Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Terungkapnya Kema*tian Tuan Dewa


__ADS_3

"Ohh, ya, masa? Kalau memang kau ingin menguasai tahta itu hanya untuk kepentinganmu, maaf. Saya tidak akan pernah memberikannya. Tahta itu, Kakek berikan padaku untuk membantu orang lemah yang dirampas haknya oleh orang tidak bertanggung jawab. Mungkin ilegal, tapi sebisa kami tetap ada timbal balik yang saling menguntungkan kedua pihak, bukan hanya satu pihak!"


"Jika kau berniat ingin menggunakan tahta itu demi kepentinganmu, maka jawabannya tetap sama. Saya akan menutup semua bisnis ini dan membuka akses baru secara legal. Dengan begitu, semua anak buahku tidak akan menghadapi bahaya yang sebesar sekarang. Saya tidak mau lagi banyak yang gugur dimedang perang hanya karena membantu seseorang yang bayarannya tidak seberapa. Lebih baik saya buat bisnis baru dengan penghasilan yang cukup, tetapi keselamatan mereka tetap terjaga."


Thoms selalu membantah apa yang Doni katakan karena semua demi kebaikan semua bodyguard yang ada di bawah kendalinya. Thoms sudah tidak ingin meneruskan semua bisnis ini, sehingga akan di kubur dalam-dalam dan tidak akan digali kembali.


Semua ini sesuai dengan perjanjian Thoms dengan kakek angkatnya. Apabila semua balas dendam bahkan, Thoms telah berhasil menemukan sang adik. Maka, sang kakek meminta agar Thoms bisa menggiring semua anak buahnya untuk kembali bekerja secara legal demi keluarga.


Namun, ketidak terimaan Doni terhadap keputusan Thoms membuat pria itu tetap kekeh untuk meminta pembagian aset secara sama rata yang dulu pernah tuannya berikan.


"Bertahun-tahun saya setia pada Tuan Dewa, bahkan saya tameng yang selalu menyelamatkan dia. Cuma, apa yang saya dapat sekarang? Tidak ada sama sekali! Sia-sia selama ini saya berjuang mat*i-mat*ian demi berada di sampingnya, terus dengan mudahnya semua aset diberikan pada anak pungut? Cihh, dasar tidak tahu diuntung!"


"Semenjak adanya kau, posisiku terus tergeser bahkan sampai detik ini! Tuan Dewa selalu mempercayaimu untuk menjadikan pengganti ketika dia tiada, sementara saya orang kepercayaannya tetap dijadikan budak. Cuma gapapa, kalau memang saya tidak mendapatkan tahta atau segala kekayaan yang Tuan Dewa miliki tidak masalah. Setidaknya saya sudah puas membu*nuhnya secara perlahan hahah ...."


Degh!


Kalimat terakhir yang dikatakan oleh Doni benar-benar sangat menusuk jantung Thoms. Dia tidak menyangka ternyata benar dugaannya, kalau kemat*ian sang kakek memang sangat misteris.


Mungkin, beberapa dokter mengatakan bahwa semua yang terjadi pada sang kakek memang murni karena penyakit. Akan tetapi, semua itu tidaklah benar. Ada sesuatu yang terjadi sama kesehatan Tuan Dewa, sehingga tubuhnya yang masih kekar, kuat, juga berwibawa itu tiba-tiba jatuh sakit.


Meskipun, Tuan Dewa memang usianya sudah tidak muda. Tetap saja dia selalu menjaga ketat kesehatannya yang diperhatikan oleh Doni, selaku tangan kana sang kakek.


Namun, apa yang terjadi sama sang kakek memanglah misteris. Awalnya Thoms percaya, tetapi setelah diselidiki dengan baik dia menemukan kejanggalan yang terjadi selang 1 bulan kema*tian sang kakek.


"Jadi, benar dugaan saya. Kalau kau sebenarnya musuh dalam selimut yang dengan teganya pembu*nuh kakek, Tuanmu sendiri!"


Suara lantang Thoms berhasil membuat jiwa iblis di dalam dirinya mulai bangkit kembali. Tatapan mata Thoms sangatlah merah dipenuhi oleh kobaran api dendam yang tidak bisa kembali diredakan.


Sementara kelimat bodyguard, terkejut bukan main. Walaupun, mereka tidak mengenal baik Tuan Dewa tetap saja mereka sekilas tahu siapa Tuan Dewa. Dikarenakan semua bawahan Thoms, 70 persen orang bawaannya, dan 30 persen anak buah asli Tuan Dewa.

__ADS_1


Beberapa dari mereka ikut terpancing emosi lantaran kema*tian Tuan mereka ternyata ada campur tangan orang kepercayaannya sendiri.


"Upps, so-sorry. Sepertinya aku keceplosan, hahah ...."


