh, Naya merasa benar-benar senang sekali dipertemukan oleh keluarga sebaik ini. Sumpah, semua yang dia kira hanya ada di dalam mimpinya. Ternyata, tidak. Apa pun yang terjadi pada hidupnya sekarang itu atas izin Tuhan dan hasil kerja keras serta kesabaran yang selama ini dia tanamkan dari lubuk hati terdalam.
Selesai makan, Naya meminum obat. Kemudian, kembali memegang tangan Thoms sesekali diletakkan tepat di pipi sebalah kiri sambil mengusap-usapnya.
__ADS_1
"Kak, bangun, yuk! Kakak udah terlalu lama tidur. Kakak harus minum obat, nanti kalau udah makan sama minun obat gapapa tidur lagi. Yang penting obatnya masuk dulu, biar bisa bereaksi untuk menurunkan suhu badan yang panas ini. Ayo, bangun, Sayang. Buka mata dulu yuk, please ...."
Tangan kanan Naya terangkat untuk mengelus pipi kanan Thoms dengan sangat lembut penuh senyuman, meskipun wajahnya sedikit terlihat lesu tetap Naya harus kuat demi sang kekasih.
Tak lama jari Thoms ditangan kiri bergerak membuat Naya sedikit terkejut, lalu tersenyum lebar melihat reaksi kedua mata Thoms mulai bergerak. Ditambah suara des*is seperti ular memambah kesan jik Thoms memang sudah bangun dari tidurnya, walaupun secara bertahap dan pelan-pelan.
Perlahan mata terbuka sedikit demi sedikit menyesuaikan cahaya kamar yang berasal dari pantulan sinar matahari. Tangan kiri Thoms langsung dilepas oleh Naya, ketika ingin memijit di area dahi untuk menghilangkan rasa pusingnya.
"A-aku di mana ini? A-aku kenapa?" tanya Thoms pada dirinya sendiri. Setelah mata terbuka, barulah dia melihat seorang gadis cantik kesayangannya yang sedang tersenyum menatap lekat manik mata dalam kondisi wajah penuh haru.
"Akhirnya Kakak sadar juga, ya ampun sumpah, bikin orang panik aja. Kakak sebenarnya ngapain sih, semalam. Terus, kenapa Kakak bisa pingsan di bawah shower begitu. Apa yang terjadi? Coba cerita sama aku, jangan dipendem sendiri. Aku ini pasangan Kakak loh, masa iya, Kakak mau menyembunyikan masalah padaku. Jika pasanga harus saling berbagi, saling mengerti kenapa harus menyembunyikan?"
Naya mencecar berbagai pertanyaan membuat Thoms perlahan merubah posisi tiduran menjadi duduk menyandar di sandaran kasur. Tangannya tetap memijit dahi bertujuan supaya sedikit mengurangi rasa pusingnya.
"Bisa 'kan, kalo nanya itu satu-satu. Kepalaku pusing banget ini, lagi juga aku gapapa. Mungkin karena aku ngantuk jadi, gak sadar ketiduran pas mandi."
Begitulah jawaban dari Thoms yang membuat Naya terdiam. Jawaban simpel, tetapi tetap saja tidak membuat Naya percaya. Dikarenakan sesibuk apa pun Thoms, dia tidak tidak pernah yang namanya merasakan rasa ngantuk sampai ketiduran seperti itu.
Di sinilah kecurigaan Naya semakin kuat bila ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang kekasih. Sama seperti Thoms, pria itu juga enggan menceritakan kejadian karena ini merupakan masalahnya dengan Justin. Dia tidak ingin keponakannya mendapat tekanan untuk menceritakan apa yang terjadi semalam.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...