Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Dendam Ernest Pada Moana


__ADS_3

"Apa maksudmu mengatakan itu padaku, hahh? Seharusnya aku yang menceraikan, bukan dirimu!"


"Jangan mentang-mentang aku diam, aku tidak berani menceraikanmu! Aku hanya terpaksa bertahan demi permintaan kedua orang tuaku. Mereka tidak ingin hubungan kita sampai berakhir, walaupun di dalam lubuk hatiku, aku sangat-sangat sakit ketika mengetahui tentang kebohongan kalian!"


Ernest menatap Moana, lalu beralih ke Sakha. Kemudian tangannya langsung menunjuk ke arah istrinya dengan nada yang cukup tegas dan juga penuh penekanan.


"Ayah lihat sendiri, 'kan? Di sini yang ingin mengakhiri hubungan itu dia, bukan aku! Jadi, buat apa Ayah sama Bunda rela mempertahankan menantu yang tidak tahu diri itu!"


"Wanita kaya dia itu banyak di pinggir jalan, Yah! Apa bila dia sudah mendapatkan apa yang diinginkan, maka dengan mudahnya dia akan meninggalkan kita. Dan, setelah berpisah denganku, dia pasti akan kembali pada tujuan awalnya, yaitu bersama Felix! Pria yang sudah merencanakan semua kelicikan ini bersamanya!"


"Namun, tidak semudah itu lepas dariku! Jika aku mengakhiri semua ini, sama aja aku bo*doh karena telah membiarkanmu hidup bahagia, sementara diriku menderita! Jadi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu atau membiarkanmu hidup bahagia bersama Felix!"


"Aku akan membalas semua rasa sakit yang sudah kalian berikan untukku, bahkan jauh lebih sakit. Supaya, kalian bisa membayar lunas semua yang sudah aku rasakan!"


Dendam yang Ernest miliki pada Moana bukan karena rasa kecewa saja, tetapi rasa sayang yang tidak bisa dia ungkapkan.


Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ernest tidak rela bila harus kehilangan wanita yang teramat dia cintai. Sehingga, cara jitu untuk menahan Moana hanya dengan memberikan ancaman di luar ekspetasinya sendiri.


Sebenernya, bukan ini yang Ernest inginkan. Dia hanya berniat untuk menakuti Moana, hanya saja mulutnya malah berbicara menggunakan kata-kata yang cukup menyakitkan.

__ADS_1


Bagi Ernest mungkin kata-katanya itu terdengar biasa, berbeda sama Moana dan Sakha. Mereka berdua menanggapi kalau kata-kata itu sangat menusuk di dalam hatinya.


Sakha tidak menyangka, kalau anaknya yang merupakan pria cuek dan juga dingin terhadap sekitarnya, bisa memiliki hati sejahat itu. Padahal setahu Sakha, Ernest memiliki hati yang tidak sebeku sifatnya.


Namun, akibat rasa kecewa yang dia rasakan lantaran di jebak membuat dia lupa akan kebenaran yang semestinya. Seolah-olah mata hatinya sudah tertutup dengan rasa kecewanya, jadi dia tidak akan pernah mendengar apa pun selain dirinya sendiri.


"Dari pada kau capek-capek menghukumku, lebih baik kau ceraikan aku dan biarkan aku hidup tanpa sedikit pun uang darimu. Kau boleh menutup semua lowongan pekerjaan di dunia ini dengan kekuasaanmu. Maka, itu sudah cukup menghukumku dengan rasa sakit yang ada di dalam hatimu karena kehadiranku dan juga anakku!"


Mata Moana mulai berkaca-kaca ketika hatinya sudah benar-benar hancur, ketika dia harus bertahan sama suami yang begitu di cintainya dengan cara seperti ini.


"Sudah cukup kata-katamu membuat istrimu sakit, Ernest! Ayah, tidak menyangka kamu bisa berkata seperti ini sama orang yang kamu cintai!" seru Sakha, menatap tajam penuh arti kepada anaknya sendiri.


"Oh, tentu tidak! Aku bukan pria yang bod*doh, sepertimu! Aku akan mencari tahu dulu kebenaran yang ada, apakah istriku terlibat atau tidak. Kalau pun terlibat, apa tujuan awalnya dan jga tujuan akhirnya. Jika, niatnya ingin menghancurkanku maka aku baru bisa mengatakan apa yang akan kau katakan. Tapi, kalau tidak. Maka aku akan mencoba menerima semua takdir yang sudah Tuhan gariskan kepadaku dan berusaha memperbaikinya sebaik mungkin. Setidaknya aku tidak akan kehilangan atau menyakiti orang yang sangat aku cintai"


Penjelasan ataupun nasihat yang Sakha berikan, mampu membungkam mulut Ernest. Dia yang awalnya banyak melontarkan kata-kata pedas, kini terdiam mematung tanpa berani membalas perkataan Ayahnya.


Moana sendiri berusaha untuk menahan air matanya agar tida terlihat lemah di depan suaminya, karena semakin dia terlihat lemah maka semakin leluasa bagi Ernest untuk terus menyakitinya.


"Sudah, Ayah. Percuma menasihati orang yang memiliki hati batu. Dia tidak akan pernah mendengarkan seseorang, kecuali egonya sendiri!"

__ADS_1


"Jika kau ingin membalas semua rasa sakit hatimu padaku. Silakkan! Kita lihat saja nanti, aku atau kau yang akan menyerah!"


"Namun, ingat! Apa bila nanti kau telah menyadari semua perbuatanmu, semoga di saat itu kamu belum kehilangan semuanya!"


Moana tersenyum kecil, lalu berjalan melewati Ernest yang masih terdiam. Langkah kakinya terus berjalan mencari kotak obat untuk mengganti perban anaknya.


Sakha pun hanya menggelengkan kepalanya, saat melihat anaknya sudah bukanlah Ernest yang dia kenal. Rasa kecewa dan keegoisannya, berhasil merubah Ernest menjadi pria yang cukup kejam.


Sakha pergi lebih dulu kembali melihat cucunya, begitu juga Moana yang menyusul di belakangnya. Selepas perginya mereka berdua, Ernest langsung menutup keras pintu hingga membuat mereka semua menjadi terkejut.


Sama halnya, Justin. Dia terlihat begitu ketakutan ketika mendengar kemarahan Ayahnya sambil memeluk Elice. Di mana Elice selalu berusaha menenangkan Justin berulang kali yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kemarahan Ernest.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2