Doni tertawa keras bukan karena ada yang lucu, melainkan dia seperti merasa senang sebagian misinya telah berhasil.


"Bagaimana caranya kau bisa membu*nuh kakek tanpa menyentuhnya? Apa yang kau lakukan, sehingga semua dokter, peneliti, dan semacamnya hanya tahu kalau kakek meninggal akibat komplikasi penyakit, hahh?" bentak Thoms, suaranya sudah berubah seperti suara bass besar yang diselimuti oleh kebencian teramat besar.


"Kau mau tahu, bagaimana bisa saya membu*nuh kakekmu tanpa menyentuh? Jawabannya satu, racun!"


Jawaban yang Doni berikan benar-benar membuat Thoms tidak dapat berpikir jernih. Seakan-akan selama ini semua orang sudah dibo*dohi oleh kucing nakal satu ini yang sewaktu-waktu bisa menjadi kucing liar.


Hati Thoms benar-benar hancur karena sudah hampir berapa 8 tahun baru mengetahui tentang kema*tian sang kakek. Jelas-jelas selama ini Thoms hanya tahu jika hubungan Tuan Dewa dan Doni sangatlah baik. Thoms sampai tidak habis pikir atas apa yang Doni lakukan pada Tuan Dewa.


Rasa syok di dalam hati Thoms masih membekas. Dia tidak tahu menahu tentang masalah ini, pantas saja sang kakek pernah berpesan untuk lebih berhati-hati karena musuh sebenarnya bukan hanya orang lain, tetapi bisa keluarga sendiri, sahabat, atau orang yang sangat dipercaya.


"Bagaimana caramu membu*nuh Kakek tanpa ada satu pun orang yang mengetahuinya? Dan, racun apa yang kau gunakan untuk menghabisinya?" tanya Thoms menatap tajam bagaikan seekor Elang yang ingin menerkam mangsa dari jarak jauh.


"Jika kau ingin tahu bagaimana kisah itu terjadi, maka berikan saya imbalan dulu yang setimpal!" sahut Doni membalas tajam tatapan tersebut.


Thoms tersenyum, lalu berjalan memutari Done tanpa melepaskan pandangan mereka satu sama lain, "Kau ingin imbalan, hem?"


"Ya, saya ingin semua itu!" jawab Doni dengan lantang.


Thoms menganggukan kepala perlahan, kemudian terdengar suara teriakan dari Doni yang menyakitkan. Di mana sebuah pisau kecil berhasil menggoreskan luka cantik tepat di leher Doni.


"Arrghh ... Si*alan!" pekik Doni ketika lehernya terasa perih.


"Sstt, kalem, Tuan. Lukanya tidak dalam, cuma seperti kegigit semut aja, kok. Jadi, kuat dong, pastilah ya, haha ...."

__ADS_1


Aura tawa Thoms benar-benar menegangkan. Membuat kelima bodyguard yang ada di sana bergidik ngeri, apalagi mereka baru kembali melihat ketua mafia itu terbangun dari tidurnya semenja ada Naya.


"Sh*it! Kau lihat saja, Thoms. Saya akan pastikan, sampai mat*i pun saya tetap tidak akan membuka mulut atau menceritakan apa yang telah terjadi pada pria tua bangka itu!"


Ancaman kecil itu sama sekali tidak menggetarkan hati Thoms. Dia malah menatap remeh ke arah Doni yang sedang mencoba bermain dengannya.


"Oh, ya? Apa kau tetap akan bungkam seperti ini, bilamana saya tidak akan pernah memberikan bagian itu, hem?" tanya Thoms.


"Ya!" jawab Doni tegas.


"Baiklah, sepertinya bermain-main sedikit tidak masalah. Kau pun pasti kuatlah ya, maklum saja. Kau 'kan, mantan kepercayaan Tuan Dewa yang terkenal dengan sebutan kancil. Sebab kau, terlalu licik untuk menjebak musuhmu bahkan, melenyapkan atasan yang selama ini sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri!"


"Saya tidak akan takut! Sampai mat*i pun saya tidak akan pernah menyerah karena apa yang kau dapatkan itu semua milik saya! Saya yang sudah susah payah membun*uhnya, tapi kau yang mendapatkan hasilnya. Dasar tidak tahu malu!"


"Oh, begitukah, Tuan Doni. Saya jadi malu, maaf ya, kalau saya sudah merebut semua hakmu. Sorry!"


"Aarrghhh ...."


Pisau kecil yang ada di tangan Thoms mulai menunjukkan kehebatan untuk melukiskan luka cantik di pipi Doni sampai cairan merah perlahan menetes. Thoms cukup salut dengan kegigihan Doni yang terus percaya pada pendirian, jika dia ingin semua harta Tuan Dewa jatuh di tangannya bukan di tangan Thoms, cucu angkat.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_1


__ADS_2